“Ik wil naar huis..” Suara lirih Oma mengalun sendu diantara semilir angin yang menyapa halaman rumah tua kami senja itu. Sebuah senja di awal musin panas yang hangat. Tatapan mata oma yang sesendu awan kelabu, menatap ke arahku dengan sorot mata penuh harap.
“Naar huis gaan, waarhen..? Het huis van oma is hier…” Aku menatap bening bola mata hitamnya yang mengurai resah.
“Indonesie…”
Jawaban oma membuatku tercekat dalam kebisuan. Sambil menghela nafas lelah aku mengitarkan pandang ke sekeliling taman rumah tua ini. Rumah tua beratap jerami yang diwariskan turun temurun sejak abad 19.
“Alleen jij kunt me daarhen brengen…”
Suara oma sedikit tersamar diantara suara angsa yang sedang berenang di kanal yang melintasi taman depan rumah tua kami. Tanpa sadar aku menoleh ke arah angsa berwarna putih itu. Angsa soliter yang memilih terpisah dari kelompoknya. Seperti juga oma yang memilih menghabiskan masa pensiunnya di rumah tua ini. Karena tidak mau tinggal bersama anak-anaknya di Amsterdam.
Rumah tua peninggalan keluarga kami memang tempat yang pas untuk menghabiskan masa tua. Terletak di desa Giethoorn yang merupakan bagian dari provinsi Overijssel. Desa minim polusi karena tidak memiliki jalan raya. Desa yang dikelilingi kanal berair jernih dengan 176 jembatan yang menghubungkan setiap rumah ke daratan.
Setiap rumah yang rata-rata dibangun pada abad 18-19 ini memiliki halaman dengan taman-taman yang ditata apik. Setiap musim semi dan musim panas, bunga beraneka warna bermekaran menghiasi halaman yang beralaskan rerumputan hijau.
Desa berpemandangan indah dengan taman dan kanal yang mengelilinginya ini seperti tempat-tempat di negeri dongeng. Makanya tidak salah kalau Giethoorn dikenal sebagai fairytale village-nya Belanda.
“Maar de reis ernaartoe is niet gemakkelij, oma.. het duurde meer dan 30 uur..”
“Het kan me niet schelen..!”
Perempuan bernama lengkap Oriza Catharina van Der Berg itu menatap tajam ke arahku. Entah kenapa aku malah melihat tatapan oma kali ini seperti bukan tatapannya selama ini. Tatapan yang terasa asing. Padahal aku sudah mengenalnya lebih dari 25 tahun. Sejak aku mulai bisa mengingat memori kebersamaanku dengannya.
“Zie het maar als mijn cadeau voor mijn 85e verjaardag..”
Suara oma kembali melirih. Membuat aku terhenyak penuh penyesalan. Aku tahu kalau di usia oma yang sekarang ini bukan hal yang mudah untuk mengingat berapa umurnya sendiri. Sebab hal ini berkaitan dengan berapa lagi usia yang tersisa. Apakah tahun depan masih bisa merayakan ulang tahun lagi atau tidak.
“Waarom wil oma daar zo graag heen..?”
“Ik wil mijn moeder nog een laatste keer ontmoeten..”
Kali ini oma berujar sembari menatap mataku dengan sepasang bola matanya yang seteduh bianglala senja. Lagi-lagi aku tercekat karenanya. Karena di bola mata itu aku melihat kerinduan yang sangat dalam. Seperti juga kerinduanku pada oma yang selalu aku rasakan selama ini. Seperti segelas air putih yang aku rindukan setiap bangun tidur di pagi hari.
“Ik wil zijn knuffel weer voelen..” Oma meraih tanganku dan menggenggamnya dengan lembut. “De laatste keer dat ik een knuffel voelde, was toen ik 5 jaar oud was..”