YOGA
Aku memacu motor Beat hitamku membelah jalanan Jakarta yang muram. Awan mendung bergulung rendah di atas ubun-ubun kota, seolah ikut merasakan tekanan udara yang meremas dadaku.
Pelukan Feby pada Erik tadi... ah, rasanya seperti sabetan celurit berkarat yang ditarik paksa dari dalam rongga dadaku. Pukulan telak yang menyakitkan. Aku bisa menerima jika aku miskin. Aku bisa menerima jika aku harus bekerja keras hingga tulangku ngilu. Tapi diabaikan? Dianggap tidak ada saat aku baru saja mempertaruhkan seluruh nafasku untuk membahagiakan gadis itu? Itu membunuhku secara perlahan.
Aku sudah tak tahan. Aku lelah.