Keesokan harinya, matahari Jakarta terasa sedikit lebih ramah dari biasanya. Aku berdiri di depan teller sebuah perusahaan leasing motor dengan dada yang bergemuruh.
"Ini BPKB aslinya ya, Pak Yoga. Pembayaran sisa cicilannya sudah lunas semua hari ini. Tinggal Bapak urus balik nama saja di Samsat," kata mbak teller itu sambil tersenyum ramah.
Aku menerima buku itu dengan kedua tangan yang sedikit gemetar. Ya Tuhan. Aku benar-benar terharu melihat BPKB ini. Walaupun di lembar pertamanya masih tertera nama pemilik lama, tapi benda ini kini sah milikku. Akhirnya, aku bisa membebaskan Belalang Hitam dari kutukan kredit.
Berkat uang transferan dari Erik semalam, aku langsung melunasi sisa cicilan motor yang mencekik leherku tiap bulan, plus melunasi tunggakan sewa kos yang sudah dikeluhkan ibu kos berminggu-minggu. Hmm... mungkin saja bulan depan aku pindah kos yang agak manusiawi, yang ada jendelanya, atau kipas anginnya ga berbunyi seperti mesin diesel rusak.
Tidak lupa, pagi tadi aku melipir ke ATM untuk mentransfer uang ke Ibuku di kampung. Ibu sampai langsung meneleponku dengan suara panik bercampur menangis. Beliau mengira aku menggunakan pesugihan, karena selama empat tahun aku merantau dan banting tulang di Jakarta, ini pertama kalinya aku mengirimkan uang sebesar dua digit puluhan juta rupiah sekaligus. Aku harus menenangkannya setengah jam penuh, menjelaskan kalau ini murni hasil proyek lapangan olahraga milik bos besar.
Meskipun saldoku sekarang gendut, logikaku tetap membumi. Aku harus tetap berhemat. Uang segini akan cepat menguap kalau aku pakai foya-foya mengikuti gaya hidup ibukota. Tapi setidaknya untuk beberapa bulan ke depan, fondasi keuanganku sangat aman. Aku bisa cari orderan jasa servis dengan lebih santai tanpa harus takut kelaparan besok pagi, bisa menabung, dan mulai sedikit menikmati hidup.
Tapi... sebelum aku benar-benar bisa bernapas lega, ada satu tugas yang harus kuselesaikan.
Satu hal krusial tentang masa lalu Feby. Aku harus menepati janjiku sendiri semalam. Aku harus menghilangkan parasit bernama Leo itu dari hidup Feby selama-lamanya.