Ashen side of Sumatra

Bintang Harly Putra
Chapter #15

BAB 13 : SANG PENGACARA

(Perspektif Sande)

Tangan yang mulai memunculkan keringat dingin, serta gestur tidak tenang yang kuamati dari Donna, membawakan kepastian bahwa dia benar-benar gugup hari ini. Tepat hari ini, pukul sembilan pagi, persidanganku akan segera dimulai. Anehnya justru Donna-lah yang terlihat sangat gugup dan panik, sementara aku bersikap sangat tenang. Sikapku ini justru karena aku tahu bahwa sudah pasti aku akan kalah jadi tidak ada yang perlu ditakuti.

"Kita lakukan semampunya ya, Donna," ucapku teduh mencoba memberinya semangat. Tak lama kemudian seorang pria tinggi berkacamata satu muncul mendekati kami berdua.

"Donna, papa tahu kamu anak yang kuat, dan anak yang hebat, tapi ingat sekali lagi, jalan kamu masih panjang, dan hari ini bukan saatnya untuk kamu menang," ucap pria itu sembari menepuk-nepuk pundak Donna. Pria yang akhirnya baru kuketahui adalah Tambun Taruli, ayah dari Donna.

"Oiya Sande, boleh bicara sebentar?" lanjutnya kemudian mengajakku berbicara empat mata.

Aku mengiyakan ajakannya dan sedikit menjauh sebentar dari Donna.

"Aku cukup prihatin dengan masalahmu Sande, kau dihadapkan pada pilihan yang sudah pasti berakhir kalah, namun saat ini, kusarankan ikuti saja alurnya, dan satu lagi kuminta jika Donna menangis usai persidangan nanti, tolong hibur dia ya," aku menyadari bahwa sebenarnya Tambun adalah pria yang sangat baik dan peduli dengan anak gadisnya, hanya saja dia juga perlu bersikap profesional, dan aku memaklumi hal itu.

***

Waktu menyentuh pukul sembilan dan saatnya persidanganku dimulai. Kami dipersilahkan masuk ke ruang sidang. Kudapati dosen-dosenku, rekan sejawat, hingga perwakilan Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) hadir. Mereka menatapku dengan tatapan campuran antara kasihan dan jijik.

Donna duduk di sampingku, sebagai kuasa hukum atas masalahku. Dia tampak sangat gugup dan gemetar, kasus pertama yang ia tangani harus berhadapan dengan superior seperti gubernur dan ayahnya sendiri. Kucoba untuk menenangkannya, dengan menggenggam erat tangannya yang ternyata sudah sangat dingin akibat terlalu gugup.

"Donna, kamu sudah berusaha dan belajar semaksimal mungkin belakangan ini, menang atau kalah itu tidak penting, sekarang adalah waktumu untuk melakukan yang terbaik" sembari menatap matanya dalam-dalam.

Akhirnya aku dapat melihat senyumnya yang super manis, usai menghela napas panjang, dia segera menyiapkan berkas yang diperlukan untuk menjadi kuasa hukumku.

Donna berdiri, membacakan pembelaan dengan suara bergetar. Dia berusaha keras. Dia mengutip pasal Animal Welfare, kondisi darurat medis, hingga sumpah profesi.

"Klien saya, drh. Saidi Sande, melakukan eutanasia sebagai tindakan ultimum remedium untuk mengakhiri penderitaan hewan yang tak tertolong!" serunya.

Aku tersenyum bangga. Dia hebat. Tapi Tambun adalah monster di ruang sidang. Dia berdiri dengan tenang, tidak membawa tumpukan kertas, hanya kacamata bacanya.

"Yang Mulia," suara Tambun menggema, mematikan argumen Donna dalam satu kalimat. "Sumpah dokter hewan mewajibkan seorang profesional untuk mengutamakan kepentingan klien pemilik hewan. Saudara Sande, dengan sengaja membunuh properti bernilai miliaran rupiah milik Gubernur tanpa izin, tanpa urgensi medis yang bisa dibuktikan selain asumsi pribadinya."

Tambun menatapku tajam.

"Dia bukan menyelamatkan hewan. Dia merusak aset negara karena dendam pribadi. Dia menyuntikkan Pentobarbital dosis letal. Itu pembunuhan, bukan pengobatan."

Argumen Donna hancur lebur. Data, fakta, emosi... semua dipatahkan oleh logika hukum bisnis yang dingin. Palu diketok.

Lihat selengkapnya