Ashen side of Sumatra

Bintang Harly Putra
Chapter #13

BAB 11 : ORANGUTAN

(Perspektif Sande)

Bulan Agustus 2017, pada hari saat pelaksanaan sumpah dokter hewan, selesai prosesi dan keluar dari gedung kampusku. Aku didatangi oleh dua orang dari dinas. Bisa dibilang aku memiliki nilai dan kemampuan yang cukup baik saat di kampus dulu, sehingga membuat orang-orang dinas itu tertarik menawarkan posisi di sana. Satu-dua ujian aku lewati dengan mudah untuk menjadi bagian dari dinas.

Usai pengumuman kelulusan, sang gubernur langsung menyambutku dengan hangat. Seolah seorang ayah yang bangga pada anaknya, dia mengajakku berdiskusi terkait posisiku di dinas. Setelah pelantikan, dia menawarkanku untuk makan malam di rumahnya. Tak disangka, jabatanku tidak hanya sekadar jadi dokter hewan dinas. Dia berkata bahwa sudah memeriksa potensiku sejak kuliah. Dia memberikan tawaran untuk mengurus dan menjadi dokter untuk koleksi-koleksinya.

Jujur saja, sebagai seorang dokter yang baru lulus, senangku bukan kepalang karena diberikan tawaran semenggiurkan itu. Kusetujui pintanya dan sejak saat itu aku resmi jadi bawahannya. Seusai makan dia mengajakku untuk ke tempat ia menyimpan koleksinya. Lokasinya tidak begitu jauh dari rumah utama, namun cenderung tersembunyi. Saat pertama kali sampai, aku hanya melihat beberapa koleksi kuda yang tentu cukup mahal. Aku mewajarkan hal itu, karena jelas saja orang sekaya gubernur bisa mengoleksi kuda.

"Kalau untuk mengurus kuda saya bisa pak," ucapku saat itu dengan semangat yang tengah berapi-api.

"Ohh, hahaha, bukan- bukan itu yang harus kamu urus, sini masuk ke sini," ia menyangkal ucapanku sembari berjalan mengarah ke suatu rumah gelap yang tadinya aku tidak menyadari keberadaanya, tepat berada di belakang kandang kuda itu.

"O-orangutan pak??" teriakku agak tinggi seketika bola mataku melihat tiga ekor orangutan sudah terikat di dengan rantai di masing-masing kandang.

Jujur aku benar-benar kaget waktu itu, karena meskipun sudah bertahun-tahun belajar di kampus, tidak pernah terpikir olehku untuk mengurus orangutan yang ukuran dan tenaganya jauh di atas manusia biasa.

"Tenang saja, mereka bertiga akan segera dipindahkan bulan depan ke Kalimantan, kau hanya perlu mengurusi mereka, memberi makan, membersihkan kandang, vitamin dan obat jika kau rasa perlu, kan kau sudah dokter, pasti bisa lah," tegasnya menjelaskan pekerjaanku.

Sembari mendengar penjelasannya, aku mencoba mengamati ketiga primata ini. Mereka semua berjenis kelamin betina dengan rentang usia sekitar 15-20 tahun, usia matang untuk seekor orangutan. Mereka diberi nama Caca, Cici, dan Coco. Meskipun tidak terlalu ada perbedaan yang menonjol di antara ketiganya.

Meskipun cukup gelap, untungnya aku masih dapat mengamati spesies orangutan ini. Tentu saja hasil dari keaktifanku dulu saat ikut komunitas dokter hewan satwa liar kala di kampus dulu. Berdasarkan perawakannya, orangutan ini memiliki rambut yang cenderung keriting, tebal, dan pipi yang lebih datar, selain itu kepala mereka juga lebih kecil dibanding orangutan Sumatera atau Kalimantan. Sehingga, dari ciri khas ini aku langsung dapat mengetahui bahwa mereka adalah spesies orangutan tapanuli.

Sejatinya aku tidak menyadari bahwa ada hal yang mengganjal, tentang mengapa orangutan ini malah dibawa ke Kalimantan, ke tempat yang bukan asalnya. Namun, aku tidak terlalu peduli, semua kecurigaan itu tertutup oleh rasa senangku karena segera berkarir dengan jalan yang mulus. Kuamati di pojok kandang mereka seperti ada bekas jarum suntik dan botol yang familiar denganku. Xylazine, cairan sedativa yang umum digunakan untuk memberikan efek menenangkan dan merelaksasi otot hewan. Pantas saja sedari tadi mereka sama sekali tidak agresif, meskipun dalam kondisi yang terlihat sadar.

Pekerjaanku dimulai besok pagi, untuk sebulan ke depan mengurusi dan mempersiapkan kesehatan dari tiga ekor orangutan itu, yang awalnya kupikir akan dilepasliarkan atau dibawa ke lembaga konservasi.

***

Sebulan terlewati, mereka bertiga tumbuh menjadi sehat, berisi, dan aktif. Pada hari ini mereka siap untuk berangkat ke Kalimantan. Sampai detik ini aku belum curiga sama sekali, mereka diberikan obat tidur agar tertidur lelap selama perjalanan. Sebelum keberangkatan, kubantu mengarahkan mereka bertiga ke kandang masing-masing yang kemudian dibawa dengan truk semi tertutup yang cukup besar untuk menampung mereka bertiga. Dan sejak hari itu aku berpisah dengan mereka, dan kembali mengerjakan tugas dokter hewan yang lebih normal, yakni mengurus kuda dan membantu administrasi di dinas.

***

Lihat selengkapnya