Ashen side of Sumatra

Bintang Harly Putra
Chapter #6

BAB 4 : BABI DARI SIMALUNGUN

"Janu bangun, Janu!"

Sande meneriakiku yang sedang terlarut tidur pagi ini. Sudah sekitar tiga hari kami menetap di tempat ini. Hari sebelumnya terkesan biasa saja, hingga pagi ini ia tampaknya seperti panik dan senang pada saat yang sama. Tepat saat itu juga aku keluar dan melihat di samping pintu Donna sedang menangis sesenggukan.

Pikiran dan mulutku segera bertanya pada mereka berdua tentang apa yang baru saja terjadi. Dari kejauhan kulihat dibawah tenda bekas pesta dua hari yang lalu terdapat beberapa orang berseragam polisi dan petugas kesehatan berlalu lalang membawa tandu berisi mayat terbungkus disertai bising sirine mobil mereka. Sande mengajakku untuk meninggalkan Donna yang sedang bersedih untuk sementara waktu dan sontak saja wajah simpatinya berubah menjadi wajah sosiopat yang menahan senang.

"Lihat Janu, lihat, ini kasus menarik, kau bisa terkenal karena ini, 4 orang meninggal dunia pada saat yang sama."

"Kau gila?" sentakku, menepis tangannya. "Pacarmu menangis di sana, keluarganya mati, dan kau malah girang?"

Ia kemudian sedikit menurunkan bicaranya dan berkata bahwa dia ingin mengajakku menelusuri misteri ini. Langsung saja pikiran absurdnya ini membuatku marah.

"Ini kesempatan kita, Watson," bisiknya, mengabaikan amarahku. "Ayo turun." bersamaan dia mengunyah secuil jamur apek yang sedari tadi digenggamnya.

"Namaku Januar, brengsek."

Seorang pria gempal berseragam keluar dari pintu rumah bersama dengan ayah Donna, aku berasumsi bahwa ayah Donna baru saja diinterogasi sebagai saksi sekaligus tersangka utama kasus ini. Aku memaklumi kemungkinan tersebut, karena dialah orang yang mengadakan pesta dan perkumpulan ini, bukan tidak mungkin dia jugalah yang menjadi penyebab terjadinya kejadian naas ini. Namun, tentu kita tidak bisa mengambil keputusan sementah itu. Meskipun akhirnya Ayah Donna (yang pada saat ini belum kuketahui namanya) terpaksa dibawa dan diamankan oleh kepolisian.

Kami berdua segera melipir ke hadapan para polisi tersebut. Aku sedikit kaget dengan cara rekanku ini memperkenalkan dirinya.

"Pagi Pak, Saidi Serdula Sande, Forensik Veteriner, saya bisa bantu kalian menyelesaikan kasus ini," dengan percaya diri tinggi rekanku memperkenalkan dirinya.

Halah, forensik veteriner? gaya bicaranya sudah seperti ahli, padahal kemarin baru saja menceritakan nasibnya yang nggak jelas,” gumamku meremehkan rekanku ini. 

Alis polisi itu menukik tajam. "Dokter hewan? Kau pikir korban ini mati karena rabies? Minggir."

"Januar Hatta, Jurnalis Nusawarta," sambungku cepat, mencoba menyelamatkan muka.

Mendengar kata jurnalis, sikap Frederik sedikit melunak—atau lebih tepatnya, dia butuh panggung agar terlihat bekerja. Dia menggiring kami ke sudut ruangan untuk interogasi singkat. Sande langsung mengambil alih panggung.

Pria gagah sedikit gempal di depan kami tanpa basa-basi memperkenalkan dirinya sebagai Kompol Frederik Pasaribu. Dia kemudian bertanya apakah kami sudah di sini dari kemarin. Mengajak kami berdua ke dalam suatu ruangan dan bertanya beberapa hal detil dari kami. Seketika Sande langsung mengambil alih panggung.

"Zona pesta sebenarnya secara tak langsung dibagi tiga, zona tetua, keluarga muda, dan tamu. Total anggota keluarga ada sekitar 8 orang, serta tamu lainnya sekitar 50 orang termasuk aku dan Janu, Biarku jelaskan sedikit tentang detil lanjutannya. Zona pesta memiliki empat sudut, sudut utara, timur, barat, dan selatan. Setiap sudut disediakan daging babi utuh, Di sudut bagian barat dan timur babinya sedikit lebih kecil, dan di dekat kedua sudut itu juga para korban duduk. Aku berasumsi bahwa kematian orang-orang ini ada kaitannya dengan daging-daging babi ini."  

[DENAH PESTA BESERTA POSISI KORBAN DAN BABI]

Aku mencoba menafikan beberapa pernyataan Sande, karena jika memang kematian itu disebabkan oleh daging babi, bagaimana bisa yang mati hanya empat orang tetua, lagi pula kayaknya yang tidak makan babi ketika pesta kemarin hanya aku dan Sande. Seharusnya sebagian besar dari orang yang ada di pesta ini akan keracunan. Sande kemudian izin keluar sebentar dan kembali dengan santai sembari memutar-mutar sebuah flashdisk di jarinya.

"Ini rekaman dari CCTV sebelum pesta kemarin, aku mengambilnya dari ruang keamanan," ucap Sande, menyodorkannya pada Kompol Fred.

Wajah Kompol Fred terlihat langsung memerah, “Hei! Kemarikan barang itu! Kau hampir saja merusak barang sepenting itu!” bentaknya seraya merampas benda itu dengan kasar. 

Dibalas Sande mengangkat kedua tangan lalu berlagak santai tanpa dosa, “Aku hanya mengamankannya sebelum hilang, Komandan, santai saja.”

  Di tengah keributan singkat itu, tidak sengaja kulihat data diri lengkap korban yang sedari tadi Kompol Fred genggam. Cepat-cepat kufoto secara diam-diam data itu, barangkali berguna untuk tulisan reportaseku nanti. Usai itu kami berpamitan meninggalkan orang-orang dari kepolisian itu. Aku mengajak Sande untuk kembali ke kamar, membuka laptopku, dan tak lupa mengecek kembali data korban yang tadi diam-diam kufoto.

Meski sedikit kabur, aku coba tulis ulang semua data diri itu kembali ke dokumen reportaseku. Kira-kira seperti ini :

Gomgom Taruli / Laki-laki / 59 tahun / Wafat

Ida Taruli / Perempuan / 57 tahun / Wafat

Lihat selengkapnya