Bak.. buk..! Bak.. buk..! Bak.. buk…! Suara pukulan terdengar berganti-gantian diantara suara riuh rendah orang-orang yang menyemangati jagoan masing-masing.
“Pukul mang… pukul…! Jangan mau kalah..! “ Suara-suara itu membahana diantara lembayung senja yang sudah menampakan keindahannya di sebelah barat langit. Aura magisnya berpendaran ke sebuah arena sabung ayam yang menjadi tempat perkelahian Sahroji dan lawan-lawannya.
Di dalam arena terlihat Sahroji sedang bergumul dengan tiga orang lawannya. Bug..! Bug..! Bugg..! Sahroji berhasil menghantamkan tinjunya ke perut salah seorang lawannya.
“Ahhh…!” Lawan Sahroji terkaing-kaing. Bug..! Bug..! Kali ini Lawan Sahroji yang ada diatasnya berhasil menyarangkan pukulannya ke punggung Sahroji.
“Aaaah….!” Blak…! Sahroji terjengkang. “Kurang ajar kamu….! Hiyaaa..!” Sahroji melompat hendak membalas. Tapi bug…! Lawan yang lainnya menyabetkan tendangannya ke arah pinggang Sahroji.
“Rasakan ini..!”
“Aaaaaaa…!” Brugg..! Sahroji tersungkur ke samping. Bug..! Bug..! Bug..! Dua lawan Sahroji menghantamkan pukulannya ke tubuh Sahroji dari berbagai arah. Membuat Sahroji terkaing-kaing minta ampun sambil melindungi wajahnya.
“Ampuun….! Ampuuun….!”
“Tidak ada ampun buat kamu… !” Bug..! Bug..! Bug..! Lawan-lawan Sahroji memukulinya tanpa berhenti. Dada, perut dan kaki Sahroji tak luput dari hantaman tinju dan tendangan kaki mereka.
“Ampuun… ampuuun… “ Suara Sahroji yang minta ampun mulai melemah. Tapi ketiga lawan Sahroji tak mempedulikannya. Mereka terus memukuli Sahroji sambil mengeluarkan sumpah serapah dari mulut masing-masing.
“Kalau kalah harus terima…!”
“Saya bukannya tidak terima..! Tapi kalian curang….!” Sahroji masih melawan dengan suaranya yang terengah-engah menahan pukulan.
“Tidak usah cari alasan….!”
“Jangan-jangan dia tidak mau bayar, mang.. makanya bilang kita curang…!”
“Geledah bajunya….!”
Salah seorang diantara mereka menggeledah baju Sahroji. Tapi tidak menemukan apa-apa. Hal ini tentu saja membuat lawan Sahroji berang.
“Kurang ajar kamu..! Lucuti pakaian dia…!”
“Jangaaaan….!” Sahroji berusaha mempertahankan lapis demi lapis bajunya yang sedang direnggut oleh lawan-lawannya. Tapi lawan-lawan Sahroji malah semakin beringas. Mereka tidak membiarkan sehelai benangpun menempel di tubuh Sahroji.
“Bakar….!”
Byarrr..! Dalam sekejap api membakar baju dan celana Sahroji diantara tatapan kemarahan pemiliknya.
“Kalian keterlaluaaaan..!” Sahroji histeris meluapkan kemarahannya. Tapi bug..! Lawan Sahroji malah menendang ulu hatinya.
“Aaaaah….!” Sahroji tersungkur ke sudut. Tubuhnya langsung tak bergerak saking kerasnya tendangan sang lawan.
“Biarkan dia kehilangan nyawanya…!” Lawan yang menendang Sahroji mendengus kesal. Kemudian menyambar kiso berisi ayam jago miliknya dan bergegas meninggalkan tempat itu. Kedua temannya mengikuti dia setelah kembali menendang Sahroji yang sudah dalam kondisi tak bergerak.
…
Suasana sekeliling sudah gelap gulita ketika sayup-sayup terdengar suara seorang perempuan diantara ramainya suara jeritan binatang malam.
“Kang Sahroji… Kang Sahroji…”
Suara itu sejenak menghilang seperti diterbangkan angin. Hingga kemudian terdengar kembali dari kejauhan. Makin lama makin terdengar jelas. Hingga tampaklah sebuah bayangan sosok perempuan yang menyeruak dari kegelapan malam.
“Kang.. Akang dimana…?” Dalam keremangan cahaya obor terlihat wajah Mintarsih yang cemas. Tangan kanannya membawa obor kecil yang berbahan minyak buah jarak.
Dengan obor kecil itu Mintarsih menajamkan penglihatannya. Meneliti sudut demi sudut tempat itu untuk mencari keberadaan suaminya. Hingga tatatapan tajamnya terhenti di sebuah sosok laki-laki tanpa busana yang meringkuk di sebuah sudut.