ASIMTOT

cahyo laras
Chapter #7

Kuli Palugada dan Kerjaan Dari Sang CEO

Semenjak hari itu, aku membangun tembok beton di dalam kepalaku. Aku memutus semua akses yang bisa mengembalikan ingatanku tentang Feby. Tidak ada lagi pencarian nama Feby atau Erik di kolom pencarian Instagram dan TikTok. Sudahlah. Ini bukan arena pertarunganku. Aku hanyalah remah-remah rempeyek di dasar toples, tak akan pernah menang melawan para titan finansial seperti Erik. Aku hanya ingin hidup tenang dan mencari uang untuk bertahan hidup.

Hari demi hari berlalu. Bau pelumas, debu jalanan, dan freon AC kembali menjadi rutinitasku. Meski begitu, terkadang di tengah malam saat kipas anginku berputar pelan, bayangan senyum Feby dan wangi vanilla-nya menyusup masuk tanpa permisi. Di saat seperti itu, aku merutuki isi kepalaku sendiri. Mengapa otakku yang bisa menghafal ribuan baris kode dan skema kelistrikan ini tidak punya tombol Delete untuk menghapus satu wajah gadis beda kasta?

Seminggu kemudian. Pagi itu, aku baru saja membuka mata. Cahaya matahari Jakarta mengintip garang dari celah gorden tipis kamar kosku. Ponselku bergetar pendek. Ada notifikasi WhatsApp masuk.

Mataku menyipit menyesuaikan cahaya layar.

Erik: Yoga, sehat? Lagi sibuk?

Hah? Apalagi ini? Napasku mendadak berat. Rasanya ingin melempar ponsel butut ini ke dinding lalu kembali menarik selimut. Tapi sial, fitur laporan bacaku menyala. Pesan itu terlanjur bercentang biru di layarnya.

Belum sempat jempolku merangkai balasan penolakan yang sopan, layar ponselku berubah. Panggilan suara masuk. Dari Erik.

Aku membuang napas kasar. Mengusap wajahku. "Halo," angkatku, berusaha membuat suaraku senormal mungkin.

"Yoga, lu lagi sibuk ga hari ini?" suara bariton Erik terdengar renyah dari seberang.

'Lu?'. Dia mulai sok akrab. Untuk ukuran orang biasa, panggilan lu-gue adalah tanda kedekatan. Tapi di telingaku, ini seperti tamparan status sosial. Dia bisa dengan mudah mendobrak batasan formal, sementara aku masih terjebak dalam rasa segan yang kaku.

"Nggak tau sih, Rik. Namanya juga freelance, kerjaanku nunggu panggilan masuk aja," jawabku defensif.

"Oh, gitu. Gini, Yog. Gue kan lagi bangun lapangan padel indoor-outdoor nih. Kemarin lu bilang kan, kalau lu itu palugada, bisa ngerjain apa aja? Instalasi kelistrikan, AC sentral, dan segala macamnya? Nah, daripada gue hire vendor luar yang nggak gue kenal, mending gue nunjuk lu aja. Lumayan buat nambah-nambah pemasukan."

Jantungku berdegup. Lapangan padel? Sialan. Aku ogah banget. Aku harus memastikan satu hal sebelum menolak atau menerima.

"Rik, kalau aku ambil kerjaan ini... di lapangan nanti ada orang lain yang menemaniku? Atau ada... teman-temanmu?" tanyaku hati-hati.

"Umm... ada, paling kalau gue lagi jadwal kosong, gue pantau sendiri. Tapi kalau gue lagi sibuk di kantor, gue suruh karyawanku buat nemenin lu. Kenapa Yog? Butuh helper banyak?"

"Nggak, bukan gitu." Aku menghela napas lega. Bagus. Artinya tidak mungkin ada Feby yang nongkrong cantik di sana karena tempatnya masih berupa proyek. "Oke, baiklah. Aku mau, Rik."

"Cakep! Makasih ya, Yog. Ntar gue kirim shareloc-nya. Lu datang pagi ini aja buat survei lokasi. Apapun yang lu butuhkan untuk pengerjaan, material, kabel, budget berapa aja, lu tinggal bilang ke asisten gue nanti, oke?"

"Siap, Rik."

Telepon ditutup. Aku menatap layar ponselku. Baiklah, anggap saja ini murni soal profesionalisme. Lagipula, saldo di ATM-ku sudah menyentuh angka limit paling kritis. Berurusan dengan CEO green flag ini adalah cara tercepat menyelamatkan hidupku bulan ini.

Tak lama, alamat shareloc masuk. Aman. Lokasinya ada di sebuah kawasan komersial elit di Jakarta Selatan, jauh dari area perumahan Alam Sutera tempat Feby tinggal.

Aku segera mandi, memakai kemeja flanel kebesaranku, dan melesat membelah kemacetan ibukota.

Sesampainya di lokasi, aku mematikan mesin motor Beat hitamku. Area parkir proyek ini sangat luas. Gila. Erik tidak sedang membangun lapangan padel biasa, ini seperti stadion mini. Bangunan utamanya menggunakan konsep industrial modern dengan baja-baja terekspos.

Lihat selengkapnya