ASAM LAMBUNG (Kisah Anak Perempuan Pertama )

aisyah nur hanifah
Chapter #27

APAKAH AKU HARUS PULANG, AYAH?


"Ayah..."

Pelangi menggenggam tangan ayahnya semakin erat.

"Apakah aku harus pulang?"

Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu.

Ayah tidak langsung menjawab.

Pria itu hanya tersenyum.

Namun senyum itu terasa berbeda.

Lebih sedih.

Lebih berat.

Seolah ada sesuatu yang selama ini ditahannya.

Angin sore berembus pelan.

Membawa aroma tanah yang mengingatkan Pelangi pada rumah.

Ayah mengusap rambut putrinya.

"Nak."

"Iya?"

"Masih banyak orang yang menunggumu."

Jantung Pelangi berdegup pelan.

"Ayah juga menunggumu."

"Tapi tempat kita berbeda sekarang."

Air mata mulai menggenang di mata Pelangi.

Karena akhirnya ia mengerti.

Sedikit demi sedikit.

Tempat ini bukan mimpi.

Bukan khayalan.

Dan mungkin...

Bukan tempat yang seharusnya ia tinggali terlalu lama.

Pelangi menunduk.

"Aku capek, Yah."

"Ayah tahu."

"Aku takut pulang."

"Ayah tahu."

"Aku takut menghadapi semuanya lagi."

Ayah tersenyum.

"Kamu nggak harus menghadapi semuanya sendirian lagi."

Pelangi menangis.

"Kalau aku pulang..."

"Apakah semuanya akan baik-baik saja?"

Ayah menggeleng perlahan.

"Tidak."

Pelangi terdiam.

Karena jawaban itu sangat jujur.

"Masalah tetap ada."

"Luka tetap ada."

"Kesedihan tetap ada."

"Tapi sekarang kamu tahu satu hal."

"Apa?"

Ayah menyentuh dada putrinya.

"Kamu dicintai."

Tangis Pelangi pecah.

Dan untuk pertama kalinya.

Ia percaya.

Benar-benar percaya.

Bahwa dirinya dicintai.

Bukan karena prestasinya.

Bukan karena pengorbanannya.

Bukan karena ia anak pertama.

Melainkan karena dirinya adalah Pelangi.

Anak perempuan mereka.

Anak yang sejak lahir selalu mereka tunggu.

Anak yang selalu mereka banggakan.

Meski sering gagal mereka pahami.

Ayah kemudian berdiri.

Dan entah kenapa.

Jantung Pelangi tiba-tiba terasa sesak.

"Ayah?"

Pria itu tersenyum.

Senyum yang sama seperti ketika mengantarnya masuk SD.

Senyum yang sama seperti ketika mengajarinya naik sepeda.

Senyum yang sama seperti ketika berkata,

"Nggak apa-apa kalau jatuh. Kita coba lagi."

"Ayah harus pergi."

Tidak.

Pelangi langsung berdiri.

Tidak.

Tidak lagi.

Jangan lagi.

"Ayah..."

Air matanya jatuh semakin deras.

"Tolong jangan pergi."

Pria itu memeluknya.

Pelukan hangat.

Lihat selengkapnya