Ashes of The Silver Mist

Nurul Nijma
Chapter #5

Bab 4

Langkah kaki Rey bergema , kaku di atas tanah Benteng Timur yang telah membeku jadi kristal hitam. Di balik topeng besinya, helaan napas sang Panglima terdengar teratur, berat, dan bergaung panjang. Kabut perak yang melingkupinya kini berubah warna-bukan lagi putih pucat, melainkan membiru pekat dengan pusaran bayangan hitam yang menari-nari di udara, entah kenapa seperti mengingat sesuatu.


Semakin dalam ia menjejak, semakin kuat juga desisan gaib yang berbisik langsung ke rongga telinganya, pelan tapi nempel.


"Prajurit bodoh... kau menjaga dia , padahal tangannya yang memegang lehermu..."

"Ratu berdarah dingin... dialah yang menggiring neraka ini..."


Rey menggeram rendah di balik topeng besinya. Genggamannya pada gagang pedang makin rapat, sampai sarung tangannya seperti berebut bunyi dengan besi zirah. Ia menepis suara-suara ganjil itu dari kepala. Dalam pikiran Rey, bisikan seperti itu cuma racun sihir dari para Elf yang mencoba mengacau fokus. Ia tidak akan meragukan Reyra. Tidak malam ini, tidak malam yang lain, bahkan untuk selamanya.


CRACK!


Pijakan Rey berhenti mendadak saat ujung sepatunya membentur sesuatu yang keras. Ia menunduk. Di bawah lapisan es yang tipis, terbaring sesosok prajurit patroli Lyria.


Tubuhnya masih utuh, namun kulitnya telah menjadi hitam legam , bagaikan kayu terbakar, dan matanya membelalak membeku menatap langit malam yang tertutup kabut rapat.


"Sihir pembusuk jiwa..." gumam Rey. Suaranya serak, tertahan rapat oleh topeng besi.


Ini bukan sekadar kabut biasa. Ada yang mencoba mengoyak batas benteng dari luar, seakan segel tua itu sedang dipaksa untuk tunduk. Sihir hitam yang ditinggalkan para Elf seribu tahun lalu mendidih, merespons gejolak politik yang sedang berdesir di dalam istana. Jika segel ini retak sedikit saja, kabut raksasa itu akan menelan seluruh kota dalam hitungan jam, tanpa belas.


Tiba-tiba, udara di sekeliling mendadak hening, begitu saja. Bisikan gaib yang memekakkan telinga lenyap, seperti ditarik paksa.


DUB. DUB.

Lihat selengkapnya