
EPILOG
Dua Tahun Kemudian...
Langit Jakarta sore itu begitu cerah.
Tidak terlalu panas.
Tidak terlalu mendung.
Angin berembus lembut membawa aroma rumput yang baru disiram.
Taman kota dipenuhi suara tawa anak-anak yang berlarian ke sana kemari.
Dan di antara semua kebahagiaan sederhana itu...
Ada sebuah keluarga kecil yang sedang menikmati akhir pekan mereka.
"Bunda! Bunda! Lihat!"
Seorang anak laki-laki berusia sekitar satu setengah tahun menunjuk ke arah komidi putar dengan mata berbinar-binar.
Wajahnya sangat tampan.
Dengan rambut hitam sedikit bergelombang.
Mata bulat yang sangat mirip ibunya.
Dan senyum yang hampir sama persis dengan ayahnya.
Namanya...
Aruna Pelangi Ariksa.
Cahaya pagi.
Nama yang dipilih bersama oleh Bumi dan Pelangi.
Karena kehadirannya memang seperti cahaya yang datang setelah perjalanan panjang mereka.
Pelangi
"Pelan-pelan sayang."
Pelangi tertawa sambil menggenggam tangan kecil putranya.
Wajahnya terlihat jauh berbeda dibandingkan bertahun-tahun lalu.
Kini tidak ada lagi kesedihan yang dulu sering bersembunyi di matanya.
Tidak ada lagi rasa takut yang membuatnya ragu melangkah.
Yang ada hanya ketenangan.
Dan kebahagiaan.
Di bangku taman tak jauh dari sana.
Bumi
Bumi sedang memegang kamera kecil.
Merekam setiap momen.
Seperti yang selalu ia lakukan.
Karena ia tidak pernah ingin kehilangan satu pun kenangan bersama keluarganya.
"Aruna!"
panggil Bumi.
Anak kecil itu langsung menoleh.
Lalu tertawa sambil melambaikan tangan.
"Papa!"
Dan saat itulah.
Bumi mengarahkan kameranya.
Bukan kepada putranya.
Melainkan kepada seseorang yang berdiri di sampingnya.
Pelangi.
Perempuan itu sedang tertawa.
Tertawa lepas.
Tertawa tanpa beban.
Tertawa sambil membetulkan topi kecil yang dikenakan putra mereka.
Matahari sore menyentuh wajahnya.
Membuatnya terlihat begitu hangat.
Begitu indah.
Bumi diam sejenak.
Menatap layar kamera.
Lalu tersenyum sendiri.
LIMA TAHUN LALU
Ia pernah melihat perempuan itu duduk sendirian di toko buku tua.
Menyimpan begitu banyak luka.
Begitu banyak kesedihan.