****
Semenjak hari itu Yoga menjadi pemimpin dari proyek pembangunan lapangan padel. Pria yang biasanya memegang kunci pas kotor itu kini merencanakan, menggambar blueprint, dan menyusun anggaran ulang dengan tingkat presisi yang mengerikan. Erik membawakan beberapa tim untuk mengerjakan proyek di bawah komando Yoga.
Hari demi hari berlalu, pembangunan lapangan padel itu berjalan dengan cepat dan efisien. Erik sampai terheran-heran. Dibandingkan dengan pembangunan lapangan padel yang dilakukan oleh teman-teman konglomeratnya, pembangunan ini berjalan presisi layaknya mesin jam tangan Swiss. Material datang tepat waktu, struktur baja dipasang dengan zero-tolerance error, dan jalur kelistrikan tertata sangat rapi bak karya seni. Namun yang lebih mengejutkan adalah Yoga sama sekali tidak mengambil selisih harga sepeser pun dari setiap material yang ada, walaupun Erik secara eksplisit mengizinkannya.
Erik makin kagum dengan kejujuran dan kehebatan Yoga. Pemuda itu sangat teliti, analitis, dan efisien. Setiap sisi bangunan ia perhitungkan dengan matang, sudut pantul kaca diukur dengan presisi, hingga sirkulasi freon tertata tanpa cela. Keamanan pun ia perhitungkan dengan sangat matang. Sampai 2 bulan kemudian, proyek raksasa itu pun selesai sempurna.
"Gila... akhirnya kelar juga Yog," kata Erik sambil berkacak pinggang, menatap arena padel yang kini benderang oleh lampu LED canggih. Bau karpet biru baru dan silikon kaca memenuhi udara.
"Iya Rik, akhirnya kelar juga. Semua sudah kubangun sesuai dengan keinginanmu, empat lapangan standard FIP, 1 lapangan vvip dengan tribun, smart system, pendingin yang menyeluruh, kelistrikan yang aman. Aku jamin siapapun yang menyewa lapangan padelmu ini akan puas," kata Yoga, mengelap keringat di dahinya dengan punggung tangan.
"Lusa gue akan meresmikan lapangan padel ini, lu hadir ya..." kata Erik, menoleh pada Yoga.
"Eh? Aku hadir? Kamu undang siapa saja?" tanya Yoga waswas.
"Ya tentu teman-temanku, rekan bisnis, kolega, dan tentunya media Yog," kata Erik santai.
'Sial, pasti Feby juga akan datang, aku harus ngomong apa? Aku ga mau ketemu Feby apalagi barengan sama Erik, tapi secara logis aku juga harus memastikan lapangan ini memang berfungsi dengan baik saat diujicoba kapasitas penuh, sial... sepertinya aku harus tetap hadir, tapi aku bersembunyi entah dimana,' pikir Yoga dengan dada yang mulai berdegup tak karuan.
"Oke baiklah Rik..." kata Yoga dengan berat hati.
"Sipp... bawa kaos olahraga juga ya, aku ingin kita ujicoba juga," kata Erik.
'Duarr... kenapa harus aku ikut ujicoba juga?? Tapi memang aku sebagai perancang harus ikut turun tangan sih, takutnya ada kegagalan saat ujicoba karpet atau kaca pantulnya, segala macam celah kekurangan harus kuanalisis,' pikir Yoga makin panik.
"O... oke baiklah Rik," jawab Yoga terbata-bata.
Lusa harinya, acara peresmian lapangan padel eksklusif pun dilaksanakan. Area parkir dipenuhi mobil-mobil mewah. Tampak banyak sekali influencer elit kenalan Erik dan Feby datang dengan pakaian olahraga mahal. Kolega, keluarga, dan sorotan lampu kilat dari media pun menyorot lapangan padel baru itu.
Mereka semua berdecak kagum dengan konsep mewah dari lapangan itu.
Sementara itu, sang arsitek utama, Yoga, sedang bertapa bersembunyi di dalam bilik toilet. Toiletnya sangat nyaman dan ber-AC dingin, tapi keringat dingin tetap mengucur deras di kening Yoga. Ia berharap dirinya tidak ditemukan, lebih tepatnya dia menghindari melihat Feby yang pasti datang. Yoga takut perasaannya yang sudah susah payah dikubur, ditarik kembali ke permukaan.
Di area luar, di salah satu lapangan padel utama, semua orang berkumpul sambil melihat-lihat bangunan superluas itu. Terdapat empat lapangan padel yang dibatasi kaca tempered tebal.
"Gile Rik... lapangan padel lu keren juga, adem, luas, dan udah pake smart system. Tempat nontonnya nyaman banget, ruang lokernya juga futuristik, ada shower-nya juga. Ini sih kalau dikasih harga membership mahal ga ada masalah," kata Steve, rekan sesama influencer Erik yang berbadan tegap.
"Bener, ini jauh lebih nyaman daripada tempat gue main biasanya, kayaknya gue pasti pindah main kesini," kata Boby, influencer lainnya menimpali.
"Ya begitulah, emang ini salah satu ujicobaku Steve. Kebetulan temen-temenku suka main padel, yaudah aku bikin aja sekalian... kalian kalau main disini aku kasih diskon deh ahaha," kata Erik, merendah tapi penuh percaya diri.
Tiba-tiba, wangi vanilla menyeruak. Feby datang bersama teman-teman ceweknya, mengenakan skort tenis putih yang membuatnya terlihat sangat bersinar.
"Kak Erik... selamat ya atas peresmian lapangannya!" kata Feby tersenyum manis sambil melangkah maju dan memeluk Erik singkat.
"Cuit cuit!" sorak Steve heboh.