ASAM LAMBUNG (Kisah Anak Perempuan Pertama )

aisyah nur hanifah
Chapter #35

RAHASIA ITU BERNAMA CINTA

PAGI HARI

Pagi di rumah keluarga Ariksa selalu dimulai dengan aroma kopi dan suara mamanya yang tidak pernah bisa diam lebih dari lima menit.

Seperti biasa.

Rumah besar itu sudah ramai sejak pukul enam pagi.

Pak Arman sedang membaca koran di meja makan.

Sementara Bu Ratih sibuk mengatur beberapa vas bunga baru yang semalam dibeli karena alasan yang bahkan tidak ia ingat lagi.

"Papa, bunga yang warna putih lebih bagus di ruang tamu atau ruang keluarga?"

Pak Arman melipat korannya.

"Terserah Mama."

"Kalau terserah Mama berarti Mama beli lagi nanti."

"Itu juga terserah Mama."

Bu Ratih mendengus.

Lalu tertawa sendiri.

Rumah itu memang selalu seperti itu.

Hangat.

Penuh percakapan sederhana.

Penuh cinta yang tidak perlu diumumkan kepada siapa pun.

Sementara itu, di lantai atas.

Bumi baru saja berangkat ke rumah sakit.

Ia mendapatkan jadwal operasi sejak pagi sehingga terburu-buru meninggalkan rumah.

Namun ada satu hal yang ia lupakan.

Pintu kamarnya belum dikunci.

Kesalahan kecil.

Yang beberapa jam kemudian akan menjadi awal dari kekacauan besar.

Bu Ratih sebenarnya tidak berniat masuk ke kamar putranya.

Ia hanya ingin meletakkan pakaian yang sudah selesai disetrika.

Itu saja.

Tidak lebih.

Namun saat membuka lemari pakaian untuk menyimpan kemeja Bumi, matanya menangkap sebuah kotak kayu kecil di sudut rak paling atas.

Kotak tua berwarna cokelat gelap.

Tidak terlalu besar.

Tetapi tampak sangat terawat.

Bu Ratih mengernyit.

"Apa ini?"

Rasa penasaran seorang ibu adalah sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan logika.

Dan sayangnya.

Rasa penasaran itu sering kali lebih kuat daripada niat baik.

Bu Ratih mengambil kursi kecil.

Naik perlahan.

Lalu menurunkan kotak tersebut.

Awalnya ia hanya ingin melihat.

Benar-benar hanya melihat.

Namun saat menyadari kotak itu tidak terkunci, jemarinya mulai membuka penutupnya.

Klik.

Dan dunia seolah berhenti beberapa detik.

"Masya Allah"

Bu Ratih membelalakkan mata.

Isi kotak itu bukan dokumen penting.

Bukan sertifikat.

Bukan uang.

Melainkan...

Foto.

Banyak sekali foto.

Foto seorang perempuan.

Perempuan yang sangat ia kenal.

Pelangi.

Bu Ratih duduk perlahan di tepi tempat tidur.

Satu per satu foto itu ia ambil.

Ada foto Pelangi sedang duduk membaca buku di sebuah kafe.

Foto saat tertawa bersama Aksara.

Foto saat memegang payung ketika hujan.

Foto saat sedang berjalan di taman.

Bahkan ada foto yang tampaknya diambil dari kejauhan ketika Pelangi sedang menatap langit sore.

Bukan foto hasil curian yang menyeramkan.

Tidak.

Lebih seperti foto-foto seseorang yang diam-diam mengagumi.

Lihat selengkapnya