ASIMTOT

cahyo laras
Chapter #18

Kuli Palugada Menghancurkan Sang Parasit

Di sebuah siang yang terik, cuaca panas memanggang atap apartemen murah itu.

Tok... tok... tok...

Pintu kamar unit 308 diketuk dengan ritme yang stabil dan pelan.

Di dalam, Leo yang baru saja tertidur pulas usai semalaman berpesta dengan seorang wanita pekerja seks komersial, mengerang kesal. Ia bangkit dari kasurnya yang berantakan, mengenakan celana boxer kusam. Kepalanya pening parah (hangover). Dengan perasaan marah karena tidurnya diganggu, Leo berjalan gontai dan menarik kasar handle pintu.

Pintu terbuka.

Di ambang pintu, berdirilah Yoga. Pria itu mengenakan hoodie hitam yang kupluknya menutupi separuh kepalanya. Tangan Yoga tersimpan santai di dalam saku depan hoodie. Wajah Yoga tersenyum sangat tenang, sedingin es kutub.

"Halo, Leo," sapa Yoga santai. "Masih ingat aku?"

Leo menyipitkan matanya yang masih merah dan berat. "Lu?? Siapa lu, bangsat? Tukang paket?" tanyanya kasar.

"Masih ingat kejadian di restoran Ayam Sambal Neraka beberapa malam lalu?" pancing Yoga, senyumnya sedikit melebar.

Leo terdiam. Otaknya yang teler butuh waktu beberapa detik untuk menggali memori jangka pendeknya. Ketika memori ancaman BNN itu akhirnya loading di kepalanya, raut wajah arogan Leo langsung luntur, berubah menjadi pucat pasi.

"Hah?? Lu?! Si anjing waktu itu!" umpat Leo, melangkah mundur dengan panik. "Ngapain lu kesini?! Tau dari mana tempat gue?!"

Yoga menahan pintu yang hendak dibanting Leo dengan ujung sepatunya yang keras. "Sebaiknya kita masuk ke dalam, Bro. Ga enak ngobrolin urusan BNN dan narkotika di lorong begini. Tetangga pada denger."

"Bangsat! Ini apartemen gue! Pergi lu!"

"Aku tahu saat ini di atas kasurmu masih ada seorang wanita sewaan yang lagi tidur. Suruh dia pakai baju dan keluar, lalu biarkan aku masuk," perintah Yoga, suaranya pelan tapi mutlak. "Atau... aku cukup menekan satu tombol ini untuk memanggil tim reserse narkoba agar mereka langsung mendobrak dan menggeledah speaker TV-mu. Kau akan diseret dengan pasal ganda: pengedar narkoba dan kumpul kebo."

Mendengar Yoga menyebut spesifik tempat persembunyian barang haramnya, jantung Leo serasa copot. Kakinya lemas. Ia sadar, pria ber-hoodie ini bukan menggertak.

Dengan wajah memerah menahan marah dan takut, Leo berbalik. Ia memaki pelacur itu, menyuruhnya cepat-cepat berpakaian dan keluar. Tak lama, seorang wanita cantik dengan riasan berantakan lari keluar dari kamar sambil menutupi wajahnya, melewati Yoga yang hanya menggeser badannya sedikit.

Begitu wanita itu pergi, Yoga melangkah masuk. Santai, seolah memasuki kamarnya sendiri.

Saat Yoga sudah berada di tengah ruangan, Leo dengan cepat membanting pintu apartemennya dan mengunci deadbolt-nya dari dalam. Dengan gerakan memutar yang kilat, Leo meraih sebilah pisau lipat taktis dari atas meja dan menyembunyikannya di balik punggungnya.

"Mau apa lu kemari, hah?!" desis Leo, napasnya memburu.

Yoga menatap sekeliling ruangan yang menjijikkan itu, lalu berbalik kembali menatap Leo.

"Gak apa-apa. Aku kan kuli palugada, aku terbiasa tawar-menawar harga dan borongan dengan customer-ku... Kali ini, aku ada penawaran eksklusif untukmu," kata Yoga dengan tenang, seolah pisau yang disembunyikan Leo itu tak ada artinya.

"Penawaran apa Babi?!"

"Hapus semua aib Feby di semua device-mu. Lupakan namanya, dan jauhi Feby selama-lamanya. Kalau kau setuju, kau akan kulepaskan hari ini," tawar Yoga. "Atau pilihan kedua: aku menolak tawar-menawar. Aku laporkan lokasimu beserta bukti videomu ke BNN siang ini juga. Kau membusuk di penjara belasan tahun, dan nama besar keluarga konglomerat di Surabaya tercoreng habis jadi headline koran. Bapakmu pasti bangga. Pilih mana?"

Leo terperanjat hebat mendengar Yoga menyebut keluarganya. Rahasianya ditelanjangi habis-habisan. "Kamu ini... siapanya Feby, hah?! Intel?!"

"Hanya kenalan biasa saja yang kebetulan peduli," Yoga mengangkat bahu. "Hei, Leo. Jangan buang waktuku. Aku punya puluhan gigabyte rekamanmu lagi ngewe dengan berbagai pelacur di kasur itu. Aku tahu presisi di mana kamu menyembunyikan stok ganja dan sabumu itu. Dan bahkan aku tahu alamat lengkap rumah keluargamu di Surabaya. Memang repot ya jadi anak buangan konglomerat. Sekali namamu bikin ulah masuk berita nasional, kau bukan cuma dicoret dari Kartu Keluarga, tapi kau bisa ditendang permanen dari hak waris pohon keluargamu."

Lihat selengkapnya