Ashen side of Sumatra

Bintang Harly Putra
Chapter #12

BAB 10 : SANG KRIMINAL

Entah kemana perginya semua orang, sudah sekitaran dua jam setelah kepulanganku mengantar Bu Lita ke hotelnya, tidak kudapati Sande, Donna, maupun Fanya di rumah ini. Pikiranku melayang pada beberapa spekulasi, mungkin mereka melanjutkan investigasi, tanpaku, aku dapat memaklumi itu karena sudah kulihat dari pagi bahwa Sande benar-benar kesal padaku. Aku terpikirkan ucapan pak Gubernur yang jujur sedikit menggertakku, seputar rekanku, Sande. Segala spekulasi janggal yang berputar di otakku, membuat semakin menumpuknya pertanyaan tentang begitu misteriusnya rekan yang sepanjang minggu ini sudah bersamaku.

“Sande itu psikopat!” sepenggal kalimat dari gubernur yang terus-terusan saja menghantuiku. Apa maksudnya? Aku baru menyadari satu hal, bahwa selama ini aku belum mencari tahu dan melakukan riset mendalam tentang rekanku ini. Ya bagaimana mungkin, akan terasa aneh kelihatannya jika seorang pria mencari tahu latar belakang pria lain tanpa alasan logis, terkecuali untuk ranah riset kriminal, medis, atau lainnya.

Usai beberapa kali mencari siapa Saidi Sande di beberapa laman berita, kutemukan sesuatu yang benar-benar menarik sekaligus mengagetkanku, dengan judul yang tentu membuat penasaran.

“SADIS! DOKTER HEWAN INI TEGA MELAKUKAN MALPRAKTEK KEPADA TIGA EKOR ORANGUTAN.”

Terkesan berlebihan sebenarnya, namun aku maklumi karena tentu pembuat berita juga ingin mencari perhatian banyak pembaca melalui rekayasa empati menggunakan kata-kata yang ia rangkai. Orang yang diberitakan ternyata benar adalah rekanku sendiri, Saidi Sande, didasarkan pada berita yang ternyata sudah ramai dua tahun yang lalu.

Drh. Saidi Serdula Sande didakwa melakukan tindakan medis ilegal dan malpraktek yang menyebabkan kematian orangutan langka di konservasi milik Gubernur Sumatera Utara. Surat registrasi dan izin prakteknya dicabut permanen oleh asosiasi, dan ia dinyatakan memiliki gangguan perilaku antisosial.

Jadi selama ini... aku bekerja sama dengan orang yang membunuh hewan lindung? Psikopat? apa ada kaitannya juga dengan kejadian aneh saat di lab waktu itu? Sayangnya, belum sempat aku selesai mempelajari berita itu dan menutup laptopku, terdengar sekumpulan orang bergerak mendekati pintu kamarku dan salah seorang diantaranya menggedor dengan tenaga yang berlebihan kurasa karena getarannya terasa sampai ke mejaku.

“Januar Hatta, ikut kami sekarang!”

Sebelum aku sempat berdiri, pintu kamarku didobrak. Empat pria bertubuh kekar berseragam polisi merangsek masuk.

"Januar Hatta, Anda kami tahan!"

"Tunggu! Apa salah saya?!" teriakku saat lengan mereka mencengkram kasar.

Salah satu polisi, yang tampaknya komandan, menyorongkan surat perintah penangkapan tepat ke wajahku.

"Anda diduga melanggar Pasal 160 KUHP tentang Penghasutan, serta UU ITE menyebarkan berita bohong yang menyebabkan kerusuhan massal. Berita sampah kau itu sudah membuat separuh Sumatera Utara terbakar. Bawa!"

Rasa kaget dan panik seketika berkecamuk, aku dilempar ke dalam mobil polisi. Aku berasumsi bahwa ini ulah Gubernur, dia butuh kambing hitam untuk menenangkan kericuhan yang telah terjadi di mana-mana. Mungkin sekitar 20 menit perjalananku menuju kantor polisi, tak lama setelahnya mereka segera menyita segala barang yang tersimpan di tubuhku, terkecuali pakaian tentunya. Berlanjut giringan mereka padaku menuju ruang interogasi.

Peristiwa yang begitu cepat ini benar-benar di luar nalarku. Semua terjadi begitu saja, entah mengapa aku juga tidak berdaya melakukan perlawanan apapun, bahkan untuk sekadar bertutur untuk membela diri. Selama awal interogasi pertanyaan yang disampaikan padaku terkesan basa-basi, jadi kurasa tak perlu terlalu kujelaskan, hingga beberapa pertanyaan terakhir yang sedikit membuatku tersentak.

“Apa kaitan anda dengan Sande?”

Kujelaskan dengan singkat bahwa kami hanya rekan satu kos, dan kebetulan bekerja bersama, tidak lebih (tentu tidak semua investigasi yang selama ini kami lakukan bisa kuceritakan pada polisi ini).

“Atau anda dibayar oleh lawan politik Gubernur? untuk mencoreng kinerja baiknya? agar membuat dia terlihat gagal Hahh?!!” tiba-tiba saja polisi ini mulai meninggikan nada suaranya, mulai menggertakku atas hal yang sebenarnya tidak sepenuhnya aku pahami.

Lihat selengkapnya