FEBY
"See you in next video... bye.."
Aku menekan tombol merah di layar iPhone-ku dengan napas tertahan. Layar meredup, menyisakan pantulan wajahku yang tertutup bedak matte.
"Huffhh... gimana guys?" tanyaku, melepaskan senyum palsu yang sejak tadi menempel kaku di bibirku.
Aldo, editor-ku yang duduk bersila di lantai dengan MacBook pangkuannya, mengacungkan ibu jarinya tanpa mengalihkan pandangan dari layar. Suara klik-klik-klik mouse mendominasi ruangan studio rumah ini.
"Oke, sekarang mau konten apa lagi?" aku mengedarkan pandangan ke sisa timku.
"Make up review? Outfit try-on? Atau ngereview makanan viral?" sahut Dimas, sang cameraman, sambil mengecek sisa baterai kameranya.
"Ah... view-nya mentok di angka kecil kalau cuma review biasa. Ada ide yang lebih fresh ga, gaes?" tanyaku putus asa. "Total udah dapet berapa video hari ini, do?"
"Baru tiga dari sepuluh target tabungan konten," jawab Aldo datar.
Huffhh... Aku menyandarkan punggung ke kursi empuk ini. Aku masih harus membuat sepuluh konten lagi. Tiga di antaranya adalah titipan endorsement. Sisa tujuh, aku harus mencari ide. Aku harus menabung konten karena minggu depan aku ada jadwal pekerjaan review di sebuah resor di Jepang, yang lagi-lagi kuperoleh dari koneksi kenalan Kak Erik.
"Coba tanya Kak Erik, Ci... dia kan content creator kawakan juga sebelum jadi pengusaha segede sekarang. Pasti insting viral-nya jalan," usul Sherly, makeup artist-ku, sambil membereskan kuas-kuasnya ke dalam tas.
"Ahh... enggak ah. Masa untuk urusan kerjaanku sendiri aku harus terus-terusan bergantung sama dia?" jawabku menolak.
Aku membuka aplikasi TikTok di ponselku. Grafik analytics di dasbor kreatorku terasa seperti garis datar monitor detak jantung. Follower-ku ada di angka dua ratus ribu, tapi jangankan untuk masuk For You Page (FYP) jutaan view, video terakhirku saja stuck di angka lima belas ribu view.
Rata-rata penontonnya pun hanya ghost viewer yang kebetulan lewat, bukan follower setia. Pertarungan di FYP saat ini kejam; algoritmanya lapar akan drama, sensasi, atau kekayaan yang dipamerkan. Haruskah aku mengemis simpati pakai drama menangis atau flexing berlebihan? Aku bukan tipikal kreator seperti itu. Cepat naik, tapi cepat hancur nama baiknya.
Aku beralih ke Instagram. Nasibnya lebih menyedihkan. Follower enam puluh ribu, dan Reels-ku nyaris sebulan ini tak pernah tembus dua puluh ribu. Tanganku iseng membuka profil Kak Erik. Video donasinya minggu lalu tembus tiga juta view. Ribuan komentar memujanya. Masa aku harus mendompleng lagi namanya untuk mencari panggung? Rasanya ego dan harga diriku menolak keras.
Ting. Pesan WhatsApp masuk. Dari adik perempuanku, Jeselyn.
Jeselyn: Mbak, uang sewa ruko cafenya belum kebayar, besok jatuh tempo. Bisa bantu nalangin dulu nggak?
Dahiku berkerut. Tanganku buru-buru mengetik balasan. Feby: Berapa kurangnya? pemasukan bulan ini gimana?
Jeselyn: Cafe lagi sepi banget, Mbak. Profit bulan lalu tipis, cuma nutup buat beli bahan baku doang. Semuanya udah ludes buat bayar gaji barista, listrik, sama air.
Aku memijat pelipisku. Kepalaku mendadak pusing. Jeselyn membuka kafe di Surabaya setahun lalu dengan kubantu permodalannya. Sejauh ini, usahanya lebih sering jalan di tempat. Beberapa bulan lalu, karena ia nyaris bangkrut, Kak Erik diam-diam menyuntikkan dana ke kafe itu. dan sekarang, modal itu sepertinya sudah menguap lagi digerus kejamnya persaingan bisnis F&B (Food and Beverage).