Ashen side of Sumatra

Bintang Harly Putra
Chapter #9

BAB 7 : FANYA DAN BINARNYA

Khusus pada bagian ini, ada hal menarik lain yang aku temukan selain kasus menyebalkan itu, seputar hal manis yang datang tak disangka-sangka, tepat saat aku mengetuk sebuah kamar di mana Fanya lelap di dalamnya. Beberapa saat, aku mendapati wajah polos nan manis, dengan mata yang sembab seperti usai menangis lama, dengan tatapan redup dan sedikit kantuk kelihatannya.

Aku merasakan perasaan yang berantakan saat itu juga, tentang bagaimana aku merasa bersalah sudah membuatnya menangis kemarin, dan perasaan takjub lainnya saat aku melihat wajahnya yang ternyata sangat manis, bahkan tanpa rias sekalipun. Sekitaraan setengah menit aku terpaku padanya hingga tak sadar bahwa begitu memalukannya suasana itu.

“Ke-kenapa bang?” tanyanya lirih dan sedikit menurunkan nada bicaranya.

“Cantik banget, ma-maksudku langitnya, langitnya cantik, gimana kalau kita makan malam di luar, dan aku juga mau minta maaf perihal kemarin, jujur aku gak bermak-" ucapku asal karena jujur aku sangat gugup saat di depan Fanya, sembari menunjuk plafon yang berwarna putih kosong, hingga ia lekas memotong ucapanku yang mulai melantur.

“Ssstt, udah gapapa bang, udah aku maafin kok, ehh tapi beneran mau makan bareng bang?” balas Fanya menimpali ucapanku, seakan mencoba memastikan apakah aku benar-benar mengajaknya

Aku mengiyakan, menyarankan dia untuk bersiap, hingga saat dia sudah berbalik badan ingin kembali masuk ke kamarnya, aku kembali bertanya,

Oiyaa kamu sukanya makan apa Fanya?” ucapku mencoba basa-basi.

“Hmm, aku suka sushi, aku juga suka dimsum, spaghetti juga suka, apalagi yaa? ehh maaf-maaf bang, kebanyakan ya? aku ikut bang Janu aja, takut ngerepotin bang.”

Okee yaudah, nanti aku tunggu di depan jam 7 malam ya,” ucapku menutup obrolan kami sore itu, jujur saat dia terlihat bingung menyebutkan makanan kesukaanya, saat itu juga dia terlihat semakin menarik saja di mataku, entah, balik lagi, tujuan utamaku hanya untuk permintaan maaf, tidak lebih, lagi pula aku harus fokus dengan pekerjaanku di sini.

Waktu malam entah berjalan begitu lama, jam lima, lima lewat seperempat, lima tiga puluh, enam kurang seperempat. Arghh, mengapa rasanya jam tujuh itu lama sekali datangnya. Aku mondar-mandir di kamar seperti setrikaan rusak. Sande, yang sedang sibuk tiduran dan membaca buku sambil mengunyah secuil jamur, akhirnya kesal.

“Woi Bapuk!, Mondar-mandir terus, kau suka dengan anak magang itu ya? Haha,” ucap Sande. Aku hanya menyangkalnya, karena bisa dilihat saat pertama bertemu Fanya di terminal waktu itu, aku melihat sisi ceroboh dan kekanak-kanakan dari perempuan itu. Segala bayangan tentang bagaimana susahnya pekerjaanku disini jika harus bertanggung jawab juga pada anak magang itu.

Sande hanya menggelengkan kepala, dan berdiri menjadi seorang penyair, dia memulai bualannya,

Waktu kala kortisolmu meledak,

Barangkali akan surut,

Membersamaimu menunggu antidota yang menyejukkan hatimu,

Percayalah setiap hari,

Dia akan menjadi semakin menyenangkan,

Aku mendukungmu,

Agar jangan murung wajah burukmu,

Kau jauh dari dopamin, sejak awal

Kini kau berbinar, akibat binar yang kau lihat dari retinanya

 

Aku melongo, "Kau habis makan jamur berapa, Sande?"

Aku hanya tersenyum tipis, dan sedikit terkejut bahwa dibalik sifat berantakan dan aneh kawanku ini, ia ternyata mampu melantunkan syair yang menarik. Kemudian aku duduk di samping kawanku ini, lalu bertanya tentang apa yang harus aku lakukan hari ini bersamanya.

"Nikmati saja malam ini, Janu," Sande menepuk bahuku, kembali normal. "Gak usah banyak rencana. Cukup buat dia senang. Buat dia lupa kalau lehernya pernah hampir patah."

Lihat selengkapnya