ASIMTOT

cahyo laras
Chapter #6

Kuli Palugada dan Air Mata Pertamanya

Beberapa menit yang terasa seperti seabad kemudian, kami tiba di perumahan Alam Sutera. Aku turun dari mobil bersama Erik, melangkah dengan gontai menyusuri halaman berbatu menuju pintu utama rumah megah itu.

Sebelum tangan Erik menyentuh gagang pintu, benda itu sudah ditarik terbuka dari dalam.

Feby muncul. Wajahnya yang beberapa hari lalu pucat dan penuh air mata, kini berseri-seri. Ia mengenakan dress kasual berwarna pastel yang membuatnya terlihat sangat cantik.

Dan tentu saja, senyum itu bukan untukku.

"Kak Erik!" seru Feby riang. Tanpa ragu, ia melangkah maju dan memeluk Erik singkat.

Dadaku serasa dihantam godam tak kasat mata. Kan... pemandangan seperti ini yang paling aku hindari.

Erik membalas pelukan itu dengan senyum lebar, lalu menepuk punggung Feby lembut. "Feb, lihat siapa yang kubawa. Ini Yoga."

Feby melepaskan pelukannya, menoleh padaku. Matanya yang bulat melebar, lalu senyumnya merekah tulus. Ia mengulurkan tangannya padaku.

"Mas Yoga... terima kasih banyak ya. Maaf, malam itu aku belum sempat ngucapin terima kasih sama sekali," ucapnya lembut.

Aku menyambut uluran tangannya sekilas. Kulitnya terasa sangat halus, berbanding terbalik dengan telapak tanganku yang kasar dan penuh kapalan. "Sama-sama, Mbak," balasku.

Aku memaksakan sebuah senyum. Entah senyumku terlihat tulus, kaku, atau malah terlihat seperti orang menahan mulas. Energi kehidupanku rasanya terkuras habis hanya karena melihat pelukan mereka tadi.

"Ayo masuk dulu, Kak, Mas," ajak Feby. "Kebetulan di dalam lagi ada timku, jadi nambah rame."

Kami melangkah masuk. 2 orang pria dan wanita mungil berkerudung yang modis, tim kreatif Feby, tampak sibuk membereskan peralatan makeup dan kamera. Sepertinya mereka baru saja selesai melakukan sesi photoshoot untuk endorsement.

"Halo, Kak Erik!" sapa beberapa orang dari tim itu dengan sangat akrab.

Mereka lalu menatapku dengan ramah, dan aku hanya mengangguk canggung. Aku berjalan menjauh dari keramaian, memilih duduk menyendiri di salah satu sofa single di sudut ruangan. Sementara itu, Feby dan Erik berjalan beriringan ke arah ruang makan.

Aku duduk diam seperti pajangan jelek yang salah tempat. Apa tujuanku di sini? Kenapa aku setuju untuk disiksa seperti ini? Erik bisa dengan mudah melenggang masuk ke dunia Feby, akrab dengan timnya, memberikan rumah ini. Sedangkan aku? Aku adalah alien yang sepatunya meninggalkan debu di karpet mahal ini.

Tak lama kemudian, mereka kembali. Feby membawa nampan berisi tiga gelas sirup dingin, sementara Erik membawakan toples camilan mahal.

"Silakan, Mas Yoga, diminum dulu," kata Feby, meletakkan gelas sirup berwarna merah itu di meja depanku.

Setelah itu, ia berjalan memutar dan duduk di sofa panjang. Tepat di sebelah Erik. Mereka duduk sangat berdekatan. Bahu bersentuhan.

Sial. Sial. Sial. batinku menjerit frustrasi. Aku ingin tenggelam saja ke dalam busa sofa ini.

Aku mengambil gelas itu dengan tangan sedikit gemetar dan menyeruputnya. Sirup rasa cocopandan yang seharusnya manis segar itu, entah kenapa terasa hambar dan pahit di pangkal lidahku.

"Mas Yoga lagi sakit ya?" tanya Feby tiba-tiba, menatapku khawatir. "Kok dari tadi diam terus dan mukanya tampak nggak sehat gitu? Efek tawon waktu itu ya?"

Aku begini ya karena melihat kalian berdua! raungku dalam hati.

"Eh, nggak apa-apa kok, Mbak," jawabku sambil buru-buru meletakkan gelas. "Cuma agak kurang biasa aja di tempat mewah kayak gini. Habis bikin konten, ya?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.

"Iya, Mas. Tadi habis nabung konten video review, terus ini baru kelar photoshoot buat brand tas," jawab Feby antusias.

Lihat selengkapnya