Aku mulai menjelaskan bagaimana Donna bermain selama ini.
"Dimulai dari, saat kau mengajakku untuk ikut ke pesta itu, kau tahu bahwa aku gila dengan kasus kematian, keberadaanku akan membuat tujuanmu menumbalkan Tambun akan berjalan mulus. Kau juga adalah orang yang menyarankan menu babi kepada kakakmu Ester, menu yang tidak akan bisa dimakan Tambun dan Ester yang sama-sama alergi babi, menu yang tidak bisa dimakan Maris karena kau tahu Maris juga tidak akan bisa duduk bersama dengan keluarga Tambun, aku menyadari itu dari gambaran denah dan CCTV pesta kala itu, kau adalah orang yang menyabotase daging-daging babi kecil itu agar terdapat cacing-cacing Afram di dalamnya."
"Diet di kala ada pesta babi? semua permainan murahan, aku tahu kau sangat suka makan babi, jadi tak mungkin kau diet disaat babi yang harum terhidang di depan matamu. Kau juga adalah orang yang membayar penjahat untuk menculik Januar dan Fanya ke hutan, kau memberikan mobil kuning mentereng pada Januar agar mudah terlacak oleh orang-orangmu, kau ingin mereka tidak ikut campur lebih, ya walaupun pada akhirnya mereka tetap batu dan tetap berani menghadapi semua kegilaan yang kau rancang."
"Kau juga adalah orang yang memasukkan ramuan Afram, deksametason, hyaluronidase, dan hormon asam dafa-keparat itu ke dalam minuman-minuman korban, kau memberikan denah dan pesanan yang seolah-olah dibuat Tambun itu kepadaku, agar aku terus beranggapan bahwa Tambun adalah pelakunya. Lalu siapa lagi, yang punya kekuasaan untuk membobol data Tambun, mengungkap kasus korupsinya dengan Gubernur kalau bukan kau, kasus yang semakin membuat Tambun benar-benar terlihat jahat."
Penjelasanku ditutup senyuman sinis dari bibir merahnya.
"Terus apa, Sayang? kau sudah dengar sendiri kan sejahat apa mereka? aku hanya memperjuangan keadilanku sendiri."
"Kau sudah berubah jadi monster, Donna," balasku pelan.
Donna berubah pitam, berbicara keras daripada sebelumnya, "Terus apa, Sande?! Mereka membunuh ibuku! membiarkan ayahku tersiksa di penjara! Aku! Aku menderita hidup dengan mereka bertahun-tahun, aku serasa budak di dalam rumah itu! KAU TIDAK AKAN PAHAM SANDE!!"
Teriakannya membuat beberapa pelanggan di kafe itu menoleh ke kami. Kami saling diam lama sekali, Donna mulai meneteskan air mata. Seusai Donna sudah sedikit tenang, dia kemudian kembali bersuara,
"Ka-kau dulu berjanji di sini untuk menemaniku menghadapi dunia yang gila ini, Sande. Ka-kau bohong! kau meninggalkanku tiba-tiba, dan datang hanya untuk memanggilku monster, kau juga sama-sama monster," ucapnya lirih sembari menyeka air mata yang sudah membasahi pipi lembutnya.
"Aku memang pernah membunuh orangutan, tapi aku tidak pernah membunuh manusia dengan cara sekejam dan secerdik dirimu," ucapku membela diri.
"Kau memang tak pernah membunuh, tapi... tapi kau hanya berdiri diam saat melihat ayahku bunuh diri?! kau bisa bilang padaku saat itu! panggil ambulans, a-atau merebut jarum itu! Tapi kau malah kabur! membiarkannya mati....." disambung tangis yang makin deras dari matanya.