Aku mendorong Leo sekuat tenagaku hingga punggungnya membentur dinding bata dekat wastafel. Setelah jarak kami dirasa cukup aman agar suaranya tak terdengar Kak Erik, aku menatapnya dengan dada bergemuruh menahan marah dan takut.
"Leo! Ngapain kamu nyusulin aku sampai ke sini sih?! Aku kan udah bilang di WA kemarin, aku lagi bener-bener ga ada uang!" kataku setengah berbisik, menahan histeris.
"Ga ada uang gimana ceritanya?!" Leo mendengus, bau alkohol murahan menguar dari napasnya. "Gaya lu sekarang udah naik level, Feb. Pacar lu sekarang itu CEO tajir melintir kan? Mobil lu Alphard! Ga mungkin lu ga pegang duit!"
"Kak Erik itu belum jadi pacarku! Kami cuma deket... bukan pacaran resmi! Ga mungkin dan pantang buat aku minta-minta duit ke dia buat ngidupin lu! Please Leo, sisa tabunganku beneran udah nipis banget," kataku memelas, mataku mulai panas.
Leo adalah mantan pacarku. Sekaligus cameraman pertamaku bertahun-tahun lalu, saat duniaku belum secerah ini. Dulu, saat follower Instagram-ku masih ribuan dan follower TikTok masih nyangkut di ratusan biji, aku merintis konten bersama dia.
Kami berpacaran cukup lama, empat tahunan. Jujur, awal aku menerima dia jadi pacarku karena kami memang bestie sejak SMA. Tapi setelah resmi menjadi pacarnya seusai kelulusan, hidupku perlahan berubah menjadi neraka. Leo yang cemburuan berubah menjadi sangat kasar, manipulatif, arogan, dan tak jarang main tangan jika ia sedang moody. Aku bertahan dengan toxic relationship itu murni karena saat itu aku butuh uang dan hanya dia yang mau jadi cameraman dan editor gratisan untuk menunjang mimpiku.
Titik hancurku terjadi empat tahun lalu. Follower-ku stuck dan engagement-ku sangat rendah. Aku hampir menyerah. Leo yang otaknya rusak oleh pergaulan bebas, memaksaku dan menyarankanku untuk mencari uang cepat dengan cara yang paling kubenci: mengunggah foto-foto setengah telanjang untuk dijual eksklusif di sebuah website dewasa berbayar (OnlyFans).