(Perspektif Sande)
Kupersiapkan nyali untuk memulai aksiku, maklumlah sebagai dokter hewan yang baru enam bulan lalu menetas. Mendapati kasus seberat ini membutuhkan persiapan dan logika yang matang. Kucari di grup alumni, kolega yang sekiranya dapat membantuku. Kudapati satu nama yang sekarang tengah berkarir di Badan Konservasi Orangutan, drh. Bara salah satu teman karibku dulu, dia aktif sebagai ketua himpunan dulu. Kuputuskan untuk menghubungi kolegaku ini dan menceritakan apa yang sudah aku temui.
Tentu dengan sikap lebih dewasa dan wibawanya, dari seberang panggilan telepon dia mulai memberikan saran tentang apa yang harus kulakukan kedepannya.
"Kau harus lakukan dengan sembunyi-sembunyi Sande, pertama buat orangutan itu seolah-olah mati, dan jangan sampai ajudan gubernur tahu kalau mereka sebenarnya tidak mati, nanti aku dan beberapa rekan dari Badan Konservasi akan berpura-pura ke sana untuk mengurus 'mayat' orangutan itu, orangutan yang kami bawa nanti akan kami karantina dan pulihkan, hingga mungkin bisa dilepasliarkan lagi, tapi agar tidak menimbulkan curiga, kita harus lakukan ini secara bertahap, jangan langsung sekaligus."
Aku sedikit optimis dengan bantuan yang diberikan oleh kolegaku ini, namun hal yang membuatku bingung adalah bagaimana membuat orangutan ini seolah-olah mati, dan bagaimana membuat para ajudan tak curiga. Usai segala kemungkinan yang terlintas, aku menyadari perlu memberi bumbu ketakutan pada mereka, lagipula mereka terlalu bodoh untuk paham perihal medis.
Usai menelpon kusiapkan bahan yang kurasa perlu, seperti obat anastesi agar dapat membuat mereka bertiga seolah-olah mati. Kuawali pada Caca dan Cici, alasanku untuk tidak bertindak pada Coco adalah karena kondisinya yang masih memprihatinkan sehingga terlalu bahaya untuk mengambil resiko ini. Caca dan Cici kemudian kuberikan anestesi yang diinjeksi langsung ke otot mereka, kombinasi Ketamine dan Xylazine yang dapat memberikan efek anestesi dalam, ditambah sedikit Atropine untuk menjaga detak jantung tetap stabil meski terlihat lemah.
Bersamaan dengan itu, kukabarkan pada para ajudan yang sejatinya sudah sering memantauku dari luar sejak pertikaianku dengan gubernur di rumahnya malam itu.
"Pak! orangutan ini kena tuberkolosis, sangat menular ke manusia, dua sudah mati!"
"Halah, mana coba saya liat!"
"Jangan pak! Bapak mau kena TBC?! batuk darah?!" balasku melarangnya masuk.
"Ya sudah, biar kami yang urus," ujar salah satu ajudan itu.
"Kan sudah saya bilang pak, bahaya! saya punya rekan yang biasa mengurus kematian hewan liar seperti ini, biar saya minta bantuan mereka," ucapku sembari menghadang para ajudan yang tidak percaya dengan kebohonganku tadi.
Tak lama berselang Bara dan tim datang ke kandang orangutan itu, mereka sejatinya sudah ada di sekitar area ini dan menunggu panggilanku untuk segera membawa Caca dan Cici. Sejauh ini berjalan dengan mulus tanpa adanya masalah dan kecurigaan yang berarti.
Caca dan Cici berhasil diamankan ke Badan Konservasi untuk diterapi agar siap dilepasliarkan. Sementara Coco masih dalam kondisi yang tidak stabil sehingga masih perlu kuurus hingga sembuh agar nanti menyusul kedua temannya.
***
Dua minggu berlalu, Coco yang agresif dan periang kembali sehat dan berlaku seperti watak aslinya. Hari ini dia siap untuk menyusul kedua temannya di Konservasi. Aku dapat merasakan ikatan emosi dalam dirinya, tentang betapa bahagianya dia karena akan segera kembali ke alam bebas. Ia yang biasanya agresif jika melihat jarum suntik, kali ini justru dia terlihat sangat ingin dan tidak sabaran, sukarela memberikan lengannya untuk segera disuntik. Dia tahu usai terlelap oleh anestesi yang kuberikan, dia akan terbangun di tempat indah penuh kehijauan yang sangat ia impikan.
Kulakukan prosesi serupa saat dulu kulakukan pada Caca dan Cici, Membuatnya seolah-olah seperti mati suri. Namun sialnya, kali ini tidak sesuai rencana. Tepat saat aku akan menyampaikan hal serupa pada ajudan, rupanya tidak hanya ajudan yang berada di luar, namun gubernur dan dua orang yang tidak kukenal. Salah satu diantaranya langsung menunjukkan lembar hasil lab padaku. Tertulis hasil lab dari laboratorium milik Profesor Afram, kau familiar dengan nama ini bukan, Janu?. Mungkin ada keterkaitannya? Di kertas itu tertera bahwa tidak ada bukti keberadaan tuberkolosis di kandang ini, sehingga sudah kupastikan bahwa mereka telah tahu kebohonganku waktu itu.
"Kami juga sudah mencari tahu kemana dua orangutan kemarin dibawa, dan Badan Konservasi itu? sudahku cabut izinnya, haha, makanya Sande, kan sudah kubilang jangan macam-macam, sudah kukasih kerjaan enak, kau malah banyak gaya begini, sekarang orangutan yang di dalam itu juga sudah sehat kan? Cuman kau buat tidur saja? Ajudanku bisa kau bodohi, tapi aku? Aku lebih cerdik dari kau, Sande!" Ujar gubernur bajingan ini yang setiap katanya semakin membuat darahku naik.
"Sekarang urusanmu selesai, kau dipecat! sekarang orangutan, berikan kembali orangutan itu, ada seorang sultan gila yang tertarik untuk membelinya," lanjutnya.
Tentu setelah melihat semua bukti yang dialami oleh Coco, segala penderitaan dan siksaan yang tergambar di raut dan tubuhnya. Aku sangat paham dengan apa yang terjadi jika kubiarkan mereka membawa Coco. Namun kali ini, aku mencoba bersikap lebih cerdik darinya.
"Baiklah kalau yang kau mau pak, ikut aku dan silahkan bawa orangutan itu," bersamaan dengan itu aku langsung berjalan masuk ke kandang, sebelum ke kandang aku segera mengambil sebotol Pentobarbital yang berada di sebuah kotak pada bagian depan kandang kuda, yang sebenarnya lebih sering digunakan untuk melakukan eutanasia pada kuda pacu gubernur yang mengalami cedera parah usai bertanding.
Seluruh orang sudah masuk mengerubungi Coco yang tertidur dengan lelap. Saat dua ajudan itu membungkuk untuk mengangkat Coco, aku menerjang maju. Kudorong tubuh mereka sekuat tenaga. Sebelum mereka sempat menyeimbangkan diri, aku menjatuhkan lututku di samping Coco. Tanganku merogoh saku cepat-cepat, menarik jarum besar berisi Pentobarbital yang sudah kusiapkan.