ASAM LAMBUNG (Kisah Anak Perempuan Pertama )

aisyah nur hanifah
Chapter #32

RASA TAKUT YANG BERNAMA KEHILANGAN

MALAM YANG MENDUNG

Malam semakin larut setelah acara lamaran Aksara dan Raka berakhir.

Bumi

Lampu-lampu kota Jakarta masih menyala seperti gugusan bintang yang jatuh ke bumi. Tawa para tamu perlahan menghilang, berganti dengan jalanan yang mulai lengang.

Namun tidak dengan pikiran Bumi.

Sepanjang perjalanan pulang, bayangan Raka yang berlutut di hadapan Aksara terus berputar di kepalanya.

Bukan karena iri.

Sama sekali bukan.

Melainkan karena untuk pertama kalinya, ia benar-benar bertanya pada dirinya sendiri.

Apa yang sebenarnya sedang aku tunggu?

Tangannya menggenggam kemudi lebih erat.

Ia memiliki hampir semua hal yang selama ini diimpikan banyak orang.

Karier yang mapan sebagai dokter neurologi.

Kehidupan yang berkecukupan.

Rumah yang nyaman.

Keluarga yang hangat.

Orang tua yang selalu mendukung setiap langkahnya.

Bahkan mamanya berkali-kali menggodanya.

"Kalau Mama sih setuju banget sama Pelangi."

"Cantik, baik, pintar."

"Cocok jadi menantu Mama."

"Kapan kamu serius?"

Awalnya Bumi hanya tertawa.

Namun kini, setiap kalimat itu justru membuat dadanya terasa sesak.

Karena masalahnya bukan dirinya.

Masalahnya adalah...

Pelangi.

Apakah perempuan itu benar-benar melihatnya?

Bukan sebagai sahabat.

Bukan sebagai tempat pulang sementara.

Tetapi sebagai laki-laki yang ingin menghabiskan sisa hidup bersamanya.

Itulah yang membuatnya takut.

Sangat takut.

Karena setelah semua yang telah dilalui Pelangi, Bumi tidak pernah ingin menjadi alasan perempuan itu kembali terluka.

Malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Bumi memutuskan pulang ke rumah orang tuanya.

Rumah besar yang berada di kawasan Jakarta Selatan itu masih sama.

Masih hangat.

Masih dipenuhi aroma melati yang selalu ditanam mamanya.

Begitu memasuki rumah, ia mendapati kedua orang tuanya sudah tertidur.

Hanya lampu ruang keluarga yang masih menyala redup.

Bumi menaiki tangga perlahan.

Langkahnya terhenti di depan sebuah pintu putih di ujung lorong.

Pintu yang sudah lama tidak ia buka.

Sangat lama.

Tangannya terangkat perlahan.

Lalu memutar gagang pintu.

KLIK

Ruangan itu masih sama.

Seolah waktu tidak pernah berjalan.

Rak buku.

Meja belajar.

Foto-foto lama.

Boneka kecil di atas lemari.

Dan tirai krem yang bergerak pelan tertiup angin malam.

Kamar Senja.

Kakak perempuannya.

Perempuan yang pernah menjadi matahari dalam keluarga mereka.

Perempuan yang kini hanya tinggal dalam kenangan.

Bumi menutup pintu perlahan.

Lalu duduk di tepi tempat tidur.

Untuk beberapa saat ia hanya diam.

Memandangi bingkai foto yang berdiri di atas nakas.

Foto Senja yang sedang tersenyum.

Senyum yang selalu membuat rumah terasa lebih hangat.

Bumi mengembuskan napas panjang.

"Halo, Kak."

Suara itu terdengar begitu pelan.

Begitu rapuh.

Seperti seorang adik yang kembali mencari tempat bercerita.

"Aku datang lagi."

Lihat selengkapnya