ASIMTOT

cahyo laras
Chapter #13

Kuli Palugada dan Pertemuan Kembali dengan Sang Bidadari

RESTORAN AYAM SAMBAL NERAKA PUKUL 20.30

Aku memarkir motor Beat hitamku di parkiran restoran F&B yang sudah sangat sepi. Lampu neon besar logo restoran mulai diredupkan. Aku sengaja memarkir di sudut gelap bersama jejeran motor-motor karyawan. Sial, di antara motor-motor karyawan restoran ini pun, motorku tetap terlihat paling butut, bodinya penuh goresan. Tidak apa-apa. Motor itu adalah saksi bisu perjuanganku menembus aspal Jakarta. Sabar ya, Belalang Hitam, bentar lagi cicilanmu lunas, batinku menepuk sadelnya.

Aku menyapu pandangan. Hanya ada satu mobil sedan mewah terparkir di depan pintu masuk. Pasti ini milik Erik. Syukurlah, mobil Alphard putih yang biasa dinaiki Feby sepertinya belum datang. Aman. Aku harus cepat-cepat masuk, ketemu Erik, scan barcode transferan, lalu pulang.

Aku merapikan kerahku. Aku memakai kemeja flanel lengan panjang kotak-kotak pudar andalanku (aku hanya punya ini untuk pakaian semi-formal, ga mungkin aku menemui CEO pakai kaos oblong partai atau seragam sisa sabun cuci).

Aku melangkah masuk. Restoran ini berupa tiga ruko yang dindingnya dijebol digabung jadi satu. Cukup luas dan nyaman. Pendinginnya menggunakan kombinasi kipas angin blower khusus di beberapa sudut, jadi walaupun desainnya semi-indoor dengan pintu terbuka, udara di dalam terasa sangat sejuk dan sirkulasinya bagus.

Di sudut meja kasir yang temaram, Erik sedang duduk fokus mengetik di MacBook-nya. Begitu melihat siluetku, ia langsung menutup laptopnya, berdiri, dan berlari kecil menghampiriku. Tanpa aba-aba, pria tinggi tegap itu langsung memelukku. Pelukannya bersahabat dan erat.

"Maafin gue ya, Yog, atas kelakuan kami waktu itu. Gue menyesal banget," kata Erik, suaranya benar-benar tulus.

"Ya... gak apa-apa. Santai saja, Rik. Aku ga marah sama sekali kok," jawabku menepuk punggungnya, merasa sedikit canggung dipeluk pria setampan ini.

Setelah pelukan itu, kami duduk berhadapan di salah satu meja kayu panjang. Erik mengeluarkan iPad Pro-nya, berniat membuka rincian kontrak pembayaran.

Ketika dia sedang mengutak-atik layar iPad-nya...

Sebuah sorot lampu LED mobil dari kejauhan memecah kegelapan jalanan, berhenti, dan parkir mulus tepat di depan restoran. Aku melihat dari sudut mataku. Logikaku langsung mencocokkan database visual. Aku kenal siluet mobil itu. Itu mobil Alphard putih yang dulu kacanya kuhancurkan, kini sudah mulus kembali. Aku pernah menyetir mobil itu menembus Alam Sutera.

Jantungku terhentak keras menghantam tulang rusuk. Itu mobil FEBY..!!!

Astaga, bagaimana ini? Mode kaburku gagal.

Tidak berapa lama, pintu otomatis Alphard bergeser terbuka. Feby bersama tiga orang lainnya turun dari mobil. Dari balik kaca restoran, aku bisa melihatnya dengan sangat jelas. Feby tidak memakai baju desainer mahal. Ia tampak memakai kemeja putih sederhana, rok bahan hitam selutut, dan celemek merah. Rambut panjangnya diikat kuncir kuda yang rapi, menyisakan poni tipis yang membelah dahinya. Wajahnya tidak di-makeup berlebihan, sangat natural dan segar.

Sial, dia cantik sekali... batinku menjerit.

Dia mau bikin konten pura-pura jadi waitress kah? Timnya ada dua orang laki-laki (satu membawa tas kamera yang terlihat berat, satu lagi membawa tas properti) dan satu orang perempuan berkerudung mungil yang menenteng koper makeup.

Mereka pun melangkah masuk melewati pintu kaca.

"Kak Erik...!" panggil Feby riang.

Sudah kuduga. Erik disapa terlebih dahulu. Aku mengalihkan pandangan ke layar iPad Erik yang mati, membenci pemandangan yang akan terjadi ini. Apakah mereka akan langsung cipika-cipiki? Tolong, jika memang mau pelukan dramatis, nanti saja setelah aku pulang ke kosan. Setelah aku pergi, terserah mereka mau ngapain di restoran kosong ini. Pelukan, ciuman, atau main hyrox lompat-lompat pun terserah... aku tidak peduli, asal mataku tidak melihatnya langsung.

Feby melangkah mendekat dan menyalami Erik sekilas. Detik berikutnya, mata bulat Feby langsung beralih tajam mengarah ke tempatku duduk.

"Mas Yoga??" panggil Feby, suaranya bergetar karena terkejut. Hehe... auraku memang sepertinya tidak terlihat ya dari tadi? Padahal posisi Erik agak ke dalam, di mana saat Feby berjalan mendekat, ia praktis melewatiku.

"I... iya, Mba Feb," kataku, memaksakan sudut bibirku naik membentuk senyum sekaku kanebo kering. Aku perlahan bangkit berdiri.

"Maafin aku ya, Mas..." Feby melangkah cepat menghampiriku. "Waktu itu aku benar-benar buta dan egois, aku menyesal banget. Mas Yoga kemana aja? Kata Kak Erik, Mas seminggu ini menghilang dari peredaran?" tanya Feby, mengulurkan tangannya untuk menyalamiku.

Feby bertubuh mungil. Ketika aku berdiri tegap, ujung kepalanya hanya sepundakku. Wajahnya menengadah menghadap kepadaku. Matanya yang bulat jernih menatap mataku lekat-lekat. Ia tersenyum, tapi ada jejak penyesalan dan rasa bersalah yang sangat dalam di balik senyumannya.

Aku benar-benar grogi. Skrip di kepalaku berantakan. Otakku, bekerjalah dengan keraaass... tolong jangan nge-blank di momen krusial ini!

Lihat selengkapnya