Oli mesin, debu sisa kampas rem, dan keringat yang mengering adalah parfum mahalku siang ini. Matahari Jakarta seolah sengaja memusatkan seluruh sinar ultravioletnya tepat di atas ubun-ubunku. Aku mengusap dahi dengan punggung tangan yang kotor, meninggalkan jejak hitam melintang di sana.
Tepat di depanku, seorang bapak paruh baya bertubuh tambun, pemilik rumah bergaya minimalis yang sedari tadi mengawasiku sambil menyeruput es teh manis, menatapku dengan sebelah alis terangkat.
"Jadi, totalnya berapa, Mas Yoga?" tanyanya, suaranya terdengar seperti orang yang sudah bersiap untuk mendebat.
Aku menarik napas panjang, mencoba menetralkan suhu tubuhku yang rasanya sudah mencapai titik didih. "Tiga ratus lima puluh ribu, Pak," jawabku tenang.
Mata bapak itu membelalak, seakan aku baru saja meminta sertifikat rumahnya. "Lho? Kok mahal banget, Mas? Kemarin kata tetangga saya, servis beginian paling seratus lima puluh!"
Ini dia. Momen yang paling kubenci dalam profesi freelance 'palugada'(apa lu mau, gue ada). Otakku yang terbiasa menganalisis skema kelistrikan rumit dalam hitungan detik, kini harus kupakai untuk merangkai kata agar orang pelit ini paham.
"Begini, Pak," aku memulai, mencoba sabar, "Tiga ratus lima puluh ribu itu bukan cuma ongkos kerja. Avanza Bapak tadi businya mati dua, kampas rem depan sudah tipis nyaris makan cakram, saya ganti baru. Belum lagi AC ruang tamu Bapak yang kapasitornya gosong, saya belikan kapasitor baru. Dan TV LED di kamar Bapak, itu motherboard-nya ada jalur yang putus, saya harus solder ulang pakai mikroskop kecil saya. Bapak hitung saja harga sparepart-nya."
"Halah, Mas ini hitungannya terlalu kaku sama orang tua. Busi sama kapasitor doang mah murah di bengkel pinggir jalan. Udah, seratus ribu aja ya? Hitung-hitung bantu bapak, nanti saya promosiin ke RT sebelah deh."
Seratus ribu. Dadaku rasanya seperti ditimpa flywheel truk tronton. Harga sparepart yang kubeli pakai uang pribadiku tadi pagi saja sudah habis dua ratus lima puluh ribu. Kalau aku dibayar seratus ribu, aku bukannya untung, tapi menguras tabunganku yang isinya tak seberapa ini. Secara matematis, aku rugi bandar.
Aku ingin marah. Aku ingin membongkar kembali busi mobilnya, mencabut kapasitor AC-nya, dan memutuskan kembali jalur TV-nya dengan kejam. Otakku sudah menyusun sepuluh skenario argumen mematikan yang akan membuatnya terdiam. Tapi, aku menahan diri. Aku butuh sesuatu yang saat ini jauh lebih berharga daripada seratus lima puluh ribu: reputasi digital.
"Ya sudah, Pak. Seratus ribu tidak apa-apa," ucapku akhirnya, menelan ludah yang rasanya pahit. "Tapi saya minta tolong satu hal."
"Nah, gitu dong! Minta tolong apa, Mas?" Bapak itu semringah, buru-buru merogoh dompetnya dan mengangsurkan selembar uang seratus ribu bergambar Soekarno-Hatta yang tampak lecek.
"Tolong kasih ulasan bintang lima di Google Maps untuk 'Yoga Multi-Service', Pak. Tulis yang bagus-bagus. Bilang pelayanannya cepat dan memuaskan."
"Oh, gampang itu! Sekarang juga saya kasih!"
Sambil merutuk dalam hati, aku menerima uang itu. Seratus ribu untuk pekerjaan setara teknisi bengkel resmi, teknisi AC, dan tukang servis elektronik yang digabung jadi satu. Aku menenteng tas perkakas pelastikku yang beratnya nyaris sepuluh kilo, berjalan menuju Si Belalang hitam (motor Honda Beat hitamku) yang terparkir di luar pagar. Motor ini spionnya agak kendor dan suara mesinnya kadang mirip helikopter kalau digas kencang.
