Keesokan harinya, jagat maya meledak. Kabar penyerangan di Jalan Tembus Bintaro itu viral di berbagai platform sosial media. Tentu saja, pemicu utamanya bukan geng motornya, melainkan korbannya.
Dari layar HP-ku yang retak, aku melihat video konferensi pers Erik Julian Santoso. Dengan balutan jas navy yang dijahit khusus untuk postur sempurnanya, Erik berdiri di depan puluhan mikrofon wartawan. Wajahnya tegas, auranya mengintimidasi namun tetap elegan. Ia mengutuk keras kejadian tersebut dan secara terbuka meminta, bahkan "mensponsori", aparat kepolisian untuk memburu seluruh anggota geng yang terlibat hingga ke akar-akarnya. Uang dan kekuasaan sedang berbicara.
Aku membuka Instagram. Jariku seolah punya otak sendiri, mengetikkan nama Feby Aurelie di kolom pencarian untuk yang kesekian kalinya hari ini. Sejak awal aku memang sengaja tidak follow akun Feby manapun. Aku ini cuma bayangan, tidak pantas berada di deretan pengikutnya. Tapi aku yakin, kalau Instagram punya fitur pelacak, akunku pasti sudah dinobatkan sebagai Top Visitor minggu ini.
Di Story terbarunya, layar hanya menampilkan latar hitam dengan tulisan kecil berwarna putih: "Masih trauma banget. Makasih buat semua doanya. Aku belum berani keluar rumah."
Aku mengunci layar HP. Sudahlah, Yoga. Untuk apa kamu repot-repot memikirkannya? Tidak ada yang mengingatmu. Feby sudah berada di tempat yang paling aman di dunia. Erik, dengan seluruh privilege dan sumber dayanya, bisa dan akan menyelesaikan semuanya. Sebaiknya aku kembali ke realita keras ibukota.
Seminggu berlalu.
Siang ini, matahari Jakarta sedang terik-teriknya, seakan ingin memanggang aspal. Aku duduk ngemper di kursi plastik depan sebuah minimarket. Di tanganku ada botol air mineral bekas yang tadi pagi kuisi ulang dari galon rumah customer saat aku menyervis kulkasnya. Beli minuman dingin seharga lima ribu perak di minimarket? Tentu tidak. Penghematan, Bro. Uang lima ribu itu setara dengan setengah porsi nasi warteg.
Aku meneguk air bersuhu suam-suam kuku itu, mencoba mengusir wajah Feby dari kepalaku. Sialnya, gagal.
Di tengah usahaku menenangkan diri, radar instingku yang terkalibrasi oleh kerasnya jalanan tiba-tiba berdenging.
Dua pria di seberang jalan. Berdiri di dekat tukang gorengan, tapi mata mereka tidak fokus pada bakwan, melainkan padaku.
Polisi? Tidak. Postur mereka terlalu santai untuk aparat yang sedang bertugas. Detektif swasta? Mungkin. Mereka memakai kacamata hitam murahan dan jaket kulit imitasi yang salah musim. Aku mengalihkan pandangan, pura-pura asyik memperhatikan seekor kucing jalanan, sementara ujung mataku terus mengunci pergerakan mereka.
Tampak pria yang berambut gondrong mengangkat ponsel, menempelkannya ke telinga, matanya tak lepas dariku. Ia melaporkan sesuatu. Detik berikutnya, ia mengangguk, memasukkan ponsel ke saku, lalu memberi isyarat pada temannya.
Mereka menyeberang jalan. Memencar. Pria gondrong mengambil rute dari arah depan, sementara pria kedua yang berbadan lebih kekar memutar dari arah samping mesin ATM. Taktik penyergapan klasik.
Otakku langsung masuk ke Mode Overdrive.
Target 1 (Depan): Pria gondrong. Tinggi 175 cm. Berat 80 kg. Dominan tangan kanan. Ada tonjolan benda keras di balik jaket kiri (senjata tumpul/kunci pas). Pusat gravitasi condong ke depan, tipe penyerang agresif.
Target 2 (Kanan): Pria kekar. Tinggi 180 cm. Berat 95 kg. Langkahnya berat. Otot leher tebal. Kelemahan: kelincahan rendah, titik buta di area bawah pinggang.
Senjata lingkungan sekitar: Sapu lidi milik minimarket berjarak 1 meter di kiriku. Cikrak seng berjarak 1.5 meter di kananku. Botol minumku terisi setengah (bisa jadi proyektil).
Estimasi ancaman: Rendah. Mereka amatir.
Mereka kini berdiri tepat di depanku, menghalangi cahaya matahari. Bau keringat apek dan asap rokok menguar dari pakaian mereka.
"Ikut kami, jangan melawan!" ucap si pria gondrong dengan nada rendah yang dipaksakan seram.
"Kami dibayar untuk mencarimu. Jangan coba-coba lari kalau nggak mau cacat," timpal pria kekar, meretakkan buku-buku jarinya.
Aku menghela napas, menutup perlahan tutup botol minumku, lalu meletakkannya dengan sangat hati-hati di atas meja plastik. Aku menatap mereka bergantian dengan tatapan malas.
"Bang," kataku santai, "asuransi kalian men- cover patah tulang, kan?"
"Banyak bacot lu!"
Pria gondrong itu merangsek maju, tangan kanannya mengayun ke arah kerah bajuku.