"Yoga! Berhenti!" teriak Erik, mengabaikan rasa nyeri yang menusuk di pergelangan kakinya. Ia berlari terpincang-pincang mengejar.
Yoga mengutuk dalam hati. Langkahnya ketahuan. Sebelum ia sempat mendorong pintu darurat, Erik sudah mencekal lengannya dengan cengkeraman putus asa.
"Yog, lu mau ke mana?!" napas Erik memburu, dadanya naik turun.
"Balik, Rik. Tugasku udah selesai. Semua sudah berjalan dengan baik, bangunan oke, smart system oke, dan lapangan oke. Aku duluan," Yoga berusaha melepaskan tangannya, menatap lantai, enggan melihat wajah Erik.
"Tunggu, please," Erik menahan lengan Yoga lebih kuat. "Rekan satu tim gue cidera. Engkel gue juga kena. Gue butuh lu gantiin rekan gue di Set 3. Gue tahu lu punya refleks dewa, Yog."
Yoga menatap Erik tak percaya. "Aku nggak begitu jago main padel!
"Gak apa-apa, gue masih bisa handle, yang penting lu jadi rekan tim gue buat nemenin gue dilapangan, agar pertandingannya tetep berlanjut!" potong Erik cepat. Wajah Erik benar-benar memelas, ego dan wibawanya sebagai triliuner luntur tak tersisa.
"Yog, gue mohon. Kalau gue kalah hari ini, pembagian profit gue disedot habis. Gue bisa kehilangan kontrol penuh atas venue ini."
"Rik, lihat penampilanku," Yoga menunjuk dirinya sendiri dari atas ke bawah. "Aku ga bawa baju ganti, apalagi sepatu olahraga yang proper. Aku pake sepatu kets kanvas murah, Rik. Licin!"
"Pake sepatu itu gak apa-apa! Raket pakai punya Mikael! Yog, gue nggak punya siapa-siapa lagi di sini yang bisa gue percayai, Tolong gue, Yog. Lu hanya diem dan pukul balik aja, gue yang handle semuanya."
Yoga menoleh ke arah lapangan. Di kejauhan, melalui kaca transparan, ia bisa melihat Theo dan Gery sedang tertawa sambil minum air alkali. Di bangku penonton seberangnya, Feby duduk dengan wajah cemas, menggigit bibir bawahnya.
Melihat keputusasaan di mata Erik, pertahanan Yoga goyah. Sialan. Ia selalu benci melihat orang yang sudah baik padanya memohon seperti ini.
"Oke. baiklah" desah Yoga kasar, mengusap wajahnya.
Erik tersenyum lega seolah baru saja diselamatkan dari hukuman gantung. "Makasih, Yog. Makasih banyak!"
Di ruang loker, Yoga melepaskan kemeja flanelnya yang agak tebal, menyisakan kaos dalaman oblong kucel berwarna abu-abu pudar. Kaos itu kainnya sudah sangat tipis, kaos promosi bonusan dari sabun deterjen yang ia beli di warung bulan lalu. Ia mengambil raket cadangan dari tas Mikael, menimbangnya sebentar. Terlalu ringan, batinnya. Tapi cukuplah.
Penonton terdiam, kasak-kusuk penuh tanda tanya menyebar saat melihat Yoga memasuki lapangan kaca. Penampilannya benar-benar merusak estetika venue miliaran ini. Kaos oblong kucel, celana panjang hitam, dan sepatu kets kanvas usang.
Theo dan Gery di seberang net terperangah melihat Yoga yang penampilannya sangat jauh dari kesan olahraga.
Beberapa penonton di tribun ikut tertegun melihat Yoga yang jadi rekan tim Erik, mereka makin ragu karena penampilan Yoga sangat tidak meyakinkan.
Yoga tidak mempedulikan tatapan-tatapan itu. Ia memejamkan mata sejenak, memblokir suara gunjingan penonton, menajamkan pendengarannya pada dengung AC sentral, dan menyapu pandangannya ke seluruh lapangan. Kotak berukuran 10x20 meter. Kaca tempered setinggi 3 meter.
