Ashen side of Sumatra

Bintang Harly Putra
Chapter #16

BAB 14: PENJARA

Berangkatnya Sande untuk pulang usai penjelasan panjangnya hari ini, juga ikut menambah sepinya hariku di jeruji besi. Namun, pastinya tidak semenyedihkan itu juga. Fanya untungnya masih sempat untuk menjengukku setiap minggu, membawakan rantang dengan beragam makanan yang ternyata olahan tangannya sendiri. Selain makanan, ia juga membawa cerita tentang keberlanjutan investigasi Sande, Donna, dan dirinya.

Pada bulan pertama ia membawakan cerita tentang kebohongan lain dari Sande.

"Bang Janu tahu tidak? Ternyata Bang Sande itu tidak sedang kuliah hukum, tapi ya memang dia sedang belajar hukum secara nonformal, tapi aku tidak tahu alasannya kenapa," Fanya memulai obrolannya sembari menyendok nasi yang dia bawa. Bisa dibilang dia senang menemaniku makan sehingga dia juga membawa bekal untuk dirinya sendiri.

"Berarti selama ini dia bohong? Sial, banyak betul bohongnya, aku sudah tidak tahu mana lagi omongan dia yang bisa kupercayai," balasku menggerutu tentang kebiasaan bohong Sande.

Tapi perlu kuakui juga bahwa Sande memiliki kecerdasan yang luar biasa, sehingga yang bisa aku percayai bahwa setiap kebohongan yang dia lakukan selalu punya alasan logis yang nantinya baru bisa kumengerti.

"Oiya, sejauh ini bagaimana investigasi kalian?" tanyaku penasaran dengan kelanjutan kasus ini.

"Sejauh ini belum banyak petunjuk yang bisa kita temukan sih Bang, dan anehnya sejak Bang Janu masuk penjara, Bang Sande cenderung terlihat malas untuk melanjutkan kasus ini, kurasa dia memang kesepian dan butuh rekan untuk melakukan penelusuran bersama," tutur Fanya.

"Lah, kan ada kamu dan Donna?"

"Beda mungkin Bang, kalau aku sebenarnya sedikit malas mendengar Bang Sande bicara, dia terlalu banyak omong, hehe, dan juga kadang seperti ingin terlihat sok keren, ya, aku tahu dia memang pintar, tapi kadang terlalu berlebihan. Kalau Kak Donna aku tidak begitu tahu, cuman mungkin karena ini kasus berkaitan dengan keluarga Kak Donna sendiri, Bang Sande takut bicara berlebihan dan justru akan menyakiti perasaannya," jawab Fanya mencoba menjelaskan.

Pernyataan Fanya barusan benar-benar menyadarkanku mengenai pentingnya posisiku dalam penelusuran ini. Aku baru menyadari juga bahwa memang selama ini, mungkin aku satu-satu orang yang tahan untuk mendengarkan igauan Sande yang kadang melantur. Tentu saja, ketidakhadiranku pada investigasi akan sangat membuatnya kesepian.

"Kalau kabar Bu Lita bagaimana Fanya?" pertanyaan lainnya dariku yang juga bentuk kekhawatiranku dengan tempat kerjaku.

"Bu Lita sebulan ini, berusaha menyelesaikan masalah berita kita waktu itu Bang, dan untungnya sudah selesai, kemarin aku ikut membantu membuatkan berita klarifikasi mengenai kesalahan berita yang waktu itu kita buat, dia juga sudah kembali ke Jakarta. Namun begitulah Bang, katanya untuk saat ini dia belum bisa membantu Abang keluar dari penjara," jawab Fanya.

Bagiku keluar sekarang atau nanti itu urusan belakangan, yang terpenting saat ini adalah keselamatan Redaksi, khususnya Fanya dan Bu Lita. Mendengar kabar ini tentu sangat membuatku senang.

"Tapi Bang, yang soal Virus ASF itu, ternyata memang benar-benar ada Bang, kemarin aku lihat beritanya, dari hasil uji dokter hewan yang dikerahkan, Virus ini baru pertama kali muncul di Indonesia. Virus ini memang tidak menular ke manusia katanya, tapi benar-benar mematikan untuk babi yang terinfeksi," ucap Fanya.

"Ya, setidaknya berita kita saat itu tidak sepenuhnya bohong, haha," balasku mencoba sedikit bergurau dengannya.

Tak disadari makanan yang Fanya bawa sudah habis menyisakan buah melon yang sudah dia potong kecil-kecil. Jujur saja aku sudah sangat kenyang, namun karena tidak enak hati, kupaksakan saja memasukkan buah itu ke mulutku.

Buah pun habis, dilanjut kata pamit dari Fanya yang harus segera pulang karena jam besuk yang juga sudah habis.

***

Lihat selengkapnya