ASIMTOT

cahyo laras
Chapter #3

Kuli Palugada dan Keselamatan Sang Bidadari

Hampir setiap waktu kosong (dan memang waktu kosongku sangat banyak), aku selalu mengecek IG dan Tiktoknya. Setiap story IGnya selalu kutonton, setiap konten terbaru di tiktoknya selalu ku tonton sampai habis. Wajah Feby selalu terngiang-ngiang dikepalaku. Sial, ada apa ini? Aku mulai menyukai seorang selebgram ini? Kalau kuceritakan ke teman-temanku pasti aku dianggap halu, padahal aku pernah bertemu dengannya secara langsung.

Sial, kenapa ini? Aku sudah sering melihat gadis cantik entah di medsos, atau secara langsung saat kerja, tapi Feby beda. Benar-benar berbeda.

Seminggu kemudian, dimalam hari yang biasa-biasa saja, aku menyandarkan tubuhku diatas bantal, hendak tidur. Aku iseng membuka Tiktoknya. Kebetulan sekali, ada cincin merah berdenyut di sekitar foto profilnya. Dia sedang Live.

Aku mengklik Live tersebut, masuk sebagai satu dari ribuan penonton anonim (silent reader). Di layar, tampak Feby sedang duduk di kursi penumpang bagian belakang sebuah mobil mewah, dari bentuk sandaran kulit dan pilar lampunya, itu pasti di dalam Toyota Alphard. Wajahnya terlihat sedikit lelah namun tetap memesona dengan riasan tipis. Dia sedang membaca komentar-komentar yang berjalan cepat di layar dengan senyum ramah.

"Makasih ya yang udah join," sapa Feby ke arah kamera, suaranya yang lembut menggema di kamar kosku yang sempit, mengalahkan suara kipas angin rusakku.

Sebuah komentar dari penonton melintas: "Kak Feby habis ini mau kemana?"

Feby tersenyum membaca komentar itu. "Mau langsung pulang, istirahat. Hari ini capek banget, setelah photoshoot langsung main Padel sama teman-teman. Sekarang badan rasanya mau rontok."

Feby lalu menggeser arah pandangannya ke depan, berbicara pada sopir di balik kemudi. "Pak, kita ini lewat mana ya jalan pulangnya?"

Suara berat seorang pria paruh baya terdengar samar dari kursi depan. "Kita lewat Jalan Tembus Bintaro Sektor 9 aja, Non. Jalan utamanya macet parah ada truk mogok, kalau lewat jalan pintas ini lebih cepat sampai ke tol arah Alam Sutera."

"Oh, oke Pak," balas Feby kembali menatap kamera.

Tiba-tiba, tanpa aba-aba, koneksi internetku tersendat. Aku kesal, menggeser layar untuk menyegarkan jaringan, tapi malah keluar dari Live Feby dan terdampar di halaman For You Page (FYP).

Video pertama yang muncul di FYP-ku adalah sebuah siaran Live dari akun antah berantah. Layarnya gelap, berguncang hebat, dipenuhi suara teriakan kasar, bunyi klakson yang saling bersahutan, dan suara decit besi yang diseret di aspal.

"WOY BANTUIN WOY! ANAK KAMPUNG SEBERANG MASUK JALAN TEMBUS BINTARO! BAWA CELURIT MEREKA!" teriak si perekam video yang napasnya ngos-ngosan. Di latar belakang, terlihat puluhan pemuda tanggung saling kejar membawa senjata tajam, balok kayu, dan rantai gir motor. Jalanan itu diblokir total oleh massa yang mengamuk.

Jantungku berhenti berdetak sesaat. Mataku melebar menatap layar retak itu.

Jalan Tembus Bintaro. Itu rute yang baru saja disebutkan oleh sopir Feby!

Aku kembali dengan panik ke akun TikTok Feby, tapi tulisan "Live Ended" menyambutku. Dia sudah mematikan siarannya.

Otakku langsung masuk ke mode Overdrive. Adrenalin menyuntik pembuluh darahku. Aku harus menghitung probabilitasnya. Aku membuka tab Instagram, mencari informasi spesifik.

Analisis Lokasi & Waktu:

  1. Titik Awal: Lapangan Padel elit di kawasan SCBD (terlihat dari tag lokasi di Story teman Feby lima menit yang lalu).
  2. Titik Akhir: Perumahan di Alam Sutera kemarin.
  3. Rute Saat Ini: Jalan Tembus Bintaro (berdasarkan ucapan sopirnya).
  4. Kecepatan Kendaraan: Mobil Alphard di jalan pintas malam hari sekitar 40-50 km/jam.
  5. Titik Konflik: Tawuran terjadi di tengah jalan pintas tersebut, para geng yang sedang cari lawan itu akan menyerang siapapun yang masuk ke area itu.

Lihat selengkapnya