Di dalam ruang takhta yang sunyi dan dingin, Reyra duduk menyandar pada kursi batu hitamnya. Keheningan di ruangan itu sangat pekat, hanya diisi oleh desis halus dari Sihir Hitam yang memancar dari jemari lentiknya.
Di hadapan sang Ratu, melayang sebuah bola asap hitam pekat. Asap itu bergulung perlahan, membiaskan bayangan sesosok pria berzirah perak yang sedang menembus pekatnya kabut abadi di Benteng Timur. Pria itu terus melangkah tanpa ragu, menerjang badai sihir dan suhu membeku yang sanggup meremukkan tulang manusia biasa. Reyra memperhatikan setiap gerakan panglimanya melalui bola asap tersebut. Tatapan mata kelabunya menajam, penuh dengan perasaan campur aduk.
Reyra memikirkan pria bodoh itu, batinnya sunyi. Kegigihan Rey sungguh tak masuk akal, karena pria itu bertaruh nyawa seolah kematian hanyalah bisikan angin lalu, hanya demi menjalankan perintah sederhana yang ia berikan. Ada hangat yang menyengat sekaligus kepedihan mendalam yang membelit dada Reyra saat melihat betapa besarnya kesetiaan pria itu.
Klek. Klek. Klek. Langkah kaki yang berat dan teratur bergema di sepanjang koridor porselen, memecah kesunyian ruang takhta. Dengan kibasan pelan jarinya, Reyra menghancurkan bola asap hitam itu hingga buyar tak berbekas. Ia kembali menegakkan posisinya, memasang topeng dingin tanpa ekspresi yang telah ia pakai selama seribu tahun.
Sesosok pria tua berpenampilan agung melangkah masuk, mengenakan jubah sutra hitam berhiaskan sulaman benang emas yang mewah, pakaian kebesaran Dewan Tetua Lyria. Pria itu adalah Lucus, dengan tatapan matanya yang tajam, sarat akan ketamakan, dan memancarkan aura permusuhan yang begitu pekat. Meski wajah Lucus dipasang dalam senyum formal yang palsu, niat membunuh di balik matanya begitu tajam hingga mampu membuat siapapun bergidik.
Niat itu sungguh membuat Reyra muak, namun sang Ratu tidak menunjukkan sedikit pun kekesalan di wajah porselennya. "Mau apa kau kemari, Lucus?" suara Reyra mengalir datar, memotong langkah Lucus tepat di tengah ruangan. "Oh... aku tahu maksudmu, kau mencari Rey, kan?"
Lucus menghentikan langkahnya, menundukkan kepala sekilas dalam gestur penghormatan yang penuh kepalsuan.
Reyra menyunggingkan senyum tipis, senyum dingin yang mengancam. "Percuma saja, dia tidak ada di sini. Aku tahu kau berniat menghabisinya karena dia mengganggu rencanamu."
Lucus perlahan mengangkat kepalanya, senyum palsunya luntur, digantikan oleh cengiran licik yang tak lagi berusaha disembunyikan. Ia menegakkan tubuhnya, menatap Ratu yang duduk sendirian di atas takhta tanpa perisai utamanya.