ASAM LAMBUNG (Kisah Anak Perempuan Pertama )

aisyah nur hanifah
Chapter #28

KAK, AKU ADIK YANG GAGAL

Ruang rawat itu masih dipenuhi tangis.

Tangis yang selama dua minggu tertahan.

Tangis yang selama ini tidak pernah menemukan tempat untuk keluar.

Pelangi masih menggenggam tangan ibunya.

Matanya terasa berat.

Tubuhnya lemah.

Namun hatinya perlahan terasa lebih ringan.

Pintu kamar terbuka perlahan.

Seseorang berdiri di sana.

Tidak masuk.

Tidak bergerak.

Hanya berdiri membeku.

Matanya merah.

Wajahnya pucat.

Tubuhnya jauh lebih kurus dibanding terakhir kali Pelangi melihatnya.

Langit.

Adiknya.

Anak yang selama ini sering membuatnya marah.

Sering membuatnya kecewa.

Sering membuatnya khawatir.

Namun saat ini.

Langit hanya terlihat seperti seorang anak kecil yang ketakutan.

"Kak..."

Suara itu bergetar.

Pelangi menoleh.

Untuk beberapa detik.

Mereka hanya saling memandang.

Lalu tiba-tiba.

Langit berlari.

Dan memeluk kakaknya erat.

Sangat erat.

Sampai bahunya bergetar karena tangis.

"Kak..."

Tangisnya pecah.

"Kak..."

"Aku minta maaf..."

Pelangi terdiam.

Untuk pertama kalinya.

Ia mendengar adiknya menangis seperti ini.

Bukan karena kalah lomba.

Bukan karena dimarahi.

Bukan karena masalah sekolah.

Melainkan karena dirinya.

"Aku minta maaf..."

Langit terus mengulanginya.

Tangannya menggenggam erat selimut rumah sakit.

"Aku salah."

"Aku selalu salah."

"Kakak sakit gara-gara aku."

Pelangi menggeleng pelan.

"Tidak."

"Iya!"

Tangis Langit semakin keras.

"Selama ini aku selalu merepotkan Kakak."

"Aku selalu bikin masalah."

"Aku selalu bikin Kakak sedih."

"Aku selalu bikin Kakak capek."

Suaranya pecah.

Dan untuk pertama kalinya.

Pelangi melihat semua beban yang selama ini dipikul adiknya.

Beban yang tidak pernah ia ceritakan.

"Aku adik yang gagal, Kak."

Kalimat itu membuat dada Pelangi sesak.

Karena tiba-tiba.

Ia melihat dirinya sendiri di dalam diri Langit.

Mereka ternyata sama.

Sama-sama merasa gagal.

Sama-sama merasa menjadi beban.

Sama-sama merasa tidak cukup baik.

Hanya luka mereka yang berbeda.

Langit menunduk.

"Aku nggak bisa sekolah kayak Kakak."

"Aku nggak pinter."

"Aku nggak bisa bikin Ayah bangga."

"Aku nggak bisa bikin Ibu tenang."

Lihat selengkapnya