Kabar itu menyebar lebih cepat daripada yang dibayangkan siapa pun.
Pelangi sadar.
Dua kata sederhana.
Namun bagi orang-orang yang mencintainya, dua kata itu seperti keajaiban.
Seperti doa yang akhirnya dijawab.
Seperti matahari yang kembali muncul setelah hujan panjang.
Dan salah satu orang pertama yang menerima kabar itu adalah Aksara.
Saat itu ia sedang berada di ruang rapat.
Di hadapannya duduk beberapa klien besar.
Presentasi yang ia bawakan adalah proyek terakhir yang sempat disentuh Pelangi sebelum koma.
Proyek yang selama dua minggu terakhir ia lanjutkan siang dan malam.
Proyek yang dikerjakannya sambil menangis diam-diam.
Karena setiap halaman proposal mengingatkannya pada sahabatnya.
Pada perempuan keras kepala yang selalu berkata,
"Aku bisa kok."
Padahal sebenarnya tidak baik-baik saja.
Aksara berdiri di depan layar presentasi.
Tangannya sedikit gemetar.
Namun suaranya tetap profesional.
Ia menjelaskan tren.
Menjelaskan analisis pasar.
Menjelaskan strategi yang sebelumnya sudah disusun Pelangi.
Sampai akhirnya presentasi selesai.
Ruangan hening beberapa detik.
Lalu tepuk tangan terdengar.
Salah satu klien tersenyum lebar.
"Ini salah satu proposal terbaik yang pernah kami terima."
Aksara membeku.
Kemudian klien lainnya ikut mengangguk.
"Kami sangat tertarik bekerja sama."
"Kami setuju."
"Kami ingin melanjutkan proyek ini."
Jantung Aksara berdebar.
Air matanya hampir jatuh.
Karena dalam kepalanya hanya ada satu nama.
Pelangi.
Ini mimpimu.
Ini hasil kerja kerasmu.
Dan tepat saat itulah.
Ponselnya bergetar.
Sebuah pesan masuk.
Dari ibu Pelangi.
"Pelangi sudah sadar."
Dunia seolah berhenti.
Aksara menatap layar ponselnya.
Berulang kali.
Memastikan dirinya tidak salah baca.
Lalu air matanya jatuh.
Benar-benar jatuh.
Di tengah ruang rapat.
Di tengah kebahagiaan yang selama ini ia tunggu.
Sahabatnya hidup.
Sahabatnya kembali.
Tanpa pikir panjang.
Ia langsung menelepon seseorang.
"Raka!"
Suara di seberang langsung panik.
"Kenapa? Kamu kenapa?"
"Aku nggak kenapa."
"Terus kenapa nangis?"
Aksara tertawa dan menangis bersamaan.
"Pelangi sadar."
Di ujung telepon.
Hening.
Lalu terdengar napas lega.
Sangat lega.
"Serius?"
"Iya."
"Ya Tuhan..."
Raka langsung menutup matanya.