Ashen side of Sumatra

Bintang Harly Putra
Chapter #20

BAB 18 : SANG AYAH

(Semua cerita selanjutnya adalah perspektif dari Saidi Sande)

"Biarkan anak-anak kecil ini memakan ayah mereka sekarang... Tolong jaga putriku, Sande." Kata-kata yang terus terngiang di mimpiku pagi ini.

Sudah sebulan usai skandal besar di Sumatra Utara itu selesai, tetap saja perasaan ini menghantuiku. Usai kuputuskan untuk kembali bekerja untuk ternak-ternak Haji Itang, tetap saja tidak membuatku bebas dari perasaan campur aduk tentang hal yang selama ini kusembunyikan.

Di dalam kamar kos apek yang hanya tersisa aku sendirian, tidak akan datang lagi Jurnalis Bapuk yang menemaniku selama ini. Aku membuka sebuah surat yang selama ini aku simpan. semakin dalam aku menatap surat, surat yang diberikan oleh ilmuwan gila itu, aku semakin ingat kejadian berbulan-bulan lalu itu.

***

(Tujuh Bulan yang lalu)

Aku memutuskan untuk masuk ke dalam Lab Prof Afram, membawa sampel yang sedari tadi sudah kugenggam, membiarkan Januar, Donna, dan Fanya di luar. Tanpa basa-basi, Afram menutup pintu rapat-rapat, dan mengarahkanku untuk meletakkan sampel itu di atas sebuah meja. Dia mengajakku untuk duduk bersama di kursi lab yang kurasa berkualitas terbaik.

"Aku sering dengar ceritamu dari Donna, Donna begitu mencintaimu."

Aku sedikit terkejut dengan penyataanya itu, lagipula bukan urusan dia juga perihal hubunganku dengan Donna. Aku utarakan bahwa tujuanku hanya mau menguji sampelku.

"Tidak ada yang perlu kau uji, Sande. Sampel daging babi itu sudah pasti ada cacingnya, dan Sampel di peternakan itu, itu tidak berguna, hanya virus ASF yang memang baru masuk ke Indonesia tahun ini."

Aku terkejut, bagaimana dia bisa tahu apa yang mau kuuji?

"Aku sendiri yang memasukkan cacing ke babi-babi itu, cacing-cacing itu adalah anak-anakku, adik Donna."

Aku semakin tertegun dengan pernyataan tidak masuk akal dari ilmuwan ini. Bersamaan dengan itu, dia berdiri mencari sebuah kertas di antara tumpukan buku-bukunya. lalu dia lanjut memberikannya padaku. Surat yang membuatku terdiam begitu lama,

[SURAT PERNYATAAN PENYERAHAN ANAK]

"Donna itu anakku, saat mereka, adik-adik Tambun, mengusir istriku yang hamil besar ke jalanan, Tambun berhasil menemukannya dan membawanya ke rumah sakit dengan kondisi yang memprihatinkan, istriku mati di atas dipan rumah sakit, untungnya Donna, masih berhasil diselamatkan, namun kondisinya saat itu aku dipenjara, yang akhirnya aku memutuskan untuk memberikannya untuk diadopsi Tambun."

"Baru-baru ini akhirnya Donna tahu seputar fakta itu, hal itu juga yang menjadi alasan mengapa adik-adik Tambun begitu membencinya, bersamaan dengan itu, rupanya selama ini Tambun hanya menjadikan Donna seperti boneka, seperti alat, Donna dididik secara kasar, berbanding terbalik dengan Ester."

Tak satu patah katapun yang bisa aku ucapkan sekarang, aku hanya terdiam mendengar ilmuwan tua ini terus-terus bercerita, aku hanya bingung mengapa dia begitu percaya denganku.

"Donna datang kepadaku, beberapa minggu lalu, menangis sejadi-jadinya, menceritakan semua penderitaannya selama hampir dua puluh sembilan tahun hidupnya, semakin kudengar, semakin sakit hatiku. Harusnya tak aku biarkan Donna tinggal bersama orang-orang Bangsat itu, aku tidak mau Donna segera bernasib seperti Ibunya dulu, maka hari itu juga kuputuskan untuk merencanakan sebuah rencana, untuk membalas dendam nyawa istriku yang melayang sia-sia dan membalas penderitaan Donna selama ini."

Lihat selengkapnya