Ashes of The Silver Mist

Nurul Nijma
Chapter #2

Bab 1

Bau besi dan udara dingin menusuk hidung Rey saat ia berjalan menyusuri lorong batu istana yang lembap. Di luar, kabut perak tebal menempel ketat pada jendela-jendela tinggi berjeruji, seolah-olah menjadi dinding tak kasat mata yang mengurung Kerajaan Lyria dari sisa dunia. Kabut itu telah berada di sana selama seribu tahun, tak pernah terangkat, tak pernah menipis, menelan setiap sudut kota dalam kesunyian yang mencekam.


Darah di bilah pedangnya mulai mengering dan menghitam. Pagi ini, tiga penyusup dari faksi pemberontak berhasil menerobos gerbang barat sebelum Rey sendiri yang menghentikan napas mereka. Orang-orang itu adalah prajurit kerajaan, rekan-rekannya sendiri yang telah dibutakan oleh keputusasaan dan hasutan para tetua.


Rey berhenti di depan pintu jati raksasa berukiran naga yang mengarah langsung ke ruang kerja Ratu. Dua penjaga berzirah berat membungkuk dalam-dalam, tak berani menatap mata sang Panglima Tertinggi yang penuh kilat berbahaya. Tanpa mengetuk, Rey mendorong pintu tersebut hingga terbuka perlahan.


Suasana di dalam ruangan melankolis dan sepi. Tidak ada perapian yang menyala, meski suhu udara di dalam istana bisa membekukan jemari. Di balik meja kayu hitam yang ditumpuki gulungan perkamen kuno, Ratu Reyra duduk tegak. Rambut silvernya yang panjang terurai hingga menyentuh lantai, berkilat seperti benang perak di tengah kegelapan ruangan. Kulitnya yang pucat bagai porselen terlihat hampir transparan di bawah remang cahaya lilin.


"Kau membunuh mereka lagi, Rey," suara Reyra memecah keheningan. Halus, datar, dan tanpa emosi, bagaikan embun pagi yang membeku. Rey melangkah masuk, menyarungkan pedangnya dengan denting nyaring yang bergema. Ia berlutut di depan meja Reyra, menundukkan kepalanya. "Mereka coba mendekati area istana dengan membawa racun, Yang Mulia. Mereka adalah ancaman."


Reyra perlahan meletakkan pena bulunya. Mata kelabunya yang redup menatap puncak kepala Rey yang tertunduk. "Mereka hanya rakyat yang ketakutan. Mereka pikir dengan membunuhku, kabut ini akan hilang dan matahari akan kembali menyinari Lyria." Rey cepat menjawab, "Mereka bodoh. Mereka tidak tahu apa yang telah Yang Mulia korbankan untuk menjaga tanah ini tetap berdiri. Kebenaran tidak pernah ada di kepala para pengkhianat itu."


Reyra menyunggingkan senyum tipis, senyum yang lebih mirip sebuah sayatan duka daripada tanda kebahagiaan. Ia bangkit dari kursinya, melangkah perlahan mengitari meja. Gaun hitam elegannya menyapu lantai tanpa bersuara. "Kebenaran adalah hal yang sangat berat untuk dipikul, Rey," ucap Reyra pelan. Ia berhenti tepat di samping Rey yang masih berlutut. Jemari tangannya yang dingin menempel pada pipi Rey, menyapu setitik noda darah kering yang tertinggal di sana.


Sentuhan itu begitu dingin, namun bagi Rey, itu adalah satu-satunya kehangatan yang menjaganya tetap bernapas di tengah kerasnya dunia. Rey memejamkan mata sejenak, menikmati kehangatan implisit dari kepedulian ratunya yang tak tersampaikan lewat kata-kata. "Suatu hari nanti, beban ini akan membunuhmu jika kau terus berada di sisiku," lanjut Reyra, suaranya nyaris seperti bisikan angin di luar jendela. "Para tetua dewan sedang mengumpulkan kekuatan di distrik selatan. Kejadian di balairung kemarin hanya pemicu awal. Mereka akan kembali dengan jumlah yang lebih besar."


Rey membuka matanya, meraih pergelangan tangan Reyra yang hinggap di pipinya. Genggamannya hangat dan protektif, berbanding terbalik dengan tangan sang Ratu yang sedingin es. "Biarkan mereka datang," ucap Rey mantap, tatapannya membara oleh kesetiaan mutlak.


"Selama saya masih memegang pedang, tidak akan ada satu pun manusia, iblis, atau sihir yang bisa menyentuh Yang Mulia. Kerajaan ini milik Yang Mulia, dan hidup saya adalah milik Yang Mulia."


Reyra menatap dalam-dalam ke dalam mata sang panglima. Ada kepedihan tak terukur yang menyayat hatinya yang telah mati rasa. Reyra tahu bahwa kabut di luar sana adalah segel dari jiwa perkasanya sendiri, dan pembantaian Elf seribu tahun lalu adalah dosa manis yang harus ia tanggung. Rey bertaruh nyawa untuk melindunginya, tanpa tahu bahwa takdir akhir sang Ratu memang ditakdirkan untuk hancur.


"Berdirilah, Panglima," perintah Reyra lembut, menarik tangannya perlahan dari genggaman Rey.


Lihat selengkapnya