ASAM LAMBUNG (Kisah Anak Perempuan Pertama )

aisyah nur hanifah
Chapter #31

BERWARNA

JAKARTA SORE ITU SEDANG BERSAHABAT

Langit yang biasanya tertutup kabut tipis dan deretan gedung pencakar langit, hari itu tampak begitu cerah. Matahari menggantung malas di ufuk barat, menumpahkan warna keemasan yang memantul pada jendela-jendela gedung perkantoran.

Di lantai dua puluh tiga sebuah gedung bisnis di kawasan Sudirman, Pelangi tersenyum kecil saat menutup laptopnya.

"Presentasinya sukses, Mbak."

Salah satu staf timnya menatapnya penuh kagum.

Pelangi hanya mengangguk ringan.

"Dikerjakan sama-sama."

Kalimat itu sederhana, tetapi bagi Pelangi, kalimat tersebut adalah bukti bahwa dirinya benar-benar telah kembali.

Kembali menjadi perempuan yang mampu berdiri tanpa harus bergantung pada siapa pun.

Kembali menjadi perempuan yang percaya bahwa dirinya berharga.

Setelah sekian lama hidup dalam bayang-bayang masa lalu, kini ia mulai menikmati hidupnya lagi.

Bukan karena semua luka telah hilang.

Tetapi karena ia akhirnya belajar hidup berdampingan dengan luka itu.

Dan itu jauh lebih sulit.

Namun juga jauh lebih indah.

Perubahan terbesar dalam hidup Pelangi terjadi beberapa bulan terakhir.

Ibunya memilih pindah ke Jakarta.

Setelah bertahun-tahun tinggal sendiri di kampung halaman, perempuan yang selama ini menjadi alasan Pelangi terus bertahan akhirnya memutuskan tinggal bersama putrinya.

Apartemen kecil yang dulu terasa sepi kini dipenuhi suara-suara hangat.

Suara ibu yang memasak di dapur.

Suara televisi setiap pagi.

Suara pertanyaan sederhana yang selalu membuat hati Pelangi tenang.

"Sudah makan belum?"

"Pulang jam berapa?"

"Capek ya hari ini?"

Hal-hal yang dulu sering ia rindukan.

Malam itu Pelangi membuka pintu apartemen dan menemukan ibunya sedang menyiram tanaman kecil di balkon.

"Kamu pulang?"

"Iya, Bu."

Ibunya menoleh.

Wajah perempuan itu kini terlihat jauh lebih sehat.

"Kamu kelihatan bahagia."

Pelangi tersenyum.

"Memang bahagia."

Ibunya ikut tersenyum.

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Pelangi bisa mengatakan kalimat itu tanpa harus berpura-pura.

Di sisi lain kota.

Langit

Langit adiknya juga sedang memperjuangkan mimpinya.

Laki-laki itu kini bekerja di Bekasi.

Pekerjaannya tidak mudah.

Tetapi setiap akhir pekan, ia selalu meluangkan waktu untuk berlatih motor.

Mimpi yang dulu sempat ia kubur kini perlahan kembali ia hidupkan.

Seleksi pembalap tingkat nasional tinggal beberapa bulan lagi.

Setiap sore ia berada di lintasan.

Berpeluh.

Terjatuh.

Bangkit lagi.

Dan mencoba lagi.

Karena kali ini ia tidak ingin menyesal.

Tidak lagi.

Pelangi sering datang diam-diam melihat latihan adiknya.

Dari tribun.

Dari kejauhan.

Dan setiap kali melihat Langit melesat di atas motornya, Pelangi selalu merasa bangga.

Sangat bangga.

Karena adiknya akhirnya menemukan jalannya sendiri.

SEMENTARA ITU

Ada seseorang yang selalu berada di sisi Pelangi.

Bumi.

Entah sejak kapan.

Kehadiran laki-laki itu menjadi sesuatu yang begitu alami.

Seperti pagi yang selalu datang.

Seperti hujan yang selalu menemukan jalannya menuju bumi.

Seperti rumah.

Mereka sering menghabiskan waktu bersama.

Makan malam sepulang kerja.

Berjalan kaki di taman kota.

Lihat selengkapnya