Aku terbangun dari mimpi burukku semalam, masih terngiang betul kejadian kemarin, tentang cacing-cacing aneh yang menggeliat itu, tentang Profesor yang terkapar, membuatku tersentak, menenangkan diri, kemudian bergegas mandi. Kulihat Sande sudah terduduk santai sembari menonton siaran pagi di TV. Jujur pandanganku padanya sedikit berubah usai perihal kemarin, namun insting pengecutku tetap tidak berani bertanya langsung padanya. Bagaimanapun aku tetap berusaha menaruh kepercayaan pada orang ini.
***
“Januar!, kau bodoh ya? kau gila? berita apa-apaan ini?!” teriak Sande padaku tepat saat aku baru usai mandi. Sejatinya aku tak terlalu paham penyebab pitamnya pagi ini. Tak lama ia menunjuk pada televisi di pojok kiri kamar yang baru hari ini ia nyalakan. Benar saja obrolan tentang beritaku kemarin masih menjadi pemberitaan hangat. Namun yang tidak aku mengerti, bukannya membahas tentang kematian yang tengah terjadi entah mengapa semua pembahas hanya tertuju ke virus ASF. Jujur saja memang aku tidak terlalu paham sehingga menganggap itu hanyalah virus babi biasa. Hingga ucapan kawanku ini yang kemudian membuat nalarku terbuka.
“Kenapa tak kau bilang dulu padaku sebelum menaikkan berita?!” teriaknya marah. Kubalas dengan balik marah karena bukan urusannya juga untuk mengatur kapan aku harus mengirim liputanku. Toh dia bukan rekan kerjaku atau tim redaksi dikantoku.
“ASF itu belum pernah ada di Indonesia!, sekalipun baru muncul, kau tidak bisa serampangan memberitakan itu! Ucapanmu itu salah, orang-orang bisa panik, karena kasus kematian ini juga, orang-orang biasa mengira kalau virus ini menular ke manusia, kan sudah kubilang waktu itu, kalau virus ini tidak menular ke manusia, liat sekarang semua orang membicarakan tentang virus ini, dan itu, kenapa kau tidak bilang dulu padaku kalau mau mencantumkan namaku jadi narasumber! Kau terlalu bodoh untuk jadi seorang wartawan, Janu!”
Untuk pertama kalinya aku melihat Sande semarah itu, aku hanya terdiam mendengar umpatan yang keluar dari mulutnya. Aku menyadari tentang begitu cacatnya informasi berita yang sudah kadung aku wartakan itu. Lagipula, bagaimana bisa aku fokus dan serius untuk membuat berita yang utuh jika dituntut oleh tenggat waktu ditambah harus bekerja saat kasmaranku muncul kepada Fanya. Sebenarnya terlalu kekanak-kanakan untukku jika terus menyalahkan keadaan.
Kusambung dengan permohonan maafku pada Sande, yang hanya dibalas dengan ucapan kekhawatirannya bahwa hal ini bisa sangat membahayakan dirinya, Aku, bahkan Nusawarta. Dan benar saja, baru selesai ucapan itu keluar dari Sande, muncul pemberitaan yang memampangkan wajah Gubernur di sana. Aku mendengar beberapa bait ucapannya kurang lebih begini,
“Bagaimana tanggapan bapak terkait kemunculan virus ini pak?” ucap wartawan.
“Untuk saat ini masih coba ditelusuri oleh dinas terkait, dan mohon kepada masyarakat jangan panik, perlu diketahui juga, berita kemarin itu tidak bisa dibuktikan kebenarannya, bisa dilihat dari Narasumbernya siapa, Saidi Sande bukan?” balasnya tiba-tiba mencoba memastikan ucapannya ke salah satu ajudan disisi kanannya. Dibalas anggukan gagah dari sang ajudan.
“Nah Sande itu, dulu bagian dari dinas, tapi sudah dikeluarkan dan dicabut gelar dokternya, jadi tidak bisa diper-” bersamaan dengan itu Sande segera mematikan televisi, membuatku tidak bisa mendengarkan lebih lanjut ucapan Gubernur.
Ucapan singkat Pak Gubernur tadi merangkai beberapa pertanyaan di otakku, namun hal itu juga yang menjawab pertanyaanku sebelumnya saat di peternakan babi tentang bagaimana dia bisa punya ID dinas. Aku memikirkan tentang apa yang sudah terjadi padanya?, apa yang dia lakukan?, kenapa gelarnya bisa dicabut?. Belum sempat tanyaku itu tersampaikan pada Sande, terdengar seseorang menelponku. Kupastikan bahwa itu adalah Bu Lita, dengan suara khas dan cerewet ibu-ibunya, ia memaksaku untuk segera berangkat menuju kantor Gubernur.