Aku menyalakan mesin. Perutku berbunyi nyaring, sebuah protes biologis yang tak bisa dibantah. Seratus ribu di kantong, berarti aku harus puasa makan enak hari ini. Mungkin Indomie telur atau nasi warteg dengan lauk tempe orek dan kuah sayur lodeh yang dibanyakin.
Di tengah perjalanan pulang menembus jalanan yang padat dan berdebu, mataku menangkap sebuah kerumunan di trotoar pinggir jalan raya. Sebuah spanduk kecil terbentang: Makan Siang Gratis untuk Umum.
Rem Beat-ku mendadak kucengkeram. Ban motor berdecit pelan. Insting kemiskinanku bereaksi lebih cepat daripada kedipan mata. Makan gratis. Itu artinya aku bisa menyimpan uang seratus ribuku utuh-utuh hari ini. Tanpa pikir panjang, aku meminggirkan motor, memarkirnya di dekat tiang listrik, dan setengah berlari bergabung ke barisan antrean yang didominasi oleh ojol, tukang becak, dan anak-anak jalanan.
Aroma sedap ayam goreng dan tumis buncis menguar di udara, membuat perutku semakin keroncongan. Barisan bergerak maju dengan cukup cepat. Aku menunduk, membersihkan sisa debu di kemeja flanelku yang warnanya sudah pudar kemerahan, mencoba setidaknya terlihat sedikit pantas saat menerima makanan.
"Silakan, Mas. Nasi kotaknya."
Sebuah suara yang sangat lembut, seperti alunan melodi di tengah hiruk-pikuk klakson jalanan, menyapa gendang telingaku. Aku mendongak.
Dan detik itu juga, waktu seakan berhenti.
Di hadapanku, memegang sebuah kotak sterofoam berisi makanan, berdiri seorang perempuan yang membuat seluruh logika di otakku mendadak error. Dia mungil, mungkin sekitar 150 sentimeter. Rambutnya panjang terurai bergelombang berwarna hitam dengan sentuhan cokelat, bergerak pelan ditiup angin jalanan. Kulitnya putih bersih, sangat kontras dengan lingkungan berdebu di sekitarnya. Tapi yang paling membuatku mati kutu adalah matanya; bulat, jernih, dan bersinar dengan ketulusan saat menatapku. Dia terlihat seperti seorang artis dracin yang salah turun dari dimensi lain dan terdampar di trotoar berdebu ini.
Aroma parfumnya menyapu penciumanku, campuran vanilla dan bunga yang mahal, sama sekali tidak bercampur dengan bau asap knalpot.
"Mas?" tegurnya lagi, kali ini dengan senyum kecil yang membuat lengkungan indah di bibirnya. "Nasinya?"
Aku gelagapan, seperti orang idiot yang baru belajar bicara. "Eh... oh, iya. T-terima kasih, Mbak." Aku menerima kotak itu dengan tangan gemetar, sangat berhati-hati agar sisa oli di jariku tidak menyentuh kulit tangannya yang seputih pualam.
Aku berjalan menjauh dari antrean, kakiku terasa ringan seperti melayang. Aku duduk di atas sebuah trotoar beton yang agak teduh di bawah pohon mahoni, membuka kotak makanku, tapi mataku tidak bisa lepas dari gadis itu. Aku mengunyah nasi dan ayam goreng tanpa benar-benar meresapi rasanya.
Otakku yang biasanya mampu menganalisis kode biner, sirkuit kelistrikan rumit, atau memecahkan sandi algoritma, kini sibuk mencari jawaban atas satu pertanyaan sederhana: Siapa dia? Aku sering melihat perempuan cantik di jalan atau di televisi atau saat aku sedang kerja dirumah customerku, tapi tidak pernah ada yang membuat dadaku berdebar sekeras ini, sampai rasanya nafasku sedikit sesak. Aku grogi hanya dengan melihatnya dari jarak sepuluh meter.
Ada beberapa pemuda seusianya di sana, mungkin teman-temannya, yang ikut membantu membagikan makanan. Namun gadis itu yang paling aktif, paling ramah, selalu tersenyum pada setiap orang.