ASIH VAN DER BERG

DK Sumirta
Chapter #2

PEREMPUAN DARI PERKEBUNAN DJATI NANGOR

“Maaaaaaaaaak…..!” Suara teriakan seorang gadis muda tiba-tiba memecah keheningan sebuah perkebunan teh yang menghampar luas di sebuah perkampungan bernama Djati Nangor. Para pemetik teh yang hampir seluruhnya berjenis kelamin perempuan itu spontan terhenyak dan berpaling ke arah suara teriakan.

“Asih….? Kamu kenapa…? Digigit ular…?” Mereka ramai-ramai berteriak ke arah suara teriakan yang menghebohkan siang itu.

“Maaaaaaaak….! Asih berdarah…”

Degghh..! Semua terperanjat kaget. “Apa…? Berdarah…? Jangan-jangan ular yang menggigit si Asih sangat besar…! Ayo kita lihat….!” Perempuan-perempuan pemetik teh itu berlarian menuju ke arah suara teriakan sambil melebah mencemaskan kondisi yang sedang menimpa Asih.

“Beri tahu ibunya…!”

“Dimana….?”

“Di rumah tuan Jansen….!”

Seorang pemetik teh berlari kencang menuju rumah pemilik perkebunan yang bernama tuan Jansen van Dijk. Dia melewati jalan setapak yang berkelok-kelok diantara rumpun-rumpun perdu teh.

Ditengah-tengah perkebunan teh dengan luas ribuah hektar itu tampaklah sebuah rumah bergaya indisch. Rumah super besar dengan gaya perpaduan antara arsitektur kolonial Eropa dengan elemen tropis. Letaknya berada di dataran tertinggi yang ada di perkebunan itu. Hingga hamparan perkebunan bisa terlihat dari rumah itu.

“Miiin….. Mintarsiiih….!”

Suara pemetik teh yang hendak memberitahukan tragedi yang sedang menimpa Asih terdengar sayup-sayup diterbangkan angin. Dari arah perkebunan terlihat sosok perempuan bertubuh ceking berlari kencang menyeruak rimbunan rumpun-rumpun teh yang pucuknya berkilatan tertimpa cahaya matahari.

Perempuan itu berteriak sambil melintasi halaman rumah yang sangat luas. Melewati kolam besar dengan bunga-bunga teratai warna putih dan ungu yang sedang bermekaran.

“Mintarsiiih….!”

Dengan nafas terengah-engah dan sekujur tubuh basah kuyup oleh peluh, perempuan itu akhirnya tiba di depan pintu dapur belakang. Sambil menenangkan dirinya dia mengitarkan pandang ke sekeliling rumah yang sunyi senyap. Keningnya mengernyit keheranan. Karena teriakannya yang super keras itu tidak ada yang menyahut.

“Miin… Mintarsih….” Dia kembali berteriak sambil matanya menerawang ke arah bangunan kokoh dengan atap pelananya yang menjulang tinggi dan kemiringannya yang sangat curam. Di bagian depan tampak beranda terbuka dengan kursi-kursi santai dari kayu jati.

“Iyam…..?!” Suara seseorang terdengar dari pintu dapur belakang. Degghh..! Pemetik teh bernama Iyam itu tersentak kaget. Buru-buru dia berpaling ke arah pintu dapur yang kini sudah terbuka. Seorang perempuan kurus berwajah keras berdiri diambang pintu.

“Anak kamu digigit ular sanca….!”

“Apa…?” Perempuan yang ternyata ibunda Asih itu tersentak kaget. Tangisnya seketika pecah. “Asiiiiih…..?!”

“Jangan nangis dulu….!” Sret…! Iyam meraih tangan Mintarsih dan menyeretnya sambil berlari meninggalkan tempat itu. Hal itu tentu saja membuat Mintarsih kelabakan. Kakinya yang terbalut kain sinjang spontan diangkatnya hingga setengah betis. Kemudian terseok mengikuti langkah Iyam yang berlari memasuki perkebunan.

Sosok kedua perempuan bertubuh ramping itu terlihat berlarian menyusuri jalan setapak ditengah-tengah perkebunan yang menghampar luas. Dari atas hanya terlihat dua sosok mahluk kecil yang berlarian ditengah hamparan luas. Terlihat Iyam berlari didepan Mintarsaih yang terseok dibelakangnya. Iyam terlihat lebih gesit berlari karena memakai bawahan sarung batik yang longgar.

Meskipun bekerja di area yang sama, pakaian yang dikenakan Iyam yang bekerja sebagai pemetik teh, beda sekali dengan Mintarsih yang bekerja sebagai pelayan. Para pemetik teh dibolehkan memakai sarung dan kebaya yang lebih longgar untuk memudahkan bergerak. Sementara para pekerja di rumah Tuan Jansen, harus memakai kebaya yang lebih ketat yang dipadukan dengan kain sinjang. Sehingga gerak mereka lebih terbatas.

Di lembah perkebunan yang sunyi terlihat Asih yang sedang menangis tersedu sambil menangkupkan kedua tangannya di dada. Dia duduk berselonjor di tanah. Lelehan darah segar tampak keluar dari sela-sela sarung batiknya yang lusuh.

“Maaak… Asih takuuut….”

“Sih…. Asiiih…..!” Suara para pemetik teh terdengar riuh rendah dari kejauhan. Semakin lama semakin terdengar jelas. Membuat Asih semakin kencang berteriak disela-sela tangisanya.

Lihat selengkapnya