, aku buru-buru menunduk dan kembali ke mejaku bersama Erik.
"Ada apa, Yog?" tanya Erik, matanya masih menatap layar MacBook.
"Gak apa-apa, Rik. Bantuin timnya Feby dikit beresin lighting," jawabku, menarik kursi.
"Oh, oke. Ini rincian RAB lapangan padel kemarin, dan ini kontrak jasanya. Lu cek dulu, dan kalau oke, langsung tanda tangan di layar iPad ini ya. Segera gue transfer lunas malam ini juga. Oh iya, sekalian ketikin nomor rekeningmu di bawah situ," kata Erik menyodorkan iPad Pro-nya ke arahku.
Aku menerima iPad itu, men-scroll berkas dokumen elektronik tersebut. Rincian material yang kusertakan cocok persis tanpa manipulasi. Namun, saat jariku berhenti di kolom Manajerial & Jasa Ahli, mataku terbelalak lebar. Tanganku mendadak kaku.
Delapan puluh lima juta.
85.000.000. Hei... ini nolnya banyak sekali. Mataku sampai harus menghitung deretan nol itu dua kali untuk memastikan aku tidak salah lihat.
"Ri... Rik.. Erik," panggilku tergagap.
"Mmm?" gumam Erik tanpa menoleh.
"Ini... beneran segini? Ga kebanyakan?" tanyaku menelan ludah.
Erik menoleh, mengangkat sebelah alisnya. "Beneran, Yog. Kenapa? Kurang?"
Otakku ngeblank sesaat. Ini pertama kalinya aku akan mendapatkan cash sebesar itu dalam satu waktu.
"Haha... kurang? Emang mau ditambahin lagi?" tanyaku dengan tawa sumbang, berniat bercanda menutupi insekuritasku.
"Mau tambah berapa, Yog? Digenepin jadi 100 juta?" tawar Erik dengan wajah datar tanpa dosa.
Hah? Otak miskinku ngeblank untuk kedua kalinya. Ringan sekali dia bilang 'digenapin'?! Seumur hidupku, definisi "digenapin" itu ya kembalian seratus dua ratus perak di minimarket yang minta 'didonasikan kak?'. Digenapin dengan ditambah 15 juta??? Uang belasan juta itu bagi Erik mungkin cuma setara recehan kembalian parkir kah?
"Eh... enggak, Rik! Enggak! Gue cuma bercanda tadi," sergahku panik.
"Kalau mau digenepin, genepin aja, Yog... Sante aja kali. Jasamu itu besar banget untuk menyelamatkan bisnis padelku. Kualitas dan keamanan lapangan itu bernilai jauh lebih dari itu," kata Erik dengan santainya, seolah kami sedang berdebat soal harga kacang rebus.
Haaaahhh.... seratus juta itu nolnya delapan lho. Saldo rekeningku seumur hidup belum pernah punya nol lebih dari enam.
"Ga... ga usah, Rik. Segini aja cukup, bahkan ini kelebihan banget," kataku, memegang Apple Pencil dengan tangan gemetar, lalu membubuhkan tanda tangan digital di layar.
"Ini, Rik," aku menyerahkan iPad-nya, setelah mengetikkan nomor rekeningku.
Dengan sangat singkat dan pergerakan jari yang sangat cepat, Erik menekan-nekan iPad-nya, masuk ke aplikasi perbankan.
Lalu...
Cling.
Getaran pendek dan notifikasi dari aplikasi m-banking berbunyi di HP-ku.
Kubuka. Mataku nyaris melompat keluar dari rongganya. Astaga. 100.000.000 IDR ditransfer dari Erik Julian Santoso. Apa ini?? Otakku ngefreeze, loading keras mencerna apa yang baru saja masuk di HP bututku.
"Rik... kenapa ditransfer 100 juta? Kan di surat kontrak itu 85 juta," tanyaku memprotes kebaikannya. Nominal 85 juta itu juga sudah sangat tidak masuk akal bagiku.
"Gak apa-apa, Yog. 15 jutanya anggap untuk bonus karena lu udah menyelesaikan tugasmu jauh lebih cepat dari deadline dan hasilnya sempurna," kata Erik sambil menutup penutup iPad-nya.
"Bo... bonus? 15 juta?? Rik, seumur-umur aku dapet bonus dari customer cuma disuguhin teh manis anget sama ucapan terima kasih. Paling pol dikasih 'Ambil aja kembaliannya, Mas' yang nominalnya dua ribu perak. Udah gitu doang," kataku speechless.
Erik tertawa terbahak-bahak mendengar keluh kesah kasta sudra-ku. Tawanya menggema di restoran yang sepi itu.