Ada hari-hari yang mengubah hidup seseorang.
Bukan karena direncanakan.
Bukan karena diinginkan.
Tetapi karena takdir memilih hari itu untuk menguji seberapa besar cinta yang sanggup disimpan di dalam hati.
Dan bagi Bumi Ariksa...
Hari itu adalah ulang tahunnya yang ke tiga puluh satu
Pagi itu Bumi bangun dengan perasaan yang berbeda.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun.
Ia tidak lagi ingin bersembunyi.
Tidak lagi ingin menjadi laki-laki yang hanya mengagumi dari jauh.
Tidak lagi ingin mencintai dalam diam.
Hari ini.
Ia akan mengatakan semuanya kepada Pelangi.
Apa pun jawabannya.
Apa pun risikonya.
Ia sudah siap.
Atau setidaknya mencoba siap.
Beberapa hari sebelumnya, Raka dan Aksara hampir memaksanya untuk segera bertindak.
Mereka sedang makan malam bersama ketika Raka tiba-tiba meletakkan sendoknya.
"Kalau lo enggak ngomong tahun ini, gue yang ngomong ke Pelangi."
Bumi langsung tersedak.
"Raka!"
Aksara tertawa sampai hampir menjatuhkan minumannya.
"Aku serius, Kak Bumi."
Bumi menggeleng pasrah.
"Kalian berdua kenapa sih?"
Karena yang menjawab justru Aksara.
Dengan senyum yang begitu yakin.
"Karena selama sepuluh tahun aku kenal Pelangi..."
Bumi menatapnya.
"...aku enggak pernah dengar dia cerita laki-laki lain sebanyak dia cerita tentang Kak Bumi."
Jantungnya berhenti sesaat.
Aksara melanjutkan.
"Kalau dia bahagia, dia cerita Kak Bumi."
"Kalau dia sedih, dia cerita Kak Bumi."
"Kalau dia bingung, dia cari Kak Bumi."
"Kalau dia sakit, nama pertama yang keluar juga Kak Bumi."
Mata Bumi perlahan membesar.
Dan untuk pertama kalinya.
Harapan yang selama ini hanya berupa bara kecil mulai tumbuh menjadi api
Karena itulah hari ini ia memilih sebuah tempat yang tidak diketahui siapa pun.
Tempat yang selama ini menjadi rahasia terbesar dalam hidupnya.
Sebuah toko buku tua di sudut Jakarta.
Toko yang kini hampir tidak pernah dikunjungi orang.
Rak-rak kayu tua masih berdiri.
Aroma kertas usang masih memenuhi udara.
Dan tepat di antara lorong buku sastra itulah...
Sepuluh tahun lalu.
Bumi pertama kali melihat Pelangi.
Saat itu Pelangi masih mahasiswa.
Memakai kemeja putih sederhana.
Rambut panjangnya diikat asal.
Sedang duduk di lantai membaca novel bekas dengan ekspresi yang begitu serius.
Bumi masih mengingat semuanya.
Bahkan sampai hari ini.
Seolah waktu tidak pernah menghapus satu detik pun dari ingatannya
Pukul empat sore.
Ia sudah berada di sana.
Sendirian.
Memegang sebuah kotak kayu tua.
Kotak yang selama ini ia simpan.
Kotak yang berisi foto-foto.
Surat-surat.
Dan sebuah cincin.
Bukan cincin mewah.
Bukan berlian besar.
Tetapi cincin yang dipilihnya sendiri.
Karena ia ingin melamar Pelangi.
Bukan hari ini juga menikah.
Tetapi memintanya berjalan bersama.
Menuju masa depan yang sama.
Bumi berkali-kali melihat jam tangannya.
Jantungnya berdegup semakin cepat.
Telapak tangannya berkeringat.
Lucunya.
Ia pernah melakukan operasi otak selama dua belas jam tanpa merasa segugup ini.
Namun menunggu satu perempuan.