ASIMTOT

cahyo laras
Chapter #4

Kuli Palugada dan Patah Hati Pertamanya

YOGA

Knalpot Beat-ku menjerit membelah kemacetan yang mengular di ujung Jalan Tembus Bintaro. Kendaraan lain berhenti total, klakson bersahutan membunyikan kepanikan. Aku memacu motor naik ke atas trotoar, menghindari parit, menyalip mobil-mobil yang terjebak, hingga akhirnya mataku menangkap pemandangan yang membuat darahku mendidih.

Sebuah Toyota Alphard putih di tengah jalan telah menjadi bangkai yang dikelilingi hyena. Kaca depan retak seribu. Di aspal sebelah kanan mobil, kulihat seorang pria tua berseragam sopir tergeletak tak berdaya, darah mengalir dari pelipisnya, ditendangi oleh tiga orang bajingan.

Dan yang paling membuat jantungku seolah ditarik paksa dari rongga dadaku: di dalam kabin mobil itu, seorang pria beringas sedang mencondongkan tubuhnya ke belakang, mencengkeram rambut Feby dengan paksa, sementara suara jeritan gadis itu mengiris malam.

Otakku berdengung. Dunia di sekitarku melambat menjadi gerak lambat yang sinematik. Cahaya kuning lampu jalan, percikan api, debu, dan bau anyir darah menyatu menjadi sebuah arena pembantaian.

 

Aku melompat turun dari motor bahkan sebelum roda depannya berhenti sempurna, membiarkan Beat hitamku menabrak tumpukan sampah. Tanganku melepaskan helm halfface dikepalaku dan kulempar sembarangan.

Target 1: Pria di dalam mobil.

Target 2, 3, 4: Pengeroyok sopir.

Target Tambahan: 5 pemuda bersenjata di perimeter Alphard.

Aku berlari dengan kecepatan penuh bak bayangan malaikat maut. Tanpa suara, tanpa teriakan peringatan. Aku melompat naik ke atas kap mesin Alphard yang penyok, menjadikan kaca depan yang retak sebagai pijakan. Dari atas atap mobil, aku melihat pria bengis yang sedang menjambak Feby.

Aku menjatuhkan diriku tepat menembus kaca sunroof mobil yang kebetulan terbuka, mendarat dengan kedua lutut menghantam keras pundak pria itu dari arah atas. Terdengar bunyi KRAK! yang sangat keras saat tulang selangkangannya patah karena beban tubuhku.

Pria itu menjerit, melepaskan cengkeramannya dari rambut Feby. Sebelum dia menyadari apa yang menimpanya, aku melingkarkan lengan kananku di lehernya dari belakang, melakukan kuncian Rear Naked Choke dengan tenaga maksimal. Selama dua detik, arteri karotisnya tertutup total, memutus aliran darah ke otaknya. Matanya memutih, dan tubuhnya lemas seperti boneka kain. Aku menendang tubuh pingsannya keluar dari pintu mobil yang terbuka.

Feby menangis histeris di pojok kursi, tubuhnya bergetar hebat. Matanya menatapku dengan syok, napasnya memburu.

"Mas Yoga??"

"Tutup matamu, Mbak Feb. Tutup telingamu. Ini bakal sedikit berisik," ucapku datar, sangat tenang.

Aku melompat keluar dari mobil melalui pintu sopir, langsung disambut oleh tatapan bingung dan marah dari tiga pemuda yang tadi menyiksa Pak Maman.

"Woy! Siapa lu bangsat?!" teriak salah satu dari mereka, mengayunkan rantai gir motor yang berkarat ke arah kepalaku.

Aku memiringkan leher, membiarkan desingan rantai besi itu lewat hanya dua sentimeter dari telingaku. Menggunakan momentum tarikannya, aku merangsek masuk ke zona mati lawan. Telapak tanganku yang terbuka menghantam lurus pangkal hidungnya dengan dorongan penuh dari pinggul. Tulang rawannya remuk ke dalam. Darah muncrat mewarnai kemeja flanelku. Dia tumbang ke belakang, tak sadarkan diri seketika.

Melihat temannya jatuh berdarah, pemuda kedua maju membawa celurit panjang, mengayunkannya membabi buta. Aku melangkah mundur setengah langkah, membiarkan ujung bilah meleset di depan dadaku. Begitu tangannya terulur maksimal, aku menangkap pergelangan tangannya, memutarnya dengan keras hingga persendiannya berderak, memaksa jari-jarinya melepaskan gagang celurit itu. Dengan tangan yang sama, aku menarik tubuhnya ke bawah, sementara lutut kananku naik menghantam keras tulang dadanya (sternum). Napasnya putus, tulang rusuknya retak.

Satu pemuda tersisa yang membawa balok kayu berbalik panik melihat kedua temannya dihabisi dalam hitungan detik. Dia berniat lari. Aku memungut celurit yang jatuh di aspal tadi, bukan untuk menebas, tapi kulemparkan gagangnya layaknya tomahawk tepat menghantam bagian belakang kepalanya. Dia tersungkur mencium aspal kotor.

Lihat selengkapnya