Menjalani hidup selama sebulan lebih di Bukittinggi, lebih pelan dari sebelumnya, sesekali mengobati sapi-sapi Haji Itang yang sakit, atau sekadar meringkuk di dalam kamarku sembari mengunyah jamur ajaib yang mulai aku biakkan sendiri. Haji Itang entah mengapa begitu paham tentang keresahanku, sehingga dia seakan membiarkan aku menjalani hidup serampangan di tempatnya.
DOK! DOK! DOK!
Seseorang mengetuk pintu kamar kosku, kurasa dengan tongkat. Aku yang sudah berhari-hari tak mandi ditambah kamar yang berantakan ini, membuat aku sedikit tidak enak membukakan pintu itu pada siapapun di depan. Tak kuacuhkan. Hingga orang itu mulai berteriak dan bersuara.
"Bujang! Buka, Jang!" teriakan yang sangat aku kenal, Haji Itang, beserta panggilan khasnya padaku.
Aku membuka pintu itu pelan-pelan bau berantakan dan apek langsung menyeruak keluar saat aku membuka pintu itu, membuat Pak Haji sedikit menutup hidungnya.
"Ondehh Jang! Angku lihat Ang sudah tiga hari tak keluar kamar, kalau mau mati, jan mati di rumah Ambo!"