Sekitaran jam lima pagi aku terbangun karena beberapa pesan Whatsapp yang masuk ke handphone-ku, nomornya belum kusimpan. Siapa ini? Aku baca pesan itu dan benar saja, sepertinya dia memang orang yang dikirim dari Nusawarta untuk menemaniku mendalami kasus di sini. Kubaca cepat, ia memperkenalkan diri sebagai Fanya Lubis, dalam teks itu ia memintaku untuk menjemputnya ke salah satu terminal bis yang jaraknya tak terlalu jauh dari sini. Dengan sedikit tidak enak hati, kutanyakan pada Donna adakah mobil yang bisa kupinjam.
“Ohh pakai saja mobil yang paling ujung di garasi, itu dulu hadiah ulang tahunku sewaktu SMA, jadi maaf kalo mungkin sedikit berdebu karena memang sudah jarang sekali kupakai.”
Aku segera mengecek beberapa mobil di garasi, sampai kutemukan sebuah mobil Honda Jazz kuning mentereng. Meski warnanya agak kurang cocok untukku, tapi tak apalah, karena masih untung aku dapat pinjaman mobil pagi ini. Sebelumnya aku putuskan untuk tidak jadi ikut dengan Sande dan Donna ke Simalungun dan memilih untuk menjemput Fanya, lagipula mungkin akan banyak hal yang harus aku bicarakan dengan wanita baru ini.
Di perjalanan, dalam waktu sekitaran 15 menit, aku sampai ke terminal yang dituju. Aku berteriak ke sekeliling terminal menyeru namanya seperti orang gila. Seusai tiga menitan, baru seorang wanita agak mungil menghampiriku dan menyeru namaku.
“Bang Januar bukan?”
“Iyaa,” jawabku.
“Fa-Fanya bang,” balasnya agak sedikit gagap.
Segera kuhantarkan ia dan membawakan kopernya yang sebesar kulkas satu pintu. Kurasa dia masih malu-malu, jadi kupilih untuk memulai percakapan atau lebih tepatnya disebut perkenalan, harap-harap suasana di antara kami jadi sedikit mencair. Kutanyakan tentang asal, usia, dan hingga sekian banyak pertanyaan, aku baru sadar bahwa bukan hal yang tepat untuk menggunakan tabiat wartawanku pada suasana seperti ini. Untung saja ia mau menjawabnya.
“Aku dari Kota Medan bang, sebenarnya aku baru ambil magang sekitar tiga hari yang lalu di Nusawarta cabang Medan, dan tiba-tiba saja aku disuruh untuk berangkat ke Siantar, disuruh ketemu seorang wartawan yang sedang tugas di sini, namanya Januar Hatta. Awalnya sih aku tidak kenal, tapi setelah beberapa hari ini aku membaca berita di sosial media, ternyata berita yang orang ini liput sedang viral, makanya aku jadi tertarik untuk ikut meliput dengannya, Misteri Kematian di Siantar, keren,” ucap wanita ini panjang, dan jujur saja setiap perkataannya benar-benar menyanjungku.
Eh tapi tunggu, apa aku tidak salah dengar?, magang?, seorang mahasiswa magang disuruh menemaniku meliput kasus kematian? Serasa semua sanjungan barusan jadi tidak benar-benar menyenangkan. Aku mencoba tetap menghargai semua celotehannya dan semangatnya untuk ikut meliput meski sebenarnya aku merasa tetap pesimis. Apa wanita mungil ini benar-benar bisa menemaniku meliput kasus kriminal? apa dia siap melihat orang-orang mati atau potongan daging dan darah manusia? Semua pertanyaan ini awalnya hanya diam di kepalaku, hingga pertanyaan yang agak meremehkannya tiba-tiba saja terucap olehku.
“Kenapa kau mau ikut meliput kasus kriminal? padahal banyak bidang yang lebih menyenangkan untuk diliput, fashion misalnya, atau kuliner, atau apalah yang tidak bikin kau mimpi buruk.”
“Ahh fashion? membosankan bang, lagian aku juga tidak paham, kalau kuliner?, aku termasuk orang yang paling tidak bisa bohong, kalau makanan enak ya kubilang enak, kalau tidak ya tidak, lagian bang, kalau kita pikir-pikir nih ya, orang kalau makan makanan enak tidak akan pernah membuat-buat ekspresi lebay seperti di acara-acara kuliner,” jawabnya, walau sebenarnya belum benar-benar menjawab pertanyaanku.
Jawaban polosnya ini sebenarnya cukup membuatku tertawa, tapi aku masih kesal dengan keputusan aneh yang dipilih oleh Nusawarta. Aku coba untuk menepikan mobil sembari mengajak wanita baru ini sarapan. Kami membeli makanan sejenis ketupat sayur, dan memilih duduk di bagian paling luar warung. Kulihat wanita ini tanpa pikir-pikir langsung segera makan saat pesanan kami terhidang. Tapi kurasa wajar saja, untuk orang yang bepergian keluar kota, mungkin akan sangat melelahkan, dan makan banyak bisa saja jadi penawarnya.
Karena tidak enak dengan Fanya, aku izin untuk melipir sedikit menjauh darinya dan memulai komplainku pada Bu Lita via telepon. Usai kusampaikan semuanya, atasanku ini cuman menjawab dengan santainya.
“Kamu kan tau sendiri, cabang kita di Sumatera Utara itu baru dibuka, jadi wajar kalau kekurangan orang, lagian Fanya bisa kok, dia kan mahasiswi, pasti sudah pernah belajar, kamu bimbing saja dia.”
“Tapi bu....” ucapku memendam kesal yang tentu saja tidak mungkin langsung kuluapkan ke atasanku ini.
“Sudah ya, saya masih ada urusan di kantor,” segera saat itu juga Bu Lita menutup teleponnya.
Baru saja aku balik badan dan berjalan mendekati Fanya, wanita baru ini tanpa malu sedikit berteriak kepadaku.
“Bang Januar, ini ketupatnya gak mau dimakan?, kalau gak mau buat Fanya aja ya,” ucapnya sambil menunjuk pesananku yang belum kusentuh sama sekali. Kusodorkan langsung kedepannya karena memang jadi tidak ada seleraku usai bicara dengan bosku tadi.
Kutanyakan tentang peralatan seperti kamera yang seharusnya dia bawa. Ia mengiyakan dan bilang kalau sebelum berangkat ke sini, kantor menitipkan koper hitam berisi kamera untuk dia bawa. Tapi tanpaku tanya dia langsung bilang kalau dia belum pernah menggunakan kamera besar seperti itu. Pernyataannya ini makin-makin membuatku frustasi dan berkhayal tentang sesulit apa liputan yang akan kulakukan bersama anak magang ini.
Sarapan kami pun habis, dan perjalanan kembali kami lanjutkan. Baru beberapa kilometer kulihat wanita baru ini sudah tertidur saja, di kursi penumpang di sampingku, sehingga bisa kupastikan bahwa perjalanannya tadi benar-benar melelahkan. Hari semakin meninggi dan perjalanan yang tenang itu tetiba saja mendadak tegang.
DARRRR!
Mobil oleng, ban belakang mobil kami tiba-tiba saja meletus entah terkena apa. Sehingga mau tak mau kami harus menepi, di pinggiran jalan yang kebetulan sepi itu. Karena suara keras itu juga Fanya terbangun. Kuminta untuk ia istirahat saja dalam mobil, sementara aku membetulkan ban mobil.