Ashen side of Sumatra

Bintang Harly Putra
Chapter #8

BAB 6 : PETERNAKAN

Aku, Sande, dan Donna bertolak sekitar jam satu siang ke wilayah ternak di Simalungun. Sebelum itu sudah kupastikan Fanya aman bersama penjaga selama ia beristirahat di rumah Donna. Sande yang tanpa basa-basi melempar tas padaku, katanya mungkin akan berguna, walau sejujurnya aku tidak benar-benar ingin membawanya. Kami pun masuk ke dalam mobil, Sande dan Donna di kursi depan, dan aku sendirian di kursi belakang.

Perjalanan dua jam membawa kami menembus jalanan berliku menuju pedalaman Simalungun. Hutan sawit berganti menjadi ladang-ladang jagung dan peternakan, Sebelum keluar Sande memintaku untuk jangan banyak bicara, meski aku sedikit jengkel dengan sikap sok ngaturnya ini, tapi kuikuti sajalah. Tepat di gerbang peternakan, seorang pria cukup berumur menyapa kami, memperkenalkan diri sebagai pemilik ternak, ia juga menyampaikan namanya sebagai Mikail Simanjorang.

“Januar, kami di sini ingin melihat-lihat, dan mungkin kalau cocok, kami akan beli beberapa ekor,” langsung saja rekanku Sande, membalas perkenalan bapak ini, namun anehnya dia malah pakai namaku, kenapa? aku yang sebenarnya ingin menyelak ucapan bohong kawanku ini akhirnya memilih untuk tetap diam. Takut merusak rencana yang mungkin mereka sudah siapkan untuk hari ini.

Pak Mikail menuntun kami masuk lebih dalam ke peternakan miliknya yang sebenarnya tidak terlalu besar. Jujur baru kali pertama aku masuk ke dalam peternakan babi dan kali pertama juga aku melihat babi sebanyak ini. Bau tempat ini terlalu asing buatku, alhasil baru beberapa menit aku di dalam, kupilih untuk pergi dan menunggu di luar saja. Sialnya baru sebentar, Sande berteriak memintaku untuk masuk, karena menurutnya ada beberapa hal yang perlu pengamatan mataku.

Dari sekian puluh babi yang terawat di peternakan berukuran besar ini, sepertinya mataku dan Sande terfokus pada sekumpulan babi yang seakan terisolasi dari kawanan lainnya. Dengan ruangan kandang yang cukup kedap dan terbatasi dengan yang lainnya, ada sekitar lima belas ekor babi di sana.

“Boleh kami lihat babi yang di sana?” ucap Sande spontan.

Pak Mikail tiba-tiba saja gugup dan menyeka kucuran keringatnya yang jujur dari tadi sedikit mengganggu pandangan mataku.

“Ja-jangan pak, itu sudah ada yang pesan.”

“tapi kayaknya, babi-babi itu keliatan lemas,” balas Donna ikut terlibat dalam obrolan.

Pria paruh baya berkumis tebal dan berpakaian wearpack hijau ini hanya menyangkal ucapan rekanku dan mengatakan bahwa babi-babi itu hanya belum diberi makan saja.

Sande hanya menggeleng tipis, bersama Donna yang mungkin sepertinya beneran jadi membeli babi.

“Oke, kalau sudah dipilih nanti untuk persiapan pengantaran akan dibantu anak saya yang di sana ya Pak, Bu,” tutup Pak Mikail sembari melipir pergi ke suatu ruangan. Aku asumsikan mungkin itu ruangan pribadi dia, tempat istirahat atau semacamnya.

Kamipun beriring menemui anak Pak Mikail yang terlihat sedang menyapu bagian depan kandang ini, saat itu pula anak itu terlihat dihampiri oleh dua orang berpakaian dinas coklat serba rapi, barangkali dari pemerintah.

Anak itu terlihat seperti seumuran SMP tingkat akhir atau mungkin awal SMA. Namun dengan perawakan yang lebih dewasa dibandingkan usia seharusnya, serta tubuh yang lebih kekar yang mungkin ia dapatkan karena terlalu sering membantu pekerjaan kandang bersama bapaknya.

Sande lekas bertanya tentang siapa yang baru saja menghampirinya. Anak itu membalas bahwa mereka orang dari dinas kesehatan hewan, katanya mau ada pemeriksaan besok di sini pukul sepuluh pagi. Kuperhatikan dia juga sedang menenteng surat dengan logo dinas yang sepertinya agak kebesaran. Dari sini mulailah pikiran liar kawanku ini muncul. Seperti skenario gila yang hadir di benaknya membawa aku dan Donna untuk terpaksa masuk ke rencananya.

Lihat selengkapnya