Bagi orang-orang elit ini, padel adalah urusan teknik ayunan lengan dan prestise. Namun di mata analitis Yoga, lapangan ini tidak lebih dari sebuah ruang hampa untuk kalkulator fisika raksasa. Ini murni tentang penghitungan blind-spot (titik buta) lawan, vektor kekuatan tumbukan, friksi sol sepatu pada karpet, dan sudut elevasi pantulan kaca.
"Lu cover sisi kiri gue, Yog," bisik Erik sambil meringis.
"Mundur selangkah, Rik. Jangan halangi pandanganku," balas Yoga dingin.
Pertandingan Set 3 dimulai.
Servis pembuka dari Gery. Pria berotot itu melompat ringan dan melepaskan smash servis yang sangat tajam menyilang ke arah sudut kiri belakang Yoga. Bola melesat bak peluru neon.
Yoga tidak panik. Matanya bergerak mengikuti lintasan bola. Ia tidak menyongsongnya. Ia membiarkan bola itu menyentuh karpet biru, memantul keras menghantam kaca belakang, dan menghitung laju perlambatannya.
'Sudut datang 45 derajat. Kecepatan sisa setelah pantulan: 30 km/jam.'
Saat bola itu memantul balik dari kaca ke arahnya, tubuh Yoga berputar. Ia tidak mengayunkan raket dengan elegan. Ia menggunakan pergelangan tangannya yang terbiasa memutar kunci inggris karatan dengan sentakan snap yang sangat pendek namun eksplosif.
POCK!
Suara benturan bola dan raket terdengar sangat padat. Bola itu meluncur sangat rendah, nyaris menyentuh pita putih net, lalu jatuh di area kosong sebelah kanan Theo dan langsung memantul mati tak beraturan.
Ace.
Penonton ternganga. Theo dan Gery terkesiap, senyum meremehkan di wajah mereka lenyap seketika.
"Lima belas-kosong," ucap wasit.
Permainan berlanjut cepat. Kemampuan Yoga membaca lintasan bola mendominasi. Kets kanvasnya berdecit nyaring bergesekan dengan karpet biru. Saat Theo melakukan lob tinggi, Yoga berlari memotong, melompat, dan melakukan smash bukan ke arah lantai lawan, melainkan ke arah dinding kaca samping.
Bola itu menghantam kaca dengan sudut tajam, lalu memantul silang ke tengah lapangan, tepat di titik di mana Theo dan Gery bertabrakan karena miskomunikasi.
Dua game pertama di Set ke-3 dimenangkan oleh tim Erik dengan cepat berkat elemen kejutan dan fisika gila dari pukulan Yoga. Skor 2-0.
Namun, Theo dan Gery bukan pemain amatir. Insting pro mereka cepat beradaptasi. Mereka menyadari kelincahan Yoga tidak wajar, tapi mereka juga menyadari satu kelemahan fatal: kaki Erik.
Mereka mulai mengubah taktik secara pengecut tapi efektif. Mereka tidak lagi memberikan bola ke arah Yoga. Mereka menghujani Erik yang sudah pincang dengan bola-bola dropshot pendek di depan net, diselingi lob panjang ke sudut kanan belakang.
Tim Erik kewalahan. Erik dipaksa berlari ke depan dan ke belakang. Napas Erik memburu, keringat bercucuran, dan wajahnya memucat menahan sakit yang luar biasa di engkelnya. Setiap kali ia mencoba memukul, pukulannya lemah dan langsung di-smash habis oleh Theo.
Dua game berikutnya, Yoga dan Erik kalah beruntun. Skor imbang 2-2.
Erik berdiri membungkuk dengan tangan bertumpu di lutut, napasnya tersengal parah. Pergelangan kakinya sudah terlihat bengkak dari balik kaos kakinya.