ASIMTOT

cahyo laras
Chapter #16

Kuli Palugada Mengusir Sang Parasit

"Yog, Feby kenapa ya? Dia diomongin apa sama pria teler bernama Leo itu sampai wajahnya pucat pasi nangis begitu?" tanya Erik. Pria mapan di depanku ini mulai gelisah, membenarkan letak duduknya dengan wajah tidak enak, bersiap untuk ikut campur jika ada indikasi kekerasan fisik.

Mataku tidak fokus pada Erik. Sejak Feby menarik Leo ke sudut lorong wastafel, instingku langsung menyala. Otakku masuk ke mode Overdrive.

Mode Analisis: Aktif. Target: Leo.

Saat mereka mengobrol dengan tegang, aku memindai Leo dari ujung rambut hingga sandal jepitnya dari jarak sepuluh meter ini.

Visual: Postur kurus, bahu sedikit membungkuk (indikasi kurang gizi/begadang menahun). Kulit pucat tak terawat. Memakai jersey basket replika palsu (grade KW pasar malam). Tato tribal di lengan kirinya dibuat dengan tinta murahan yang sudah pudar kehijauan (bukan studio tato profesional).

Kendaraan: Yamaha Aerox di depan. Body motor penuh stiker racing kusam, spakbor dipotong asal-asalan. Knalpot bising murahan.

Motorik: Langkah kaki sedikit limbung saat awal masuk tadi. Mata merah (bloodshot eyes), pupil mata membesar (dilated) di bawah cahaya terang neon restoran. Aroma sisa di udara saat dia lewat tadi: Bukan sekadar alkohol murahan. Ada residu bau musky, herbal gosong, sedikit manis menyengat yang menempel kuat di serat kain jersey-nya. Khas bau asap Cannabis sativa. Ganja.

Deduksi Awal: Leo adalah pria dropout miskin yang tidak punya pekerjaan tetap. Tinggal di kos-kosan murah atau apartemen tipe studio kumuh tanpa sirkulasi udara baik (bau asap ganja sangat pekat di bajunya). Ia memeras Feby karena membutuhkan uang cepat, bukan untuk biaya hidup, melainkan untuk menyokong gaya hidup dan kecanduannya pada ganja sintesis atau sabu.

Tampak Leo menyodorkan ponselnya ke wajah Feby. Feby menangis histeris mencoba menutupi layar itu.

Kalkulasi Ancaman: Pemerasan dengan rahasia fatal masa lalu.

Tampak Leo berbalik dengan raut marah dan puas, melangkah pongah mendekati meja kami, diikuti dengan Feby yang berlari kecil di belakangnya dengan panik.

"LEO JANGAN!!! Please..." isak Feby histeris saat pria itu sudah berjarak lima langkah dari meja kami.

Tangan Leo yang kotor merogoh masuk ke dalam saku celananya, bersiap mencabut smartphone-nya. Dia jelas akan menunjukkan sesuatu, dari masa lalu, yang sangat tidak ingin diketahui oleh siapa pun di ruangan ini, terutama Erik.

Waktu di kepalaku melambat. Aku tahu, jika layar HP itu menyala di depan Erik, tidak peduli sehijau apa pun bendera Erik, mental feby akan hancur, aku tidak tahu Erik akan marah atau tidak tapi yang jelas, Feby tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri karena rahasianya terbongkar di depan pria yang ia cintai. Aku harus men- skakmat Leo detik ini juga. Tanpa kekerasan fisik, dan tanpa membuat rahasia Feby terbongkar ke permukaan.

Aku mendorong kursiku hingga berderit keras. Aku berdiri tegak. Sebelum tangan Leo berhasil mengeluarkan HP-nya dari saku, dan saat Feby masih menangis mematung di belakang Leo, aku langsung melangkah maju dan merangkul bahu kurus Leo dengan satu lengan dengan sangat akrab, namun bertenaga.

"Sini, Mas... kita ngobrol bentar sesama cowok," sapaku dengan senyum lebar namun sorot mataku tajam mengunci pupilnya.

