Ashen side of Sumatra

Bintang Harly Putra
Chapter #18

BAB 16 : BABAK BARU

Empat bulan dua puluh lima hari, sebagaimana jumlah coretan yang sudah kugoreskan di dinding penjara. Aku terdiam melihat ratusan garis-garis tak berguna itu.

"Aku tak bisa terus-terusan begini."

Aku putuskan untuk mengambil kain kecil di atas kasur kerasku, kubasahi dengan air seadanya. Perlahan aku usap kembali garis-garis itu, sudah tidak ada lagi guna semua coretan ini. Kuusap sekuat-kuatnya sampai tak ada lagi yang bersisa.

Hal itu tak lain hanya akan menyiksa kewarasanku. Aku sudah lupa dengan suara berisik kota Jakarta beserta orang-orangnya. Tak ada lagi harapan dari Sande, Donna, atau Fanya. Sel sempit ini adalah tempat akhirku sekarang, sudah sangat mungkin aku juga akan mati di sini.

"Tuhan yang Maha Memahami, jika aku harus mati di sini, jadikan aku manusia yang lebih baik dari kemarin," Ucapku sambil menyeka peluh usai menghapus semua garis-garis tak berguna itu.

***

Bulan kelima, aku mencoba lebih banyak bersosial bersama orang-orang yang senasib denganku. Sejahat dan segila apapun mereka dahulu, mereka semua punya kesamaan serupa, kerinduan pada orang-orang yang mereka kasihi.

Seusai doa-doa pasca salat Jumat hari ini, aku meminta izin pada sang Imam untuk sejenak berbicara dengan mikrofon di depan, dan dari sinilah aku memulai babak baruku di Penjara.

"Assalamualaikum bapak-bapak sekalian, memohon waktunya sejenak, perkenalkan aku Januar Hatta, sebelum masuk, aku adalah wartawan egois dan sombong yang cuma berpikir untuk berhasil dan dapat berita viral, tanpa peduli perasaan siapapun, dan sekarang, aku ingin kembali membawa berita, namun berita baik dari saudara dan saudariku di lapas ini, jadi kalau ada yang mau berita dan surat-surat dituliskan dan kabarkan kepada orang terkasihi di luar sana, aku akan selalu menunggu di teras masjid setiap seusai salat," yang kemudian kututup dengan salam bersambung suara parau.

Awalnya tidak ada satupun napi yang menghampiriku, dan kulihat waktu pun sudah mau masuk pukul tiga sore. Hingga tepat saat aku berdiri memasangkan sandalku, seorang pria tua, datang dan memegang lenganku.

"Nak, Ma-masih bisa buat surat?"

Aku tertegun dan menjawab lembut, "Bi-bisa Pak, ayo sambil duduk di teras masjid saja Pak."

Awalnya pria itu bercerita bahwa dia sudah ada di penjara itu mungkin sekitar 30 tahun lebih, dahulu dia ingat sekali kala itu berangkat menjadi anak buah kapal demi menyambung hidup, meninggalkan istri dan putrinya yang masih bayi. Setahun berselang dia akhirnya bisa pulang membawa mainan boneka beruang besar, yang dibelikan bosnya saat berlabuh di Cina kala itu. Ia sudah membayangkan begitu sumringah wajah putrinya saat memeluk boneka hangat, ya walaupun agak sedikit berat dirasa.

Hingga kapalnya menepi di pelabuhan, ia langsung dibekuk dan tak lama didakwa seumur hidup karena menyelundupkan 5 kg sabu dan dua ribu pil ekstasi di dalam boneka besar itu. Malang betul nasibnya.

"Sejak hari itu aku tak pernah tahu kabar istri dan putriku, aku bahkan sudah lupa akan namanya, tapi wajah mungilnya selalu ada di setiap malam. Aku ingin sekali menulis surat dari dulu, tapi aku tak paham baca tulis. Belum lagi, semua penyakit yang dikatakan dokter lapas padaku, katanya mungkin sudah dekat ajalku di sini."

Aku terdiam, jujur bagaimana caranya mengirimkan surat jika tak lagi ingat nama, tapi tetap kuiyakan untuk menulis surat setidaknya untuk membuatnya lebih bahagia di usia rentanya.

Ia mulai mengucapkan bait-bait indah yang selama ini ingin dia tulis, disambung penaku yang ikut bergerak mengikuti ucapannya. Semakin jauh ia bercerita, kulihat semakin deras air mata yang jatuh di kedua pipinya. 30 tahun kerinduan yang selama ini dia tahan, tanpa ada kabar dari satupun keluarganya.

Lihat selengkapnya