ASAM LAMBUNG (Kisah Anak Perempuan Pertama )

aisyah nur hanifah
Chapter #36

NAMA YANG SELALU PULANG

Ada beberapa hal yang baru disadari seseorang ketika semuanya mulai terasa berbeda.

Dan bagi Pelangi, perasaan itu datang perlahan.

Sangat perlahan.

Seperti hujan pertama setelah musim kemarau yang panjang.

Tidak tiba-tiba.

Tidak menggelegar.

Namun cukup untuk membuat seluruh dunia berubah.

Seminggu setelah ulang tahun Aksara, kehidupan kembali berjalan seperti biasa.

Pelangi kembali tenggelam dalam pekerjaannya.

Rapat demi rapat.

Presentasi.

Target perusahaan.

Klien yang datang silih berganti.

Hari-harinya padat.

Melelahkan.

Tetapi menyenangkan.

Karena untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia benar-benar menikmati hidupnya.

Bukan sekadar bertahan.

Melainkan hidup.

Dan di tengah semua itu, ada satu hal yang tidak pernah berubah.

Bumi

PAGI YANG CERAH

Pelangi

Pagi itu Pelangi baru saja menyelesaikan presentasi penting dengan salah satu klien terbesar perusahaan.

Begitu keluar dari ruang rapat, seluruh tim langsung bersorak.

"Berhasil!"

"Deal!"

"Kita dapat kontraknya!"

Semua orang bertepuk tangan.

Pelangi tertawa bahagia.

Bahkan salah satu rekan kerjanya sampai memeluknya karena terlalu senang.

Dan saat itu juga.

Tanpa berpikir.

Tanpa ragu.

Pelangi mengambil ponselnya.

Membuka daftar kontak.

Mencari satu nama "Bumi"

Jarinya sudah berada di tombol panggil.

Namun ia tiba-tiba berhenti.

Keningnya berkerut.

Kenapa harus Bumi?

Kenapa bukan Aksara?

Kenapa bukan ibunya?

Kenapa bukan Langit?

Kenapa justru Bumi yang pertama kali muncul di pikirannya?

Pelangi menatap layar ponsel beberapa detik.

Lalu tersenyum kecil.

Mungkin karena mereka memang dekat.

Hanya itu.

Pasti hanya itu.

Namun jauh di dalam hatinya.

Ada sesuatu yang mulai bertanya.

Benarkah hanya itu?

SORE HARI

BUMI

Bumi sedang berada di rumah sakit ketika ponselnya bergetar.

Nama Pelangi muncul di layar.

Dan entah kenapa.

Senyum otomatis muncul di wajahnya.

Hal yang langsung disadari oleh salah Raka, sahabat dekatnya yang merupakan dokter anak di rumah sakit yang sama tempat Bumi kerja.

"Wah."

Bumi menoleh.

"Apa?"

Dokter muda itu terkekeh.

"Enggak pernah lihat Dokter Bumi senyum semanis itu."

Bumi langsung memasukkan ponselnya ke saku jas putih.

"Aneh."

"Lagian siapa yang nelepon?"

"Tidak penting."

"Oh berarti penting."

Bumi menghela napas.

Lalu berjalan pergi sambil menyembunyikan senyum yang semakin jelas terlihat

MALAM YANG TENANG

Malam itu mereka bertemu di sebuah restoran kecil favorit mereka.

Tempat yang tidak terlalu mewah.

Tetapi nyaman.

Lihat selengkapnya