ASAM LAMBUNG (Kisah Anak Perempuan Pertama )

aisyah nur hanifah
Chapter #30

DIA TIDAK PERNAH PERGI

Ruangan itu mendadak terasa sunyi.

Bukan karena tidak ada orang.

Justru karena terlalu banyak perasaan yang memenuhi udara.

Nenek.

Ibu.

Langit.

Aksara.

Raka.

Para perawat.

Semua ada di sana.

Namun saat Bumi masuk ke dalam ruangan, entah mengapa yang terlihat oleh Pelangi hanya dirinya.

Pria itu berdiri di dekat pintu.

Masih mengenakan jas dokter.

Masih terlihat lelah.

Masih terlihat seperti seseorang yang belum beristirahat dengan benar selama berhari-hari.

Dan untuk pertama kalinya.

Pelangi melihat sisi lain dari Bumi Ariksa.

Bukan dokter.

Bukan pria yang selalu tenang.

Bukan pria yang selalu bisa memberikan solusi.

Melainkan seseorang yang juga bisa takut kehilangan.

Bumi tersenyum.

"Selamat pagi."

Padahal saat itu sudah menjelang sore.

Pelangi tertawa kecil.

Suara tawanya masih lemah.

"Ini sore."

Bumi mengangguk.

"Iya."

"Dokter saraf ternyata nggak bisa baca jam."

Beberapa orang tertawa pelan.

Suasana yang tadinya penuh tangis perlahan mulai mencair.

Namun semua orang juga tahu.

Ada banyak hal yang belum terucap di antara mereka.

Sangat banyak.

Bumi melangkah mendekat.

Perlahan.

Seakan takut langkahnya terlalu keras dan membuat semua ini menghilang.

Sampai akhirnya ia berdiri di samping ranjang Pelangi.

Dekat.

Sangat dekat.

Namun tetap menjaga jarak.

Karena meskipun perasaannya begitu besar.

Ia tidak pernah ingin membuat Pelangi merasa tidak nyaman.

"Bagaimana perasaannya?"

Pelangi mengangkat bahu pelan.

"Masih hidup."

Bumi tertawa kecil.

"Syukurlah."

Jawaban itu sederhana.

Namun membuat mata Bumi kembali memerah.

Karena ada begitu banyak malam ketika ia takut tidak akan pernah mendengar suara itu lagi.

Tidak akan pernah mendengar candaan itu lagi.

Tidak akan pernah melihat senyum itu lagi.

Dan sekarang.

Pelangi ada di hadapannya.

Hidup.

Nyata.

Langit yang sedari tadi memperhatikan tiba-tiba berdeham.

"Kak."

"Hm?"

"Ada yang mau aku kasih tahu."

Pelangi menoleh.

Langit tersenyum jahil.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama.

Ada sedikit cahaya kembali di wajahnya.

"Kalau bukan karena Dokter Bumi..."

"Bisa jadi aku sekarang masih dimarahin Ibu tiap hari."

"Ih, Langit."

Ibunya langsung memprotes.

Namun Langit tertawa.

Lihat selengkapnya