ASIMTOT

cahyo laras
Chapter #12

Kuli Palugada Kembali Ke Rutinitasnya

Aku sedang membetulkan genteng rumah customer-ku. Gila... hari ini sangat panas sekali, matahari Jakarta rasanya seperti sedang ngajak sparing dengan sinarnya. Keringatku mengucur deras, memedihkan mata dan membasahi kerah kemeja flanelku. Tapi apa boleh buat demi uang. Aku diminta untuk membetulkan genteng yang bocor.

Gila... rumah ini cukup tinggi, ada 3 lantai. Untuk naik ke sini aku harus memanjat manual melalui eternit yang sempit dan pengap, merayap di antara rangka baja ringan seperti cicak. Aroma apak debu plafon bercampur dengan bau tajam cat waterproof yang kubawa menyengat hidung. Aku mengganti genting yang retak dengan genting baru dan melapisinya dengan cat waterproof tebal-tebal.

Tapi masalahnya adalah saat turun. Karena seluruh area waterproof dicat dari luar dan memblokir akses kembaliku ke lubang eternit, aku harus turun manual tanpa tangga.

Mode Kalkulasi: Aktif.

Aku menatap ujung atap lantai tiga ini. Kemiringannya 45 derajat. Cat waterproof abu-abu ini masih sangat basah dan licin; nilai friksinya nyaris nol. Memaksa berjalan di atasnya sama saja dengan mendaftar isekai jalur patah leher.

Aku menyapu pandangan. Di sebelah kanan, ada tiang antena TV parabola yang terpasang di dinding. Di sebelah kiri, ada dahan pohon mangga tetangga berjarak dua meter. Dan di pinggangku, ada tali tambang nilon alat servis sepanjang sepuluh meter.

Otakku memproses skenario teraman. Menggunakan dahan pohon berisiko dahan patah karena berat tubuhku. Antena TV? Bisa copot dan aku jatuh bebas ke aspal. Satu-satunya titik tumpu (anchor point) yang kokoh adalah leher cerobong ventilasi di puncak atap belakangku yang tidak kucat.

Aku mengikatkan ujung tali tambang dengan simpul bowline yang tak akan meleset ke leher cerobong. Ujung tali satunya kulilitkan melewati punggung bawah dan selangkanganku, membuat harness darurat ala pasukan SWAT low-budget. Dengan berpegangan pada tali, aku mulai menuruni genteng licin itu dengan gerakan rappel mundur.

Ngeri-ngeri sedap. Kaki kets kanvasku terus terpeleset cat basah, tapi taliku menahan beban. Aku turun perlahan menyusuri dinding lantai dua. Tinggal melepaskan tali saat mendarat di balkon.

Namun, fisika kadang suka bercanda. Saat aku berayun turun melewati jendela kamar lantai dua, tiba-tiba jendelanya terbuka lebar dari dalam. Seorang remaja laki-laki tanggung yang sedang bermain game Virtual Reality di kamarnya, tanpa sengaja mendorong jendela keluar.

Tubuhku berayun, dan... HAP! Kakiku menyangkut di kusen jendela yang terbuka, membuatku terbalik dengan kepala di bawah seperti kelelawar siang bolong. Tali tambangku tertahan engsel jendela.

Anak remaja yang memakai kacamata VR itu menoleh, melepaskan kacamatanya. Matanya melotot horor melihat seorang pria berlumuran cat abu-abu tergantung terbalik di luar jendelanya.

"Misi, Dek," ucapku cengengesan dari luar kaca, posisi kepalaku di bawah. "Boleh tolong geser dikit jendelanya? Abang nyangkut nih."

Anak itu menjerit kaget, tapi dengan gemetar ia menarik jendelanya sedikit. Aku akhirnya bisa meluncur jatuh ke lantai balkon dengan bunyi debuk yang tidak elit. Pantatku sakit.

Setelah selesai dan berhasil membereskan peralatanku, aku menemui si pemilik rumah di teras bawah.

"Sudah, Pak. Dalam 2 jam waterproof-nya mengering, dan udah ga bocor lagi," kataku sambil mengelap keringat dengan handuk kecil kotor.

"Untuk biayanya berapa, Mas?" tanya bapak-bapak berperut buncit itu.

"Total jasa dengan waterproof dan genteng baru, jadi 250 ribu, Pak," kataku menyebutkan angka yang sangat masuk akal untuk risiko memanjat tiga lantai.

"Wah... mahal banget, Mas. Ga bisa kurang?"

Bangke. Aku paling benci kalau ditawar. Memang harga sparepart dan nyawanya segitu.

"Gak bisa, Pak. Maaf. Itu juga saya pake duit saya dulu untuk beli waterproof dan gentengnya," kataku menahan emosi.

"Saya adanya 100 ribu, Mas. Gimana? Gini aja, saya bayar 100 ribu. Kalau besok-besok bocor lagi, saya panggil Masnya lagi, baru saya bayar sisanya," kata bapak-bapak itu tanpa dosa.

Lihat selengkapnya