Leo terkejut bahunya dicengkeram erat bak capit kepiting. "Woy! Apaan lu?! Lepasin!" ia meronta, tapi lengan besiku mengunci leher dan bahunya, memaksanya berputar menjauhi meja Erik.

"Sebentar aja, Bro. Ada yang mau gue tanyain soal motor Aerox lu di luar," kataku, menyeret paksa langkahnya menjauhi Erik menuju sudut pintu masuk utama yang gelap dan terisolasi.

Feby yang kebingungan, perlahan berhenti menangis dan berjalan pelan mengikuti kami dari jarak beberapa meter.

Setelah kami cukup jauh dari jangkauan pendengaran Erik, aku melepaskan rangkulanku. Aku memojokkan Leo ke pintu kaca yang tertutup.

"Ngapain lu anjing?! Mau jadi pahlawan kesiangan?!" bentak Leo, meraba kembali saku celananya, berniat mengeluarkan senjata rahasianya.

"Tangan lu tetap di luar saku, Leo. Kalau HP lu keluar seinci aja, gue patahin jari lu satu-satu di sini," desisku, suaraku turun satu oktaf, sangat tenang, sangat mematikan.

Leo tersentak mendengar ancaman yang tidak main-main itu. Insting premannya menciut melihat kilat pembunuh bayaran di mata kuli palugada ini.

Aku menatapnya dari ujung rambut hingga sandal jepitnya. Waktunya menunjukkan trik sulap observasi.

"Lu tau, Leo," aku memulai, suaraku mendatar namun cepat. "Dari bau menyengat baju lu, lu tinggal di ruangan sempit, kemungkinan apartemen atau rusun kumuh disektiar sini. Bau Axe murahan ini ga bisa nutupin bau jamur dari kasur lu yang ga pernah dijemur."

Leo membelalak, mulutnya sedikit terbuka. "L-lu ngomong apa bangsat?"

"Dan dari noda kekuningan di sela telunjuk dan jari tengah kiri lu, lu perokok berat, tapi bukan rokok filter biasa. Puntung lintingan. Ditambah lagi, pupil mata lu sekarang melebar, kornea lu memerah, dan keringat dingin lu bau herbal gosong yang sangat spesifik."

Aku mencondongkan wajahku hingga jarak kami hanya sejengkal, aku tau feby berada beberapa meter dariku, dengan nada bicara ini, dia tidak akan begitu mendengar kata-kataku. Leo menahan napas ketakutan melihat mataku yang sehitam jelaga.

"Lu butuh cash cepat malam ini juga karena sesuatu yang ga bisa ditunda kan? Sesuatu yang membuat lu gemetar kalau lu ga pakai," cecarku.

Keringat segede biji jagung mulai menetes dari dahi Leo. Kesombongannya hancur berkeping-keping. Pria berwajah kaku di depannya ini bagaikan iblis yang bisa membaca kartu trufnya bahkan sebelum permainan dimulai.

Feby yang berdiri dua meter dari kami, menutupi mulutnya yang ternganga. Gadis itu tertegun, menatap punggungku dengan mata membulat sempurna, tak percaya apa yang dia lihat, aku membuat Leo sepanik ini.

"L-lu sok tau! Lu ga tau apa yang ada di hape gue! Gue bisa hancurin hidup cewek ini kalau lu macem-macem!" ancam Leo dengan sisa-sisa keberaniannya yang palsu, tangannya kembali bergerak panik ke arah sakunya.

Aku tidak berkedip. Aku memiringkan kepalaku sedikit.

"Mungkin lu punya rahasia memalukan milik Feby," ucapku santai, suaraku mengalun dingin. "Tapi gue tahu satu hal yang Feby nggak tahu, Leo."

Leo membeku. "A-apa?"

"Feby mungkin nggak nyadar aroma apa yang nempel di baju jersey KW lu ini. Tapi penciumanku cukup sensitif untuk ngenalin residu Cannabis Sativa alias Ganja Sintesis yang lu isap setengah jam yang lalu sebelum naik motor ke sini," bisikku pelan, memastikan hanya ia yang mendengarnya.

Lihat selengkapnya