Keesokan harinya, takdir seolah sedang mengerjaiku. Aku mendapat panggilan kerjaan di sebuah perumahan elit di kawasan Alam Sutera. Jangankan masuk, untuk melewati gerbang utamanya saja aku harus menitipkan KTP di pos sekuriti yang wajah penjaganya lebih seram dari debt collector.
Aku memacu Honda Beat-ku pelan menyusuri jalanan paving block yang mulus tanpa kerikil. Mataku menyapu deretan rumah di kanan-kiri.
Buset dah, batinku meringis. Ini rumah-rumah bagus banget. Harganya berapa miliar, ya? Kalau pakai penghasilanku sebagai kuli palugada, perlu berapa kali reinkarnasi buat nyicilnya sampai lunas?
Hari ini, aku mendapat tugas panggilan untuk mendiagnosis sebuah mobil Range Rover Evoque yang mendadak mogok di garasi. Customer-ku kali ini adalah seorang pria bertubuh raksasa, botak, berkumis tebal melintang, dan memiliki tato "I Love Mom" yang menutupi separuh bisep kanan lengan bajunya. Wajahnya sekilas mirip preman pasar induk, tapi anehnya, orangnya sangat ramah, jauh dari perawakan fisiknya yang seperti Hulk versi kearifan lokal.
Setelah berkutat selama tiga puluh menit di bawah kap mesin yang masih hangat, aku bangkit dan mengelap tanganku dengan kain perca.
"Gimana, Mas? Bisa dibetulin?" tanyanya dengan suara bariton yang berat.
"Bisa, Pak. Tapi perlu ada penggantian part sensor O2 sama relay busi, soalnya udah kena," jawabku. "Tapi tenang, Pak. Bisa saya akalin sementara biar mesinnya nyala, jadi Bapak bisa bawa mobil ini ke bengkel spesialis buat ganti komponen yang rusaknya."
"Memangnya nggak bisa Masnya beli dulu alatnya ke toko sparepart, baru dipasang di sini sekarang?"
Aku menggaruk tengkukku yang berkeringat. "Harganya lumayan mahal, Pak. Cash flow saya lagi agak seret buat talangin belanja part semahal itu."
"Berapa memangnya, Mas?"
"Sekitar lima ratus ribu, Pak."
"Oh, cuma lima ratus ribu?" Pria itu manggut-manggut santai.
Deg. Batinku langsung keseleo. Lima ratus ribu dia bilang 'cuma'? Ya Tuhan, bagi butiran debu kosmik sepertiku, untuk dapat uang bersih lima ratus ribu, aku harus bongkar pasang mesin cuci dan manjat toren air warga selama tiga hari berturut-turut sampai nyaris tipes!
"Ya udah, saya bawa sendiri ke bengkel aja ya, Mas. Tapi ini beneran bisa buat jalan, kan?"
"Bisa, Pak," jawabku meyakinkan. "Kalau sekadar untuk jalan santai sampai bengkel terjauh di Tangerang sini sih masih sangat aman, Pak. Kecuali kalau mobil ini Bapak bawa jalan darat sampai ke Tanah Suci buat umroh, mungkin baru sampai Pelabuhan Merak mesinnya udah rontok."
Bapak raksasa itu tertawa terbahak-bahak mendengar analogi konyolku. Aku membereskan kunci-kunci kerjaku ke dalam tas ransel dekilku.
"Total jasanya berapa, Mas?"
"Seratus ribu, Pak," jawabku.
"Ini..." Pria itu merogoh dompet kulit tebalnya, lalu menyerahkan tiga lembar uang seratus ribuan padaku. Tiga ratus ribu.
Njir... gede banget tipnya, mataku berbinar.
"Wah... ini kelebihan banyak, Pak. Saya jadi nggak enak," ucapku basa-basi khas orang Jawa, dengan harapan ia akan menjawab, "Udah, ambil aja sekalian buat beli rokok."
"Wah, Anda sangat jujur dan berdedikasi sekali ya, Mas. Jarang ada montir panggilan yang sejujur ini. Ya udah, saya ambil lagi kembaliannya." Pria itu dengan santai menarik dua lembar uang seratus ribu dari tanganku, lalu memasukkannya kembali ke dompetnya.
Aku tersenyum kaku memegang satu lembar seratus ribuan. Sialan. Harusnya tadi langsung kuterima dan kantongin aja. Mulut sok nolak ini bener-bener bawa sial, rutukku dalam hati, meratapi rezeki yang menguap dalam hitungan detik.
Saat aku sedang menutup ritsleting tasku, terdengar sebuah suara lembut menyapa dari balik pagar tanaman hias di rumah sebelah.
"Pak... Pak Anton..."
"Eh, iya? Ada apa, Ci Feby?" sahut pria bertato itu, berjalan mendekati pagar pembatas.
Ci Feby?? Tunggu dulu. Jangan-jangan...
Aku menoleh. Jantungku yang tadinya berdetak normal mendadak melompat ke tenggorokan.
Benar saja. Berdiri di balik pagar tanaman itu adalah gadis dengan kaus kebesaran berwarna putih (oversized t-shirt) dan celana training. Rambutnya dicepol asal ke atas. Tanpa make-up tebal. Tapi pesonanya tetap membuat mataku tersihir. Dia gadis yang kutemui kemarin. Feby Aurelie.
"Di area belakang rumah saya ada sarang tawon, Pak. Bisa tolong bantu beresin nggak ya? Posisinya nempel di kolong AC outdoor, dan tawonnya kadang mulai masuk ke dalam rumah," kata Feby memelas.
Mendengar suaranya, refleks tubuhku bergerak lebih cepat dari otakku. Aku langsung berdiri tegap.
"Lho... Masnya?" Mata Feby membulat saat melihatku berdiri di belakang Pak Anton. Sepertinya dia mengingat wajahku.
"I... iya, Mbak. Ketemu lagi kita," ucapku, mencoba tersenyum senormal mungkin meski lututku mendadak lemas.
"Ini... Mas Yudha ya yang kemarin mukulin preman itu?"
"Yoga, Mbak..."