Segudang data yang kurasa sudah cukup untuk kuwartakan, bersama dengan Fanya, mulai kurapikan semua. Beberapa candaan tiba-tiba terlontar begitu saja antar kami yang kasmaran, dan tentu agak sedikit mengganggu pekerjaan kami berdua dalam mempersiapkan berita yang akan dilaporkan ke Bu Lita pagi ini. Laporan yang lebih tepatnya disebut naskah narasi kurang lebih tiga halaman yang kami berdua buat segera kukirim ke Bu Lita, dan luar biasanya hanya dalam waktu satu jam, Bu Lita langsung menyetujui berita yang kami buat, tentunya dengan emoji jempol yang sangat khas dari ibu-ibu seumuran dia.
“Bisa langsung buatkan videonya, sekaligus rekaman suara narasinya, nanti berita ini akan dibawa ke tayangan liputan siang,” Balas Bu Lita tepat setelah menyetujui laporan yang kami buat.
Usai membaca balasan tersebut, aku dan Fanya hanya bisa tatap-tatapan, dilanjut dengan raut panik yang segera datang di wajah manisnya. Kurasa dia baru pertama kali mendapatkan tenggat waktu sesingkat ini.
“Du-dua jam Bang! mana sempat buat video dua jam??” ucapnya bersama logat medan yang baru kali ini benar-benar jelas terdengar.
Kucoba untuk menenangkannya dan berkata bahwa sangat mungkin jika kita lakukan berdua. Semua rekaman foto dan video yang kupunya, mulai saat di lokasi kejadian hingga seluruh investigasi serta ucapan bersama Sande kucoba ingat-ingat. Lagipula Fanya juga belum punya rekaman atau catatan apapun karena belum pernah ikut investigasi sama sekali, jadi kusarankan dia untuk bertugas mengedit video saja, sedangkan aku yang membuat rekaman suara narasinya.
“Oke siap bang!” mukanya berubah menjadi sumringah bersama binar mata coklatnya yang ternyata makin indah saat pagi hari.
Beberapa hal yang kucoba sampaikan dalam narasiku, kurang lebih mengenai laporan kasus kematian usai pesta di rumah Tambun, penemuan Babi sisa pesta nan ternyata menderita African Swine Fever yang diasumsikan mungkin menjadi penyebab kasus (aku juga lupa-lupa ingat mengenai penjelasan kawanku perihal penyakit ini), meskipun belum ada bukti yang valid, serta laporan terkini mengenai investigasi yang tengah dilakukan, tak lupa aku juga menyebutkan nama seorang forensik veteriner (atau apalah itu namanya) yang sudah membantu kami berdua sejauh ini untuk mendapat informasi, Saidi Serdula Sande.
Sekitar satu setengah jam proses yang kami berdua jalani, acap kali fokusku teralihkan oleh raut syahdu yang serius dari Fanya, sehingga membuatku memerlukan waktu ekstra hanya untuk merekam narasi itu. Setelah selesai dan tersunting dengan rapi, kukirimkan segera video tersebut melalui email ke Bu Lita. Aku sudah membayangkan bahwa berita pertamaku ini akan menjadi salah satu berita terbaik yang terliput dalam arsip Nusawarta.
***
Untung saja aku punya cukup waktu untuk menyelesaikan tugas dari Bu Lita, sehingga sempat saja untukku dan Fanya ikut bersama Sande beserta Donna berangkat ke tempat Profesor Afram, seorang rekan dosen yang sempat ia ceritakan beberapa waktu lalu. Niat utama kami tentu hanyalah untuk meminjam ruang laboratorium yang dikepalai, sekaligus bertanya perihal medis yang pasti jauh lebih ia pahami ketimbang kami berempat.
Tepat di depan ruangannya, aku melihat seorang pria yang sudah cukup berumur, mungkin tidak beda jauh dengan ayah Donna, pikirku, membukakan pintu coklat itu untuk kami, mempersilahkan kami masuk dan duduk, dan benar saja pikiranku tentang kawanku, Donna, baru saja tiga menit kami duduk, tanpa basa-basi dia langsung melontarkan maksudnya untuk meminjam ruangan milik sang profesor.
"Kita bincang-bincang santai dululah," ucap Prof. Afram dengan senyum tipis di bibir keringnya. Matanya menatap Donna lekat, seolah aku dan Fanya tidak ada di ruangan itu. "Kamu makin mirip mendiang nenekmu, Donna. Nyonya Margaret. Wanita paling berkuasa di Sumatera pada masanya."