ASAM LAMBUNG (Kisah Anak Perempuan Pertama )

aisyah nur hanifah
Chapter #40

PELANGI, IZINKAN AKU MELAMARMU

Tidak ada seorang pun di ruangan itu yang menyadari bahwa jantung dua orang sedang berdebar jauh lebih cepat daripada musik yang mengalun lembut di pesta ulang tahun putri Aksara dan Raka.

Tidak ada yang tahu bahwa setelah sepuluh tahun.

Setelah perpisahan.

Setelah jarak Jakarta dan Paris.

Setelah ribuan pesan dan ratusan panggilan yang tidak pernah mampu mengungkapkan semuanya.

Hari itu akhirnya tiba.

Hari ketika Bumi memutuskan untuk tidak lagi menyimpan apa pun.

Pelangi masih berdiri di dekat Aksara sambil menggendong bayi kecil yang mulai tertidur di pelukannya.

Namun pikirannya tidak berada di sana.

Matanya sesekali melirik wanita berhijab hijau muda yang datang bersama Bumi.

Dadanya terasa aneh.

Tidak nyaman.

Dan itu membuatnya semakin yakin.

Bahwa selama ini ia memang mencintai Bumi.

Sangat mencintainya.

Tiba-tiba lampu ruangan sedikit meredup.

Semua tamu menoleh.

Raka yang berdiri di dekat panggung kecil mengambil mikrofon.

Senyumnya terlihat sangat lebar.

Terlalu lebar.

Sampai membuat Aksara curiga.

"Sayang..."

bisik Aksara.

"Kamu ngapain lagi?"

Raka hanya terkekeh.

"Lihat saja."

Beberapa detik kemudian.

Seseorang berjalan ke tengah ruangan.

Mengenakan setelan jas biru tua.

Tampan.

Tegap.

Dan membuat jantung Pelangi langsung berhenti berdetak.

Bumi.

Mata mereka bertemu.

Dan entah mengapa.

Tatapan itu terasa berbeda.

Jauh berbeda.

Lebih dalam.

Lebih hangat.

Lebih berani.

Seolah ada sesuatu yang selama ini ingin disampaikan.

"Bumi?"

bisik Pelangi pelan.

Bingung.

Jantungnya mulai berdebar tidak karuan.

Bumi mengambil mikrofon.

Tangannya sedikit gemetar.

Namun senyumnya tidak pernah hilang.

Ia memandang semua orang yang hadir.

Papa dan mamanya.

Pak Arman dan Bu Ratih yang sudah menahan haru sejak tadi.

Ibunda Pelangi yang kini menggenggam tangan Langit.

Aksara dan Raka.

Sahabat-sahabat mereka.

Dan akhirnya...

Tatapannya berhenti pada satu orang.

Pelangi.

Selalu Pelangi.

"Aku sebenarnya enggak suka jadi pusat perhatian."

Beberapa orang tertawa.

Karena itu memang benar.

Bumi bukan tipe laki-laki yang suka tampil di depan banyak orang.

"Aku lebih nyaman berada di ruang operasi daripada berdiri di sini."

Gelak tawa kembali terdengar.

Namun mata Bumi tetap tertuju pada Pelangi.

Tidak pernah berpaling.

"Tapi ada satu hal yang selama ini aku sesali."

Suaranya melembut.

"Yaitu karena aku terlalu lama diam."

Ruangan mulai hening.

Sangat hening.

Pelangi merasakan napasnya tercekat.

Entah mengapa.

Air matanya sudah mulai menggenang.

Bumi mengeluarkan sebuah bingkai foto.

Kemudian menunjukkannya kepada Pelangi.

Saat melihat gambar di dalamnya.

Tubuh Pelangi langsung membeku.

Tangannya menutup mulut.

Air matanya jatuh seketika.

Itu adalah foto dirinya bersama ayahnya.

Foto yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

Lihat selengkapnya